T. Ferijal
Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Prediksi Hasil Limpasan Permukaan dan Laju Erosi dari Sub DAS Krueng Jreu Menggunakan Model SWAT T. Ferijal
Jurnal Agrista Vol 16, No 1 (2012): Volume 16 Nomor 1 April 2012
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.071 KB)

Abstract

ABSTRAK. Besarnya limpasan permukaan dan laju erosi Sub DAS Krueng Jreu (SDKJ) Aceh Besar telah diprediksikan dengan menggunakan model hidrologi SWAT. Dalam penelitian ini juga disimulasikan dampak perubahan curah hujan dan tata guna lahan terhadap limpasan permukaan dan laju erosi. Perubahan curah hujan yang disimulasikan adalah peningkatan curah hujan sebesar 5, 10, 15 dan 20% sedangkan untuk perubahan tata guna lahan disimulasikan dengan cara mengkonversikan 5, 10, 15 dan 20% lahan kosong dalam SDKJ menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Kalibrasi model dilakukan dengan membandingkan debit simulasi dengan debit hasil pencatatan pada stasiun debit. Hasil kalibrasi menunjukkan bahwa model SWAT memiliki kinerja yang baik dalam memprediksikan limpasan permukaan dengan nilai parameter kinerja ENS = 0.71; R2 = 0.77 dan PBIAS = 6.30. Hasil simulasi menunjukkan bahwa besarnya erosi yang terjadi sangat tergantung pada besarnya aliran permukaan, semakin tinggi aliran permukaan maka semakin tinggi laju erosi. Peningkatan 1% curah hujan akan meningkatkan 2.4% limpasan permukaan dan 2.3% laju erosi. Setiap perubahan 1% luas lahan terbuka menjadi lahan perkebunan sawit menyebabkan penurunan terhadap aliran permukaan dan laju erosi berturut-turut sebesar 0.2 dan 0.6%.Predicting Runoff and Erosion Rate from Krueng Jreu Subwatershed Using SWAT ModelABSTRACT. The yield of surface runoff and erosion from Krueng Jreu Subwatershed (SDKJ) Aceh Besar were predicted using SWAT model. In this study, impact of precipitation and land use change on surface runoff and erosion were also investigated. Change in precipitation was simulated by increasing 5, 10, 15, and 20% of precipitation while change in land use was simulated by converting 5, 10, 15, and 20% of existing short grass area into palm oil plantation. Model calibration was performed by comparing simulated and observed discharge. Calibration result suggested that model has good performance with ENS = 0.71; R2 = 0.77 and PBIAS = 6.30. Erosion rate highly depends on surface runoff, the more surface runoff the higher rate of erosion. Increasing 1% of precipitation produced an increase in 2.4% of surface runoff and 2.3% of erosion rate. Converting 1% of short grass area into palm oil plantation caused a decrease in surface runoff and erosion rate by 0.2% and 0.6%, respectively.
Efisiensi Penyaluran Air Irigasi BKA Kn 16 Lam Raya Daerah Irigasi Krueng Aceh Andriani Asarah Bancin; Dewi Sri Jayanti; T. Ferijal
Rona Teknik Pertanian Vol 8, No 1 (2015): Volume 8, No. 1, April 2015
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v8i1.2684

Abstract

Abstrak. Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh memiliki jaringan irigasi permukaan teknis untuk mengairi 7.450 ha lahan sawah di Kabupaten Aceh Besar. Peningkatan tekanan pada sumber daya air yang tersedia untuk irigasi dan kebutuhan lainnya, terutama selama musim kemarau, membutuhkan jaringan irigasi yang memiliki efisiensi yang tinggi untuk menyalirkan air irigasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penyaluran dan jumlah kehilangan air di saluran sekunder dan tersier dari jaringan irigasi pilihan yaitu Jaringan Lam Raya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penyaluran rata-rata untuk BKA Kn 16 Lam Raya adalah 52,47%. Rata-rata kehilangan air dan efesiensi penyaluran air di saluran sekunder berturut-turut adalah 0.048 m3/dtk dan 81,11%. Kehilangan tersebut disebabkan oleh penguapan 2,73 x 10-7 m3/dtk, rembesan 0,00212 m3/dtk dan faktor lainnya 0,04548 m3/dtk. Kehilangan air rata-rata di saluran tersier adalah 0.01 m3/dtk yang merupakan kehilangan akibat adanya penguapan 5,046 x 10-8 m3/dtk, rembesan 0,00033m3/dtk dan faktor lainnya 0,00994 m3/dtk. Hal tersebut menyebabkan efisiensi penyaluran air di saluran tersier sekitar 71,88%. Namun, kinerja jaringan irigasi masih dikategorikan baik karena memiliki efisiensi penyaluran air yang lebih besar dari 60%. Kehilangan air di saluran tersier sebagian besar disebabkan oleh banyak bagian dinding dan dasar saluran yang rusak, dan adanya vegetasi dan sedimen pada saluran yang memperlambat aliran air. Conveyance Efficiency Of Irrigation Water At BKA Kn 16 Lam Raya Krueng Aceh Irrigation Area Abstract. Krueng Aceh Watershed has technical surface irrigation network to irrigate 7.450 ha of paddy fields in Aceh Besar District. Increasing pressure on available water resources for irrigation and other needs, particularly during dry season, requires an irrigation network having a higher level of efficiency to deliver irrigation water. This study aims to determine the delivery efficiencies and amount of water loss in secondary and tertiary channels of selected irrigation network. Lam Raya network was selected for the study area. Results showed that average delivery efficiency for BKA Kn 16 Lam Raya was 52.47%. The average water loss and water delivery efficiency in secondary channel were 0,048 and 81,11%, respectively. The loss was caused by evaporation 2.73 x 10-7 m3/s, seepage 0.00212 m3/s and other factors 0.04548 m3/s. The average water loss in tertiary channels was 0,01 m3/s contributed by losses from evaporation 5.046 x 10-8 m3/s, seepage 0.00033 m3/s and other factors 0.00994 m3/s. It caused tertiary channel's water delivery efficiency was approximately 71,88%. However, performance of irrigation network was classified as good since it has water delivery efficiency greater than 60%.  Water loss in tertiary channel largely due to many parts of wall and base of the channels were broken, and the presence of vegetation and sediment in the channel slowed the water flow.
Aplikasi Model SWAT Untuk Mensimulasikan Debit Sub DAS Krueng Meulesong Menggunakan Data Klimatologi Aktual Dan Data Klimatologi Hasil Perkiraan T. Ferijal
Rona Teknik Pertanian Vol 6, No 1 (2013): Volume 6, No. 1, April 2013
Publisher : Department of Agricultural Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/rtp.v6i1.912

Abstract

ABSTRAK. Model hidrologi Soil and Water Assessment Tool (SWAT) telah digunakan untuk mensimulasikan debit Sub DAS Krueng Meulesong yang terletak di Kabupaten Aceh Besar menggunakan data klimatologi aktual dan data klimatologi prediksi. Data klimatologi aktual diperoleh dari stasiun klimatologi terdekat sedangkan data prediksi merupakan data hasil perkiraan dari Climate Forecast System Reanalysis (CFSR) yang dilaksanakan oleh National Centers for Environmental Prediction/Environmental Modeling Center (NCEP/EMC) yang tersedia di 4 stasiun di sekitar Sub DAS. Pada awalnya model mensimulasikan debit dari Sub DAS menggunakan input data klimatologi aktual yang hasilnya dikalibrasikan dengan data debit tercatat pada pos duga air. Model dengan parameter terbaik kemudian digunakan untuk mensimulasikan tiga skenario simulasi menggunakan data input klimatologi hasil prediksi, adapun skenarioskenario tersebut adalah (1) data dari satu stasiun terdekat, (2) data dari dua stasiun terdekat dan (3) data dari empat stasiun terdekat. Hasil kalibrasi model menunjukkan bahwa model memiliki kinerja cukup baik dengan nilai koefisien determinasi 0.67 dan koefisien Nash-Sutcliffe 0.37. Aplikasi data klimatologi hasil prediksi menunjukkan bahwa, data prediksi dari satu stasiun terdekat menghasilkan kinerja model yang lebih baik. Sementara itu semakin banyak stasiun yang digunakan sebagai input data akan menghasilkan hasil simulasi yang semakin mendekati hasil simulasi dengan menggunakan data aktual.SWAT Model Application To Simulate Discharge From Krueng Meulesong Sub Watershed Using The Actual And Predicted Climatological DataABSTRACT. The Soil and Water Assessment Tool (SWAT) hydrological model was used to simulate discharge from Krueng Meulesong subwatershed located in Aceh Besar District using actual and predicted climatological data. The actual data were collected from the nearest local meteorological station while the predicted data was the results of Climate Forecast System Reanalysis (CFSR) completed by National Centers for Environmental Prediction/Environmental Modeling Center (NCEP/EMC) through four stations located around the subwatershed. The model was initially developed using actual data and then calibrated with observed streamflow data. The best model then was rerun using 3 scenarios of predicted data i.e. (1) data from the nearest station, (2) data from average of the two nearest stations and (3) data from average of four nearest stations. The model performance was categorized into satisfactory with determination and Nash-Sutcliffe coefficients were 0.67 and 0.37, respectively. Comparing the model performance resulted from predicted data suggested that using the nearest station data would produce a better model performance. Meanwhile, incorporating more predicted data stations around subwatershed would cause the model to produce simulated streamflow similar to the streamflow using the actual data.