Windra Humang
Universitas Andi DJemma

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimalisasi Jaringan Logistik Udara Di Pegunungan Tengah Provinsi Papua Berdasarkan Aanalisis ANT Colony System Windra Humang
Warta Penelitian Perhubungan Vol. 28 No. 4 (2016): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/warlit.v28i4.594

Abstract

Pola jaringan transportasi logistik di Provinsi Papua masih memiliki tantangan yang besar. Berbagai faktor penyebabnya diantaranya keterbatasan jaringan prasarana dan pelayanan transportasi, pola penyebaran penduduk yang terpencar-pencar, kondisi geografi, topografi serta cuaca. Tujuan penelitian ini adalah analisis pola distribusi logistik udara di Pegunungan Tengah, dan rute pelayanan angkutan barang yang efektif berdasarkan model ant colony system. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini menggunakan tiga metode yaitu analisis pola distribusi dan rantai pasok, analisis prediksi permintaan muatan barang, dan analisis Jaringan Distribusi dengan pendekatan Ant Colony System (ACS). Hasil analisis menunjukkan bahwa saat ini distribusi logistik di wilayah selatan Provinsi Papua masuk melalui Pelabuhan Pomako Timika, kemudian melewati tahap bongkar muat dan diangkut ke Bandar Udara Mozes Kilangin menggunakan transportasi darat. Barang tersebut diangkut melalui transportasi udara dengan menggunakan pesawat perintis jenis twin otter, pilatusdan caravanke wilayah Pegunungan Tengah. Kebutuhan muatan barang di Pengunungan Tengah rata-rata sebesar 413.531 kg per bulan. Angkutan udara eksisting berupa penerbangan perintis di nilai sudah tidak efisien karena biaya yang dibutuhkan sangat mahal mencapai Rp. 24.000 – Rp. 35.000 per kg. Ditemukan 3 jaringan yang cocok untuk diterapkan yaitu: Rute 1 : Timika  Tigi  Paniai Timur  Homeyo Biandoga  Supaga  Timika, Rute 2 : Timika  Ilaga  Beoga  Agadugume Doufu  Wangbe  Sinak  Timika, dan Rute 3 : Timika Mapenduma  Keeyam  Dekai  Timika.
Analisis Bangkitan Transportasi Laut Di Pelabuhan Tanjung Ringgit Kota Palopo Windra Humang
Jurnal Penelitian Transportasi Laut Vol. 19 No. 2 (2017): Jurnal Penelitian Transportasi Laut
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/transla.v19i2.486

Abstract

Potensi komoditi unggulan dari wilayah hinterland, menjadikan Pelabuhan Tanjung Ringgit berpotensi menjadi simpul transportasi laut yang penting di Sulawesi Selatan. Oleh sebab itu, perlu diketahui berapa besar bangkitan transportasi laut baik general cargo maupun petikemas yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Penelitian ini tergolong penelitian kuantitatif. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis LQ dan analisis regresi berganda.Hasil analisis menunjukkan Potensi komoditi unggulan wilayah hinterland Pelabuhan Tanjung Ringgit berupa hasil pertanian berupa beras, jagung, ubi kayu, ubi jalar kedelai, kacang tanah dan kacang hijau, hasil perkebunan berupa kakao serta hasil CPO dari kelapa sawit. Rata-rata tingkat pertumbuhan arus barang general cargo di Pelabuhan Tanjung Ringgit sebesar 8% pertahun. Hasil prediksi bongkar muat barang general cargo memperlihatkan volume barang tahun 2020 mencapai 459,735 ton, tahun 2025 mencapai 559,894 ton, tahun 2030 mencapai 684,485 ton dan tahun 2035 mencapai 839,940 ton. Sedangkan untuk volume bongkar muat petikemas, rata-rata pertumbuhan mencapai 10% pertahun, hasil prediksi bongkar muat petikemas tahun 2020 mencapai 3.764 TEUs, tahun 2025 mencapai 5.441 TEUs, tahun 2030 mencapai 7.902 TEUs dan tahun 2035 mencapai 11.530 TEUs.