Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KOMUNIKASI POSITIF SEBAGAI SARANA UNTUK MENINGKATKAN PENYERAPAN BAHASA LISAN ANAK USIA DINI Anita Afrianingsih
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/tarbawi.v13i2.589

Abstract

Language as a means of education is very important to develop the nature, sika, and character of early childhood. The choice of words and the style of language used in communication can provide psychological effects to children because they are very unique, egocentric and sensitive personalities. This article places on the use of positive communication used by educators as well as parents to communicate with children. After critically discussing inappropriate words, phrases and sentences for early childhood, articles suggest words, phrases, and sentences (positive language) that can have a positive effect on their development. To conclude the discussion, recommend certain words, phrases, and sentences to avoid and minimize the use of negative language komusikasi with more optimal.. Keywords: Positive Communication, Language, and ChildhoodBahasa sebagai sarana pendidikan sangat penting untuk mengembangkan sifat, sika, dan karakter anak usia dini. Pilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan dalam komunikasi dapat memberikan efek psikologis kepada anak-anak karena mereka sangat adalah pribadi yang unik, egosentris dan sensitif. Artikel ini menempatkan pada penggunaan komunikasi positif yang digunakan oleh pendidik maupun orangtua untuk berkomunikasi dengan anak-anak. Setelah dibahas secara kritis kata-kata yang tidak pantas, frase, dan kalimat untuk anak-anak usia dini, artikel mengusulkan  kata-kata, frase, dan  kalimat (bahasa positif) yang dapat memberikan efek positif bagi perkembangan mereka. Untuk menyimpulkan diskusi, merekomendasikan kata-kata tertentu, frase, dan kalimat untuk menghindari dan meminimalisir penggunaan komusikasi bahasa negatif dengan lebih optimal. Kata kunci: Komunikasi Positif, Bahasa dan Anak Usia Dini
Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw Sebagai Sarana Untuk Problem Solving Bagi Mahasiswa Pada Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Muhammad Misbahul Munir; Anita Afrianingsih
JANACITTA Vol. 2 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.208 KB) | DOI: 10.35473/jnctt.v2i2.223

Abstract

The objectives of this study are: 1) to know the implementation of the Jigsaw learning model that is used as a means for problem solving for students in educational science courses, 2) To measure the success rate of implementing the Jigsaw learning model that is used as a means for problem solving education science courses, 3) To find out student responses related to the implementation of the Jigsaw learning model that is used as a means for problem solving for students in educational science courses. This research method applies an experimental method with a type of non-equivalent control group design in answering the research problem formulation. The research location was at the Nahdlatul Ulama Islamic University of Jepara, with a population of 30 students. Data analysis techniques used to calculate the results of research using t-test (paired sample t-test and independent sample t-test). Instruments for collecting data using observation and questionnaires. The results of this study include: 1) the continued impact of this is a different level of understanding between active students and students who are passive in completing tasks / problems. active students will of course be better able to master the material, whereas students who are passive will find it difficult to carry out the material by using learning models like this (problem solving). This is indicated by the value of learning outcomes, observation sheet data problem solving process shows that 71% of students in meetings II and II, and 76% of students at meetings IV and V can attend learning well; 2) Based on the statistical data generated, it can be concluded that the initial capability data of the 3 classes of 2PGSD A.1 has identical means (not significantly different) because Sig. (0.232)> 0.05, and F count (1.479) < T table (3,072); and 3) students taught by using the Jigsaw learning model that is used as a means for problem solving for students in Educational Sciences courses can be setup cooperatively to provide higher learning outcomes compared to students taught with classical learning models as a means for problem solving that is set individually. This proves that the Jigsaw learning model through problem solving activities can provide strength that is able to support the improvement of learning outcomes and critical thinking skills and build an active role for student learning.
Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Meningkatkan Nutrisi melalui Islamic Education Parenting Dewi Pratiwi; Anita Afrianingsih; Mufid Mufid
KUAT : Keuangan Umum dan Akuntansi Terapan Vol 6 No 1 (2024): Edisi Maret
Publisher : Politeknik Keuangan Negara STAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31092/kuat.v6i1.2657

Abstract

Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melatih para guru PAUD dan wali murid PAUD untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengasuhan sesuai syariat Islam dan mampu memaksimalkan tumbuh kembang anak dengan meningkatkan nutrisi untuk anak, terutama di RA Muslimat NU Imaduddin Hadiwarno Kudus. Adapun metode pelaksanaannya meliputi sosialisasi pengasuhan anak dalam Islam, tumbuh kembang anak, nutrisi untuk anak, pencegahan dan penanganan stunting dalam blended workshop oleh empat narasumber dalam 3 hari. Selanjutnya tim pengabdi memberikan kesempatan bagi guru dan juga wali murid untuk bertanya dan berkonsultasi kepada narasumber. Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat yang telah dilaksanakan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama yaitu pemaparan materi pengasuhan anak dalam Islam, tumbuh kembang anak, nutrisi untuk anak, pencegahan dan penanganan stunting. Tahap kedua yaitu yaitu tanya jawab terkait pengasuhan dan gizi. Tahap ketiga adalah konsultasi terkait tumbuh kembang anak dan penanganannya. Harapan kami setelah pelaksanaan pengabdian ini guru dan wali murid lebih peduli kepada tumbuh kembang anak agar berjalan dengan optimal. Guru dan wali murid pun mampu melaksanakan pengasuhan terbaik untuk anak-anaknya sesuai ajaran agama Islam sehingga hak anak terpenuhi. Pemenuhan nutrisi dan pengasuhan yang tepat nantinya akan membantu program pemerintah untuk memberantas stunting di Indonesia.