Liza Salawati
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENYAKIT AKIBAT KERJA DAN PENCEGAHAN Liza Salawati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Sumber daya manusia sebagai tenaga kerja dalam  perusahaan tidak terlepas dari adanya masalah yang berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Kejadian Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) di Indonesia tahun 2011 tercatat 96.314 kasus dengan korban meninggal 2.144 orang dan cacat 42 orang. Pada tahun 2012 kasus PAK dan KAK meningkat menjadi 103.000 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di Indonesia belum berjalan dengan baik.Masalah K3 tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab dari semua pihak terutama pengusaha, tenaga kerja dan masyarakat. Pelaksanaan SMK3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari PAK dan KAK, pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Abstract. Human resources as labor in the company is not separated from the problems associated with the Occupational Health and Safety (OHS). Occupational disease and occupational accident  in Indonesia on 2011 recorded 96 314 cases with 2,144 deaths and disabled people 42 people. In 2012 the case of occupational disease and occupational accident increased to 103,000 cases. This indicates that the application of the occupational safety and health management system in Indonesia has not been going well. OHS problem is not just the responsibility of the government but the responsibility of all parties, especially employers, workers and the public. The occupational safety and health management system  implementation is one of the efforts to create a workplace that is safe, healthy, free from environmental pollution so as to reduce and or free of the occupational disease and occupational accident  , can ultimately improve efficiency and productivity. 
TINGKAT KEPUASAN PASIEN JAMKESMAS DI RUANG RAWAT INAP PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH Liza Salawati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Telah dilakukan penelitian deskriptif mengenai Tingkat Kepuasan Pasien Jamkesmas di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien Jamkesmas dalam menerima pelayanan kesehatan di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin. Penelitian ini dilakukan terhadap 28 responden yang seluruhnya adalah pasien Jamkesmas yang dirawat di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUDZA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 28 responden, 50% menyatakan puas terhadap pelayanan kesehatan di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUDZA, 50% menyatakan kurang puas. Kualitas pelayanan yang diberikan 57,14%  baik, kinerja (performance) petugas kesehatan 57,14% baik, komunikasi antara petugas kesehatan dengan pasien 64,29% baik, serta prosedur administrasi dalam menggunakan jamkesmas sebagai sumber biaya perawatan 75% mudah. Abstract. A descriptive study about   Jamkesmas Patient’s Satisfaction in Hospitalization  Room of Interna Department General Hospital dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. The goal of this research is to know the Jamkesmas patient’s satisfaction in receiving service health care. This research had been conducted to 28 responders which are entirely the Jamkesmas patients whom hospitalized in Hospitalization Room of Interna Department RSUDZA . Research result shows counted that from 28 responders, 50% were satisfied with the health care  in Hospitalization Room of Interna Department RSUDZA, 50% were unsatisfied. Based on service quality 57,14% good, Based on performance 57,14% good, Based on communication with patients 64,29% good, , Based on  administration procedur of  Jamkesmas 75% easy.
ISOLASI, IDENTIFIKASI DAN UJI RESISTENSI ANTIBIOTIKA MIKROORGANISME DARI SPUTUM PENDERITA BATUK KRONIS Azwar Azwar; Liza Salawati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v12i1.3486

Abstract

Abstrak. Pemeriksaan sputum secara bakteriologik sangat penting dalam diagnosis etiologi berbagai penyakit pernafasan. Selain pemeriksaan berdasarkan warna, bau dan adanya darah, namun juga terhadap pola pertumbuhannya sehingga dapat mengungkapkan adanya mikroorganisme penyebab batuk kronis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis mikroorganisme dalam sputum penderita batuk kronis dan menentukan jenis mikroorganisme resisten antibiotika.Penelitian ini akan dilaksanakan dari bulan April sampai Desember 2010, di Laboratorium Mikrobiologi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengamatan langsung terhadap hasil kultur dan identifikasi mikroorganisme yang meliputi isolasi mikroorganisme dan identifikasi mikroorganisme baik secara makroskopis maupun mikroskopis. Identifikasi mikroskopis dilakukan melalui pewaranaan Gram, pewarnaan BTA dan identifikasi lanjut. Sampel sputum dikultur dalam media Nutrient Agar (NA), media Mac Agar Conkey (MAC), media Agar Darah (AD), media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dengan menggores (streak), lalu diinkubasi pada suhu 370c selama 24 jam, kemudian mikroorganisme yang tumbuh dilakukan kultur sekunder untuk mendapatkan isolat murni, pewarnaan Gram dan  identifikasi lanjut melalui uji katalase dan uji koagulase. Selanjutnya dilakukan uji resistensi mikroorganisme terhadap berbagai jenis antibiotika.Hasil pemeriksaan pada 100 sampel diperoleh bahwa, 66% merupakan BTA (+)  dengan persentase pada pria yaitu 72,73% dan pada wanita yaitu 27,72%. Dari hasil isolasi tersebut juga diidentifikasi 33% bakteri patogen yaitu Klebsiella pneumoniae 27,5%, Staphylococcus aureus 22,25%, Acinetobacter 15%, Pseudomonas aeroginosa 12,5%, Streptococcus sp 10%, Streptococcus viridans 5%, Enterobacter 2,5%, Klebsiella ozaenae 2,5% dan Staphylococcus sp 2,5%. Abstract. Bacteriological examination of sputum is very important in the etiologic diagnosis of respiratory diseases. In addition to examination by color and presence of  blood, butal soon its growth pattern so as to reveal the presence of microorganisms that cause chronic cough. The purpose of this study was to determine the types to microorganisms in patients with chronic cough and sputum determine the type of antibiotic resistant microorganisms.The research was conducted from April to December 2010, at the Laboratory of Microbiology Zainal Abidin Hospital. The research was carried out by the method of direct observation of the culture and identification of microorganisms that includes microorganism isolation and identification of microorganisms, both macroscopically and microscopically. Microscopic identification was done through Gram staining,  BTA staining and identification more information. Sputum samples was culture Nutrient Agar (NA), Mac Conkey Agar (MAC),  Agar Blood (AD),  Sabouraud Dextrose Agar (SDA) to (streak), and then incubated at 37°C, for 24 hours, then the microorganisms growing secondary cultures taken to obtain pure isolates, Gram staining and identification in formation by  the catalase test and coagulase test. Test was then performed resistance of microorganisms to various antibiotics.Test results on 100 samples obtained that, 66%  were sputum smear (+) with the percentage of 72.73%  in men and in women is 27.72%. From the results of isolation were also identified 33% of pathogenic bacteria that was  27.5% Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus 22.25%,  of Acinetobacter 15%, Pseudomonas aeroginosa 12.5%, Streptococcus sp 10%, 5% Streptococcus viridans, Enterobacter 2.5 %, 2.5% ozaenae klebsiella and Staphylococcuss sp 2,5 %.
PENYAKIT AKIBAT KERJA OLEH KARENA PAJANAN SERAT ASBES Liza Salawati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

World Health Organization memperkirakan 125 juta orang telah terpapar asbes akibat pekerjaan mereka dan menyebabkan 90 ribu kematian setiap tahunnya. Indonesia merupakan negara terbesar ke-8 sebagai importir, prosesor, konsumer serta eksporter asbes dan materialnya. Selama periode 2000-2004, penggunaan asbes meningkat 20%. Sepanjang tahun, asbes selalu tersedia di Indonesia dan merupakan salah satu material termurah serta produk terpilih bagi banyak pelanggan. Lebih dari 7.700 pekerja dipekerjakan pada industry pemprosesan asbes, pekerja tersebut berisiko terpapar dengan serat asbes. Bila serat asbes terhirup merupakan risiko kesehatan serius yang dapat menyebabkan penyakit mesotelioma, kanker paru dan asbestosis. Akumulasi yang berkelanjutan dari serat tersebut mengakibatkan terjadinya jaringan parut pada paru dan sesak nafas. Tidak ada terapi untuk menghilangkan efek dari asbes pada alveoli. Terapi hanya berfokus pada pencegahan perburukan penyakit dan mengurangi gejala. Oleh karena itu pencegahan sangat penting dalam mencegah timbulnya asbestosis.