Edward Edward
Research center for oceanography, Indonesia Institute of Sciences

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Penilaian pencemaran logam berat dalam sedimen di Teluk Jakarta Edward Edward
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.3.16800

Abstract

Contamination and pollution of heavy metals in the bottom sediment can pose serious issues to marine organisms and human health. Jakarta Bay which is located adjacent to the capital city of Indonesia is notorious for its pollution problems. The purpose of this research was to assest the contamination levels of heavy metals Hg, Pb, and Cd in sea-bottom sediments based on an index analysis approach (contamination factors, geo accumulation index, pollution load index). Sediment samples were collected from 31 stations in Jakarta Bay. Heavy metal concentration was measured using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The results showed that an average mercury (Hg) concentration ranged from 0.150 to 0.530 µg.g-1 with an total average of 0.362 µg.g-1, Lead (Pb) from 14.870 to 35.650 µg.g-1 with an total average of 21.774 µg.g-1, Cadmium (Cd) 0.110-0.280 µg.g-1 with an total average of 0.190 µg.g-1.The average concentration of Hg, Pb, and Cd is still lower than the sediment quality threshold values set by the Office of the State Minister of Environment of Indonesia  2010. The results of the index analysis showed that the average value of contamination factor (CF) are Hg 0.685, Pb 0.558, and Cd 0.380 respectively (low contamination) and geo accumulation index values are Hg 0.237, Pb -1.655, and Cd 0.069 respectively (unpolluted to moderate polluted). Overall, based on the pollution load index value is -0,511 (PLI 1), sediments in these waters are categorized as not yet polluted by Hg, Pb and Cd. This situation  is so necessary to be maintained, that in order for the preservation of marine resources will remain.Keywords: Jakarta Bay, sediment, pollution, heavy metals, assessmentABSTRAKKontaminasi dan pencemaran logam berat pada sedimen dasar dapat menimbulkan masalah yang serius bagi biota laut dan kesehatan manusia. Teluk Jakarta yang terletak berdekatan dengan ibu kota Indonesia terkenal karena masalah pencemarannya yang parah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai tingkat kontaminasi logam berat Hg, Pb dan Cd dalam sedimen dasar laut berdasarkan pendekatan analisis indeks. Contoh sedimen diambil dari 31 stasiun penelitian di Teluk Jakarta. Kadar logam berat diukur dengan alat Spektrofometer Penyerapan Atom. Hasil penelitian menunjukkan kadar Hg rerata berkisar 0,150-0,530 µg. g-1 dengan rerata total 0,362 µg. g-1, Timbal (Pb) 14,870-35,650 µg. g-1 dengan rerata total 21,774 µg. g-1, Kadmium (Cd) 0,110-0,280 µg. g-1 dengan rerata total 0,190 µg.g-1. Kadar rerata Hg, Pb dan Cd masih lebih rendah dari nilai ambang batas kualitas sedimen yang ditetapkan oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Indonesia 2010. Hasil analisis indeks menunjukkan nilai rerata faktor kontaminasi (CF) berturut-turut adalah Hg 0,685, Pb 0,352 dan Cd 0,380 (kontaminasi rendah) dan nilai indeks geo akumulasi berturut-turut adalah Hg 0,227, Pb 1,098 dan Cd 0,633 (tidak tercemar sampai tercemar sedang). Secara keseluruhan, berdasarkan nilai indeks beban pencemaran yakni -3.772 (PLI 1), sedimen di perairan ini termasuk kategori belum tercemar oleh Hg, Pb dan Cd. Keadaan ini perlu dipertahankan, agar kelestarian sumberdaya laut tetap terjaga.Kata kunci: Teluk Jakarta, sedimen, pencemaran, logam berat, penilaian
Kajian awal kadar merkuri (Hg) dalam ikan dan kerang di Teluk Kao, Pulau Halmahera Edward Edward
Depik Vol 6, No 3 (2017): December 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.3.7748

Abstract

The aim of the study was to determine the concentration of Hg  in some species of fish and mussels harvested from Kao Bay . Fish and mussels samples were purchased from fishermen at Kao Bay  in November 2015. The Hg concentration was measured by using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS).The results showed that the highest concentration of Hg was found in gurara fish (Nemipterus japonicus)  that is 0.98 ppm, followed by suo fish  (Sphyraena jello)  0.89 ppm,  tatameri fish (Gazza minuta)  0.38 ppm, gaca fish (Lutjanus argentimaculatus) 0.31 ppm, totodi fish (Synodus foetens)  0.24 ppm,  bubara fish (Caranx sp) 0, 19 ppm, ngafi fish (Stolephorus indicus) 0.19 ppm and biji nangka fish (Upeneus vittatus) 0.15 ppm. In the shelfish meat, the highest concentration of Hg is found in the blood mussels (Anadara granosa), that is 0.42 ppm, and then followed by papaco (Telescopium telescopium) 0.05 ppm. The concentration of Hg in all samples of fish and shelfish were below from the threshold value for seafood fish and shellfish of 0.5 ppm and 1.0 ppm, respectively.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Hg dalam beberapa jenis ikan dan kerang yang ada di Teluk Kao dalam kaitannya dengan kesehatan makanan hasil laut. Contoh ikan dan kerang di beli dari nelayan di Teluk Kao pada bulan November 2015. Kadar Hg  diukur dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS). Hasilnya menunjukkan kadar Hg tertinggi dalam ikan dijumpai dalam daging ikan gurara (Nemipterus japonicus) yakni 0,98 ppm, selanjutnya diikuti oleh ikan suo (Sphyraena jello) 0,89 ppm, ikan tatameri (Gazza minuta) 0,38 ppm, ikan gaca (Lutjanus argentimaculatus) 0,31 ppm, ikan totodi (Synodus foetens) 0,24 ppm, ikan bubara (Caranx sp) 0,19 ppm, ikan ngafi (Stolephorus indicus)  0,19 ppm, dan ikan biji nangka (Upeneus vittatus) 0,15 ppm. Dalam daging kerang kadar Hg tertinggi dijumpai dalam kerang darah (Anadara granosa) yakni 0,42 ppm selanjutnya dikuti oleh kerang papaco (Telescopium telescopium) 0,05 ppm. Kadar Hg dalam semua contoh ikan dan kerang masih di bawah nilai ambang batas kadar yang diperkenankan dalam  makanan hasil laut yakni 0,5 ppm untuk ikan dan 1 ppm untuk kekerangan.