Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Kisah-Kisah dalam Kitab Taj al-Salatin dan Siyasatname: Kajian Komparatif Bastian Zulyeno
Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam Vol 20 No 1 (2020): Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/tamaddun.v20i1.5743

Abstract

As a legacy of intellectual works in Malay and Persian literature Taj al-Salatin and Siyasatname are two major works full of wisdom and courtesy reviews. Two books are equally written by the king's closest people and also presented to the King for the sake of achieving a harmonious life between the King and the people. Siyasatname was written by Nizam al Mulk (1018-109 AD) and presented to the king Alp Arselan and Malik Shah (1072-1092 AD) two kings of the Seljuq dynasty, while Taj al-Salatin was written by Bukhari al Jauhari in Aceh (1603 AD) and presented to Sultan Alauddin Riayyat Syah (1589-1603 AD). In the Persian literature the Siyasatname Book got a very important position because this book became a reference for how the King and his aides should manage and manage the kingdom. Likewise with Taj al-Salatin this book reminds the head of government in this case the king and his aides how to become the ideal official figure. This paper will compare the two books of Siyasatname and Taj al-Salatin with structuralist methods. The object of comparison in this paper is only the same story in the two works. Keywords: Taj al-Salatin, Syasatname, Persian, Malay, story. Sebagai peninggalan karya intlektual dalam kesusasteaan Melayu dan Persia Taj al-Salatin dan Siyasatname adalah dua karya besar yang penuh dengan ulasan hikmah dan adab. Dua buku yang sama-sama ditulis oleh orang terdekat raja dan dipersembahkan kepada Raja pula demi tercapainya kehidupan yang harmonis antara Raja dan rakyat. Siyasatname ditulis oleh Nizam al Mulk (1018–109 M.) dan dipersembahkan kepad raja Alp Arselan dan Malik Shah (1072-1092 M.) dua raja dari dinasti Saljuk, sedangkan Taj al-Salatin ditulis oleh Bukhari al Jauhari di Aceh (1603 M) dan dipesembahkan kepada Sultan Alauddin Riayyat Syah (1589-1603 M). Dalam kesusasteraan Persia Kitab Siyasatname mendapat posisi yang sangat penting karena buku ini banyak menjadi rujukan tentang bagaimana seharusnya Raja dan para pembantunya mengurus dan mengelola kerajaan. Begitu juga dengan Taj al-Salatin buku ini mengingatkan kepada kepala pemerintahan dalam hal ini raja dan pembantu-pembantunya bagaimana menjadi sosok pejabat yang ideal. Makalah ini akan membandingkan dua kitab Siyasatname dan Taj al-Salatin dengan metetode strukturalis. Objek perbandingan dalam makalah ini hanya pada kisah yang sama dalam dua karya tersebut. Kata kunci: Taj al-Salatin, Syasatname, Persia, Melayu, cerita.
Citra Pengungsi dan Masalah Sosial dalam film Capernaum Karya Nadine Labaki Zahirah Karamatullah; Bastian Zulyeno
Jurnalika : Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnalika : Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.844 KB) | DOI: 10.37949/jurnalika7152

Abstract

This research will discuss a film directed by Nadine Labaki, entitled Capernaum, because it managed to touch the emotions of the audience. This film received a standing ovation for fifteen minutes at the Cannes Film Festival in May 2018 in France. The film Capernaum is one of the films that has caught the attention of the writer because it depicts the reality of the lives of refugees in Lebanon which are packaged from the perspective of children. This study uses a descriptive-analysis method with an objective approach. In this research, the writer used Burhan Nurgiyantoro's fiction assessment theory. Starting from describing the intrinsic elements including the theme, setting, plot, characters, and morals. Intrinsic elements will be applied in analyzing the social criticism contained in the film Capernaum. The purpose of this research is to know the intrinsic elements and to analyze the social criticism contained in Capernaum's film. As a result, there is social criticism to be conveyed regarding the government, family and society in the film Capernaum.
Pemberontakan Tokoh Kiran terhadap Dogma Agama dalam Novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Karya Dahlan Nurmilah Fadilah; Bastian Zulyeno
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i4.4427

Abstract

Perasaan absurditas dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (2023) karya Muhidin M. Dahlan dialami oleh tokoh Kiran akibat kegagalannya untuk mendekatan diri kepada Tuhan dengan mengikuti organisasi Islam. Penelitian ini berfokus untuk mengungkapkan perwujudan absurditas yang dialami oleh tokoh Kiran dan pemberontakan tokoh Kiran terhadap dogma agama. Tujuan utama dari penelitian ini untuk mengidentifikasi pemberontakan yang dilakukan tokoh kiran untuk mendapatkan kebebasan atas batinnya yang terkurung dalam kenyataan yang tidak sesuai dengan kesempurnaan yang diidamkan. Melalui pendekatan kualitatif dengan kajian absurditas Camus, penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis dengan teknik pengumpulan data simak, baca, dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perwujudan absurditas tokoh Kiran berupa perasaan kegagalan, penderitaan, keterasingan, pertentangan, kecemasan. Tokoh Kiran untuk mendapatkan kebebasan atas batinnya yang terkurung dalam kenyataan yang tidak sesuai dengan kesempurnaan yang diidamkan dengan melakukan pemberontakan metafisik dan historis. Dalam pemberontakan metafisik mengarah pada tindakan tokoh Kiran untuk menentang kondisi hidupnya dengan penolakan terhadap takdir dan pengingkaran moral. Sedangkan, pemberontakan historis mengarah pada penggantian nilai-nilai agama dengan nilai-nilai yang sesuai dengan penalarannya, sehingga tokoh Kiran melenyapkan keyakinannya terhadap Tuhan
Citra Perempuan Dalam Cerita Rakyat Timun Mas Dan Kaguyahime No Monogatari: Kajian Sastra Bandingan Ryan Firmansyah; Bastian Zulyeno
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 (2024): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v4i3.1147

Abstract

Comparative literature is one of the theoretical approaches used to compare literary works, including folklore, which is an important part of oral tradition. Folktales, which are passed down from generation to generation, are interesting objects of study to analyze. This research aims to compare various aspects of feminism contained in the stories of Timun Mas and Kaguyahime No Monogatari. In analyzing these two stories, this research uses a comparative approach developed by Wellek & Warren and Ruthven's feminist approach. The method used is descriptive qualitative method with comparative literature study technique, which allows a detailed description of the similarities and differences between the two stories. The object of study in this research are the two folktales. The results of the analysis show that there are similarities between the two, which can be seen in the two main female characters who are trapped by the patriarchal culture carried out by male characters. However, the differences between the two can be seen in the reactions of the female protagonists when confronted with the patriarchal culture. This difference reflects two very different responses to social and gender norms in two different cultures, and shows how the role of women in a patriarchal society can be contrasted in literary works from different traditions.
The Construction of the Image of Madurese Women Through Nature: Ecofeminist Representation in the Poem Ibu by D. Zawawi Imron Khalili Khalili; Bastian Zulyeno
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8558

Abstract

This article examines the representation of women’s imagery and its relationship with nature through an ecofeminist reading of the poem “Ibu (Mother)” by D. Zawawi Imron, which strongly presents female figures and nature within the cultural context of Madura, thus having a distinctive and unique character to reveal gender-ecological relations in Indonesian literature. This type of study is a literary text analysis using the close reading technique. The research data consists of the poem Ibu by D. Zawawi Imron as the primary data source. Data collection techniques were carried out through literature review and intensive reading of the text, while data analysis used descriptive-interpretive analysis. This study employs ecofeminist theories proposed by Vandana Shiva (1988) and Val Plumwood (1993), which emphasize the representation of women as ecological subjects who interact harmoniously with nature, challenge patriarchal logic, and affirm gender equality and ecological responsibility as fundamental principles of life. Shiva’s theory is applied to interpret women as subjects aligned with nature, as reflected in their everyday activities that function as the center of ecological meaning in the poem. Meanwhile, Plumwood’s theory of deconstructing dualisms between humans and nature, as well as between men and women, helps to demonstrate how the poem Ibu rejects patriarchal hierarchies by portraying women as integrated with nature rather than subordinated to it. In addition, stylistic analysis is used to examine language style, diction, imagery, and metaphors in order to strengthen the ecofeminist interpretation. The findings indicate that the poet constructs women as ecological agents who assert care and responsibility, both as familial figures and as drivers of socio-economic life and cultural actors, in ways that align with ecofeminist principles. This study contributes to ecofeminist literary studies in Indonesia and strengthens the understanding of the relationship between gender and the environment within local cultural contexts. Abstrak Artikel ini meneliti representasi citra perempuan dan keterkaitannya dengan alam melalui pembacaan ekofeminis terhadap puisi “Ibu” karya D. Zawawi Imron, yang menampilkan figur perempuan dan alam secara kuat dalam konteks budaya Madura, sehingga punya karakter khas dan unik untuk mengungkap relasi gender-ekologi dalam sastra Indonesia. Jenis kajian ini adalah analisis teks sastra dengan teknik pembacaan dekat. Data penelitian berupa teks puisi “Ibu” karya D. Zawawi Imron sebagai sumber data utama. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan pembacaan intensif terhadap teks, sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif-interpretatif. Penelitian ini menggunakan teori ekofeminisme Vandana Shiva (1988) dan Val Plumwood (1993), yang menyoroti representasi perempuan sebagai subjek ekologis yang berinteraksi harmonis dengan alam, menolak logika patriarki, serta menegaskan kesetaraan gender dan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari prinsip hidup. Teori Shiva digunakan untuk menafsirkan perempuan sebagai subjek yang selaras dengan alam, yang tercermin dalam aktivitas sehari-hari sebagai pusat makna ekologis dalam puisi. Sementara teori Plumwood tentang dekonstruksi dualisme, manusia dan alam, laki-laki dan perempuan, membantu mengungkap cara puisi “Ibu” menolak hierarki patriarkal melalui penggambaran perempuan yang menyatu dengan alam, bukan ditundukkan olehnya. Selain itu, analisis stilistika digunakan untuk menelaah gaya bahasa, diksi, citraan, dan metafora guna memperkuat interpretasi ekofeminis. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa penyair mengonstruksi perempuan sebagai agen ekologis yang menegaskan rasa kepedulian dan tanggung jawab, baik sebagai figur keluarga maupun sebagai penggerak ekonomi sosial dan pelaku budaya, yang sejalan dengan prinsip ekofeminisme. Studi ini berkontribusi pada kajian sastra ekofeminisme di Indonesia dan memperkuat pemahaman tentang hubungan antara gender dan lingkungan dalam konteks budaya lokal.