Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Correlation of neck, wrist, and calf circumference with body mass index in type 2 diabetes mellitus patients Geo Vanda; Ardesy Melizah Kurniati; Tri Suciati; Irfannudin Irfannudin; Susilawati Susilawati
World Nutrition Journal Vol. 4 No. S3 (2020)
Publisher : Indonesian Nutrition Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25220/WNJ.V04.S3.0032

Abstract

Background: Obesity is one of DM risk factors. Nutritional status can be measured by anthropometric measurements. One of them is body mass index (BMI). Other anthropometric measurements are neck, wrist and calf circumference. The purpose of this study was to determine the association of the neck, wrist and calf circumference with the body mass index of type 2 DM patients in Puskesmas (public health center) Sako Palembang.Methods: In this cross-sectional study, the sample were male or female outpatients aged> 19 years old who had type 2 DM patients at Palembang Sako and/or members of Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) affected by type 2 DM. Pregnant or breastfeeding women were excluded. Data were obtained through direct measurements, which were then analyzed using Pearson test and linear regression test.Results: A total 44 patients with type 2 diabetes, consisting of 22 males and 22 females participated. There was significant correlation between male’s (p<0.001, r=0.865) and female’s neck circumference (p<0.001, r=0.756) with BMI. There was also significant correlation between male’s (p=0.002, r=0.696) and  female’s wrist circumference (p<0.001, r = 0.648) with BMI. So was correlation between male’s (p<0.001, r=0.745) and female calf circumference (p=0.005, r=0.578) with BMI.Conclusion. There was significant association between neck, wrist and calf circumference with body mass index of type 2 DM patients.
ANALISIS HUBUNGAN USIA, INDEKS MASA TUBUH, KECEPATAN BERJALAN DAN RIWAYAT JATUH DENGAN KESEIMBANGAN BERJALAN LANSIA MAJELIS TAKLIM ASMAUL HUSNA PALEMBANG Msy Rulan Adnindya; Annisa Hasyrahim Redha; Indri Seta Septadina; Tri Suciati; Wardiansah Wardiansah
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V9I2.17491

Abstract

Keseimbangan berjalan pada lansia berkaitan dengan faktor risiko seperti usia, kecepatan berjalan, riwayat jatuh sebelumnya, dan indeks massa tubuh (IMT). Semakin meningkat usia seseorang dikhawatirkan semakin meningkat pula risiko untuk mengalami gangguan keseimbangan berjalan yang dapat berakibat fatal seperti terjatuh. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan usia, indeks masa tubuh, kecepatan berjalan dan riwayat jatuh dengan keseimbangan berjalan pada orang lanjut usia di Majelis Taklim Asmaul Husna Palembang. Desain penelitian berupa penelitian analitik observasional potong-lintang. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling sebanyak 60 responden. Variabel penelitian antara lain usia, kecepatan berjalan, riwayat jatuh sebelumnya, indeks massa tubuh (IMT) dan keseimbangan berjalan. Terdapat hubungan signifikan keseimbangan berjalan dengan usia (p=0,002), riwayat terjatuh (p=0,001), indeks massa tubuh (IMT) (p=0,002), dan kecepatan berjalan (p=0,004). Kelompok usia manula memiliki resiko terjatuh lebih besar (80%) dibandingkan kelompok usia lansia awal (36,4%) dan akhir (16,7%). Adanya riwayat pernah terjatuh, indeks masa tubuh abnormal (berat badan berlebih dan obesitas) dan kecepatan berjalan yang lebih cepat dapat meningkatkan risiko untuk terjatuh. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara usia, indeks massa tubuh, kecepatan berjalan, dan riwayat jatuh dengan keseimbangan berjalan pada lanjut usia Majelis Taklim Asmaul Husna Palembang.
Gambaran Spur Calcaneus dan Korelasinya dengan Plantar Fasciitis Shafira Ramadani Nasution; Hanna Marsinta Uli; Tri Suciati
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V7I1.10685

Abstract

Nyeri tumit adalah suatu gangguan pada sistem muskuloskeletal yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Penyebab tersering adalah plantar fasciitis dengan atau tanpa spur calcaneus, namun hubungan keduanya masih diperdebatkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui distribusi pasien plantar fasciitis dan spur calcaneus, distribusi tipe spur calcaneus pada pasien plantar fasciitis, dan hubungan antara spur calcaneus dengan plantar fasciitis di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang. Penelitian ini menggunakan data rekam medik pasien dengan diagnosis plantar fasciitis dan bukan plantar fasciitis di Poli Penyakit Dalam dan Bedah Orthopedi serta memiliki foto pedis sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi di Instalasi Rekam Medik dan Radiologi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Data tersebut dikumpulkan dan dinilai kesesuaian dengan penelitian, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Dari 92 kasus nyeri tumit didapatkan 51 orang (55,4%) pasien plantar fasciitis dan 41 orang (44,6%) pasien bukan plantar fasciitis. Proporsi terbanyak pasien plantar fasciitis yaitu berusia 28-37 tahun, berjenis kelamin perempuan, pekerja swasta, overweight, dan tipe spur yang menyertai adalah tipe medium. Prevalensi spur calcaneus cukup tinggi pada pasien plantar fasciitis dibandingkan dengan kelompok pembandingnya yaitu sebanyak 32 orang (62,7%) dan 9 orang (22%). Hasil analisis bivariat ditemukan hubungan antara spur calcaneus dan plantar faciitis, nilai p 0,000 dengan prevalence rate 2,858, dan confidence interval (1,546±5,285). Terdapat hubungan yang signifikan antara spur calcaneus dengan plantar fasciitis dan secara bermakna plantar fasciitis dapat meningkatkan kejadian spur calcaneus 2,858 kali dibandingkan bukan plantar fasciitis.
Correlation of Stature with Cephalofacial Measurements Michael Chandra; Tri Suciati; Msy Rulan Adnindya
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 51, No 2 (2019): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/mks.v51i2.8538

Abstract

Tinggi badan merupakan parameter antropometri yang dapat digunakan dalam penentuan status gizi dan identifikasi jenazah. Pada individu dengan kondisi yang tidak memungkinkan dilakukan pengukuran tinggi badan secara konvensional dibutuhkan suatu metode pengukuran tinggi badan alternatif. Salah satu metode pengukuran tinggi badan alternatif yaitu surrogate height measurement. Surrogate height measurement dapatdiukurmenggunakan formula khusus berdasarkan ukuran tulang, misalnya ukuran antropometri cephalofacial. Jenis penelitian ini adalah deskriptifobservasionaldengandesainpotong-lintang. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran lebar maksimal kepala, lingkar kepala horizontal, lebar minimal dahi, dan tinggi badan pada 110 subjek perempuan dan 57 subjek laki-laki. Data dianalisis dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, uji korelasi Pearson antara tinggi badan dan parameter antropometri cephalofacial, dan uji regresi linier untuk mendapatkan model prediksi tinggi badan.Hasil uji korelasi Pearson antara lingkar kepala horizontal dan tinggi badan, baik dengan atau tanpa stratifikasi jenis kelamin bermakna signifikan (p<0,05). Hasil uji korelasi Pearson antara lebar maksimal kepala dan tinggi badan pada populasi total dan kelompok perempuan bermakna signifikan (p<0,05), sementara pada kelompok laki-laki korelasi tidak bermakna signifikan (p>0,05). Hasil uji korelasi Pearson antara lebar dahi minimal dan tinggi badan, baik dengan atau tanpa stratifikasi jenis kelamin tidak bermakna signifikan (p>0,05).Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara lebar minimal dahi dan tinggi badan.Terdapat korelasi yang signifikan antara lingkar kepala horizontal danlebarmaksimalkepalaterhadaptinggi badan.
The Correlation Between Limited Range of Movement And Functional Ability of Frozen Shoulder Patient at Medical Rehabilitation Department RSUPDr Mohammad Hoesin Palembang Ine Santia; Nyimas Fatimah; Tri Suciati
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 51, No 1 (2019): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/mks.v51i1.8559

Abstract

Frozen shoulder is the inflammation of shoulder joint,  marked by a painful, adhesive, atrophic and shortened joint capsule. As a result, movement range of the joint becomes limited. In frozen shoulder patients, the limitation can affect and lessen functional ability. Therefore, this study is aimed to analyze the correlation between the limited range of movement of shoulder joint and the functional ability of frozen shoulder patients in Department of Medical Rehabilitation of RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.  This study is an observational analysis using correlation test with cross-sectional design. Twenty nine frozen shoulder patients in Department of Medical Rehabilitation of RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang in November 2018 that met the inclusion criteria were taken as subjects of this study by using consecutive sampling technique. Functional ability was assessed with quickDASH questionnaire while shoulder joint range of movement with goniometry. Data analysis was conducted subsequent to the assessments. The result of correlation test between functional ability and shoulder joint range of movement is significant. The study findings include active flexion (p=0,000; r=-0,669), active extension (p=0,004; r=-0,520), active abduction (p=0,000; r=-0,663), active adduction (p=0,022; r=-0,423), passive flexion (p=0,001; r=-0,589), extension passive (p=0,002; r=-0,543), passive abduction (p=0,000; r=-0,676) and passive adduction (p=0,038; r=-0,388).There is a significant correlation between limited range of movement and functional ability in frozen shoulder patients from Department of Medical Rehabilitation of RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
GAMBARAN RADIOLOGIS CALCANEUS PADA PENGAYUH BECAK Tri Suciati; Indri Seta Septadina
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Penggunaan otot rangka yang berlebihan pada pengayuh becak dapat menyebabkan gangguan pada  tendon Achilles yang menerima tekanan yang cukup besar dalam waktu yang cukup lama sehingga dapat menyebabkan perubahan pada kartilago pada tualng calcaneus di kaki.   Metode : Penelitian yang dilakukan merupakan observasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional) pada pengayuh becak di Kotamadya Palembang.  Subjek penelitian adalah tiga puluh orang  pengayuh becak yang telah menjalani profesinya lebih dari lima  tahun. Pemeriksaan radiologis  dilakukan di BBLK Palembang.    Hasil : Pengayuh becak dengan gambaran calcaneus spur sebanyak 19 orang (63,3%). Pengayuh becak yang mengalami calcaneus spur yang mengalami nyeri kaki sebanyak 11 orang (73,3%) dari 15 responden sedangkan responden yang tidak mengalami nyeri kaki sebanyak 8 orang (53,3%) dari 15 responden. Hasil uji statistik dengan menggunakan chi square didapatkan p value = 0,449.   Simpulan : Sebagian besar pengayuh becak memiliki gambaran calcaneus spur. Namun tidak ada hubungan antara nyeri kaki  dengan calcaneus spur.  Kata kunci : calcaneus, pengayuh becak
Relationship of Flamm Geiger Scores with Success Vaginal Delivery Laksmita Chandra Dewi; Amir Fauzi; Tri Suciati
Community Medicine and Education Journal Vol. 1 No. 1 (2020): Community Medicine and Education Journal
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.548 KB) | DOI: 10.37275/cmej.v1i1.101

Abstract

Vaginal Birth After Cesarean (VBAC) is vaginal delivery on woman with history of cesarean delivery. A statement by Cragin (1916), “Once a cesarean, always a cesarean”, has been a growing paradigm in the community which makes VBAC not a common practice. Flamm Geiger Scoring System is used to predict the likelihood of success in VBAC. The purpose of this research was to find out the association between Flamm Geiger score and the success of vaginal delivery. This research was an analytic observational study with cross sectional design. The population of this research were all patients that underwent delivery in dr. Mohammad Hoesin General Hospital Palembang from January to December 2014 and the sample were all delivering patient with history of cesarean delivery.The data were taken from patient’s medical record and analyzed using Chi Square test or its alternative test (Fisher’s Exact Test). From 92 samples, there were 25 patients (27,2%) succeeded in undergoing VBAC and 67 patients (72,8%) delivered with repeated cesarean. There was an increasing probability for a successful VBAC ranging from 0% in samples with a score of 0-2 to 100% in samples with a score of 8-10. The result showed that there was an association between Flamm Geiger score and the success of vaginal delivery (p=0,000). There is association between Flamm Geiger score and the success of vaginal delivery in dr. Mohammad Hoesin General Hospital Palembang from January to December 2014.
HUBUNGAN LINGKAR LEHER, LINGKAR PERGELANGAN TANGAN DAN LINGKAR BETIS DENGAN INDEKS MASSA TUBUH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Geo Vanda; Ardesy Melizah Kurniati; Tri Suciati; Irfannuddin Irfannuddin; Susilawati Susilawati
Alami Journal (Alauddin Islamic Medical) Journal Vol 5 No 1 (2021): JANUARY
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/alami.v5i1.17762

Abstract

Pengukuran status gizi pada pasien DM dapat dilakukan dengan metode pengukuran antropemetri seperti indeks massa tubuh (IMT), lingkar leher, lingkar pergelangan tangan dan lingkar betis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan lingkar leher, lingkar pergelangan tangan dan lingkar betis dengan indeks massa tubuh pada pasien DM tipe 2 di puskesmas Sako kota Palembang. Penelitian dengan desain studi potong lintang ini dilakukan di puskesmas Sako kota Palembang pada bulan November dan Desember 2018. Sampel penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 yang berobat yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh melalui pengukuran langsung pada pasien kemudian dianalisis dengan uji korelasi Pearson dan uji regresi linier. Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 44 pasien DM tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, masing-masing jenis kelamin berjumlah 22 pasien. Terdapat korelasi yang bermakna antara lingkar leher laki-laki (p=0,000, r=0,865) dan perempuan (p=0,000, r=0,756) dengan IMT. Korelasi antara lingkar pergelangan tangan laki-laki (p=0,002, r=0,696) dan perempuan (p=0,000, r=0,648) dengan IMT. Korelasi antara lingkar betis laki-laki (p=0,000, r=0,745) dan perempuan (p=0,005, r=0,578) dengan IMT. Terdapat hubungan yang bermakna antar lingkar leher, lingkar pergelangan tangan dan lingkar betis dengan indeks massa tubuh pada pasien DM tipe 2.
Efek minyak ikan toman (Channa micropeltes) terhadap kadar profil lipid mencit jantan (Mus musculus) model dislipidemia Sadakata Sinulingga; Aprilia Putri; Intan Rahma Dewi; Melina Indah Sari; Mutiara Budi Azhar; Tri Suciati; Mariana Mariana; Subandrate Subandrate
Majalah Kedokteran Andalas Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.616 KB) | DOI: 10.25077/mka.v42.i2.p70-79.2019

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui efek minyak ikan toman (Channa micropeltes) terhadap profil lipid pada mencit jantan (Mus musculus). Metode: Penelitian ini adalah eksperimental laboratorium menggunakan rancangan randomized pre- dan post-test dengan menggunakan hewan coba yaitu 35 ekor mencit jantan (Mus musculus) yang telah diinduksi model hiperkolesterol menggunakan pakan tinggi lemak, kemudian dikelompokkan menjadi 7 kelompok untuk perlakuan, yaitu: kontrol negatif, kontrol positif dengan Simvastatin, kontrol positif dengan Gemfibrozil, minyak ikan dosis I (0,05g/30gBB), minyak ikan dosis II (0,1g/30gBB), minyak ikan dosis III (0,2g/30gBB), dan minyak ikan dosis IV (0,4g/30gBB). Pemeriksaan profil lipid dilakukan dengan mengambil sampel darah mencit dan diperiksa dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil: Minyak ikan toman dapat menurunkan kadar kolesterol total, Low-Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida pada mencit dengan Dosis II, dosis III, dan dosis IV sedangkan untuk kadar High-Density Lipoprotein (HDL) dapat turun pada dosis iv. Simpulan: Minyak Ikan toman dapat menurunkan kadar profil lipid pada mencit jantan model dislipidemia.
PREVENTION OF FORWARD HEAD POSTURE ON STUDENTS DURING ONLINE LEARNING IN THE COVID-19 PANDEMIC Tri Suciati
Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Vol. 3 No. 1 (2021): Conference of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sri
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.493 KB)

Abstract

To prevent the spread of highly contagious coronavirus, the government regulates the health protocol, such as limitation of gathering, close the school and changing the education system from conventional to virtual started level elementary to even college level. As one of the solutions to learn media learning, the use of smartphones is increasingly significant. The longer duration of using a smartphone will cause a condition named Forward Head Posture.Forward head posture is one of the most common types of postural abnormalities. It is caused by the repetitive position while using a smartphone. The mechanism can be explained by the motion of looking down such as when using a smartphone. As a result, it encourages repetitive use of the head and neck muscles. Anatomically, it can be explained that the upper cervical vertebrae are hyperextended and shifted forward. Exposure to constant loads on craniovertebral extension muscle and non-contractile structure cause changes in biomedical motion, with every one inch the increase in distance from the head and neck, it will increase the gravitation tenfold. Increase stress eventually caused musculoskeletal damage or pain.