Fitria Fitria
Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUD dr. Zainoel Abidin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TERAPI KOMBINASI MICRONEEDLE DAN PLATELET RICH PLASMA PADA SKAR AKNE Fitria Fitria
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v13i1.3432

Abstract

Abstrak. Skar akne adalah jaringan parut yang terjadi karena proses penyembuhan akne terganggu sehingga menyebabkan kelainan tekstur dan warna kulit. Skar akne dapat berpengaruh pada aspek psikologi dan sosial penderitanya sehingga penatalaksanaan yang memberikan hasil memuaskan sangat diperlukan. Terapi microneedle menyebabkan trauma kecil pada dermis akan merangsang pembentukan kolagen dan akan mengisi cekungan pada skar atrofik dengan pelepasan beberapa growth factors, selain itu dapat meningkatkan absorpsi platelet rich plasma (PRP) yang diaplikasi setelahnya yang juga mengandung berbagai macam growth factors (GF) seperti platelet derived growth factors (PDGF) dan transforming growth factors (TGF) yang bermanfaat untuk regenerasi jaringan serta memperbaiki skar atrofik. Evaluasi terapi skar akne dapat dilakukan dengan penilaian tingkat kedalaman skar dengan menggunakan program FSIA (facial skin imaging analysis) yaitu mengukur tingkat kedalaman skar yang ditangkap oleh kamera digital. Pada semua kasus yang dilakukan terapi ini menunjukkan penurunan tingkat kedalaman skar dan tidak didapatkan efek samping pada penderita. Abstract. Acne scar is the scar tissue that occurs because of impaired healing process of acne causing abnormalities of skin texture and color. Acne scars can affect the psychological and social aspect, so that the management of patients should gives satisfactory results is needed. Microneedle therapy causes little trauma to the dermis that will stimulate collagen formation and fill the hollows in atrophic scars with the release of several growth factors, and it can increase the absorption of platelet rich plasma (PRP) are applied afterwards which contains a variety of growth factors (GF) such as platelet derived growth factors (PDGF) and transforming growth factors (TGF) that useful for tissue regeneration and repair atrophic scars. Evaluation of acne scars treatment can be done with the depth of scar assessment using FSIA (facial skin imaging analysis) program which measures the depth of scars that were captured by a digital camera. In all cases that were done this therapy showed a decrease in the level depth of scars and side effects in all of the patients were not found.
ASPEK ETIOLOGI DAN KLINIS PADA URTIKARIA DAN ANGIOEDEMA Fitria Fitria
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Urtikaria adalah penyakit kulit yang ditandai dengan rasa gatal disertai eritema dan edema pada dermis superfisial. Lesi urtika cepat timbul dan hilang perlahan dalam 1-24 jam. Angioedema merupakan urtikaria yang terjadi  pada dermis bagian bawah atau subkutis, ditandai dengan rasa nyeri, sering mengenai wajah dan membran mukosa, serta lesi hilang perlahan dalam 72 jam. Banyak faktor penyebab dan variasi gejala klinis pada urtikaria dan angioedema sehingga untuk memudahkannya dibuat klasifikasi berdasarkan aspek etiologi dan klinisnya. Klasifikasi ini juga sangat bermanfaat dalam penatalaksanaan urtikaria dan angioedema. Abstract. Urticaria is a skin disease which characterized by a wheal-and-flare reaction in the superficial dermis that is tipically pruritic. The lesions of urticaria arise suddenly and slowly disappear within 1-24 hours. Angioedema is urticaria that occurs in the deep dermis or subcutaneous tissue, commonly affects on the face and mucous membranes, may be painful, and the lesions gradually disappeared within 72 hours. Classification based on etiology and clinical aspects of urticaria and angioedema are made to facilitate the management of this diseases.