This Author published in this journals
All Journal PILAR
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH PERUBAHAN UKURAN MAKSIMUM AGREGAT KASAR TERHADAP JUMLAH SEMEN UNTUK PEMBUATAN BETON SCC DENGAN BAHAN TAMBAH SP430 DAN RP260 Amiruddin Amiruddin; Ibrahim Ibrahim; Ika Sulianti
PILAR Vol. 10 No. 2 (2014): PILAR 0902014
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi beton saat ini menuju ke beton yang memiliki mutu yang tinggi dan juga memiliki kinerja tinggi (workability rendah). Beton jenis ini dikenal sebagai beton yang dapat memadat sendiri (SCC: Self Compacting Concrete) yang saat ini telah dikenal luas di Jepang, Eropa dan Amerika.Untuk menunjang kinerja beton menjadi tinggi, maka digunakan ukuran agregat kasar yang lebih kecil (maksimum 10 mm) dan untuk mendapatkan workability dan viscositas yang baik dibutuhkan  penambahan aditif.Pada penelitian ini dihasilkan diantaranya pada perubahan ukuran agregat menjadi maksimum 10 mm maka dibutuhkan penambahan semen sebanyak 15%. Untuk penyesuaian komposisi sesuai syarat komposisi  beton SCC maka dibutuhkan penambahan semen menjadi total 22%, serta untuk memenuhi workability yang rendah dibutuhkan penambahan aditif jenis RP260 dan SP430 yang masing – masing 1,5 lt/m3 beton.
BETON RINGAN : PEMBUATAN TIMBER CREATE BERBAHAN SELOLUSA YANG RAMAH LINGKUNGAN Amiruddin Amiruddin; Sukarman Sukarman
PILAR Vol. 11 No. 1 (2015): PILAR 05032015
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the construction world, concrete is a material that is widely used and is a major component of the building. Excess concrete, among others, has a higher compressive strength than tensile strength, easy to set up, requires no special care, easy stacking of materials obtained from the enviorment, and is more durable than other building materials. However, concrete has a shortage of great weight of the contents so that the load capacity to be sustained relatively larger foundation.The produce bulk density lighter concrete with compressive strenght is relatively larger in order to ease the burned of the foundation, it would require replacement of one of the concrete composition in order to get a lighter weigth. Sawdust, is one of the materials selected as a substitute for fine aggregate (sand), to obtain a lighter weight concrete. Sawdust used are acacia, with the percentage taken proportional to the weight of the cement, but the number does not change but the percentage of cement is replaced heavy fine aggregate (sand).From the tests performed by the replacement of the composition, obtained a large percentage of the limit to get the concrete compressive strength 175 kg/cm2 is 4% with a reduction in the compressive strength of 40.527% of the normal concrete with compressive strength value is 184.444 kg/cm2 and bulk density values were also concrete decreased by 11.128% of the weight of concrete the normal value to 2011.704 kg/m3. For the lightweight concrete obtained look at the composition of the addition of 100% sawdust and 50% of the cement composition beginning with the compressive strength of concrete produces 72.222 kg/cm2 and the weight content of the concrete values is 1243.259 kg/m3 which is the result meets the quality standards of lightweight concrete according to the Procedure for Making Mixed Concrete plan light, 2002, that the value of the compressive strength of 70.234 kg/cm2 – 175.331 kg/cm2 and a weight of lightweight concrete content of 800 kg/m3 – 1400 kg/m3.
PEMBUATAN BETON RINGAN TANPA PASIR UNTUK BETON TAK BERTULANG Akhmad Mirza; Amiruddin Amiruddin
PILAR Vol. 11 No. 1 (2015): PILAR 05032015
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemakaian beton ringan tanpa butiran halus sebagai suatu alternatid dalam pekerjaan beton pada struktur sederhana seperti untuk rumah tinggal, hal ini juga dimaksudkan supaya dapat menghemat biaya, untuk itu perlu adanya pedoman pelaksanaan pembuatan beton ringan tanpa agregat halus. Dan yang menjadi permasalahan sekarang belum diketahuinyaproporsi campuran yang tepat, mutu kuat tekan , yang dapat dicapai, dan pelaksanaan pembuatan yang baik. Dalam penelitian ini permasalahan dibatasi pada penelitian sifat-sifat fisik dari agregat kasar, rancangan campuran, dan pengujian kuat tekan.                Dari uraian diatas, dengan kondisi ekonomi sekarang ini dan banyaknya tersedia agregat alam di Sumatera Selatan yaitu kerikil jagung, dimanfaatkan oleh masyarkat untuk beton ringan yang murah perlu terlebih dahulu diketahui dengan mengetahui proporsi campuran, mutu kuat tekan yang dapat dihasilkannya, dan cara pelaksanaaan pembuatan yang baik sesuai dengan dengan Standar Nasional Indonesia selain dari itu tujuan dari penelitian ini untuk membuat suatu metode/formula/cara yang baik dalam merancang beton tanpa butiran halus.Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmu pengetahuan teknologi beton dan memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai prilaku beton bagi staf pengajar dan mahasiswa Politeknik Jurusan Teknik Sipil dan juga dapat dipakai oleh industri – industri kecil yang memproduksi beton cetak.Dari hasil pengujian didapatkan nilai rata-rata kuat tekan, standarisasi. dan persantase penyimpanannya, dari sini dapat diambil suatu kesimpulan disusun secara sistematis. Pengujian ini lakukan dengan enam jenis.macam perbandingan campuran yaitu 1:5, 1:6, 1:7, 1:8, 1:9, 1:10 jenis campuran dibuat dengan F.a.s yang berbeda yaitu 0,30 sampai 0,6 dengan ring 0,05 dan agregat yang dipakai sususnan butirn lolos saringan 10 mm, yang masing-masing perlakuan dibuat 3 buah benda uji kubus 15x15x15 cm.Berdasarkan hasil pengujian ini dapat dijelaskan hal-hal penting sebagai berikut:Kuat tekan yang terbesar didapat pada campuran 1 : 5 FAS 0,35 yaitu sebesar 473,9 Kg/cm2 dan yang terendah pada campuran 1 : 10 FAS 0,60 yaitu sebesar 54 Kg/cm2 , dengan semakin besar perbandingan campuran dan FAS semakin besar maka mutu betonsemakin menurun.Dari berat benda uji yang diteliti didapat Bj rata-rata 2200 kg/m3, berarti ini menunjukan masih termasuk dalam rentang beton normal yaitu Bj 1800 s/d 2400 kg/m3 , maka asumsikan tidak terbukti akan dapat mengurangi bobot secara siqnifikan kecuali bila Bj material batunya sudah ringan.
STUDI EKSISTING SALURAN DRAINASE JALAN DIPONEGORO PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI SEKANAK KOTA PALEMBANG ( 7-13 ) Ari Pratama; Saskia Arantika2 Arantika; Zainuddin - Muchtar; Amiruddin Amiruddin
PILAR Vol. 13 No. 1 (2018): Pilar: Maret 2018
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan perkembangan Kota Palembang yang diikuti dengan pertambahan jumlah penduduk dan munculnya pemukiman-pemukiman baru menyebabkan menurunnya daya tampung lahan sehingga menimbulkan salah satu efek negatif yaitu terjadinya banjir. Perubahan fungsi dan peruntukan lahan akan mengurangi kapasitas infiltrasi dan meningkatkan kecepatan maupun volume limpasan air permukaan. Hal ini mengakibatkan perubahan terhadap tingkat kebutuhan sarana dan prasarana drainase perkotaan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa  dimensi dan kondisi eksisting saluran, mengetahui kapasitas debit saluran eksisting (Q1), mengetahui kapasitas debit limpasan eksisting (Q2) dan mengevaluasi debit Q1 dan Q2.Metode  yang digunakan adalah survey existing drainase dan membandingkan dengan kapasitas debit aliran yang terjadi sekarang.            Berdasarkan analisis maka diperoleh bahwa berdasarkan data jaringan eksisting drainase, selanjutnya data eksisting dibandingkan terhadap analisis data perencanaan saluran sehingga didapatkan luas Catchment Area studi adalah sebesar 241141 m2 dengan total panjang saluran sebesar 5893 m. Daerah studi terletak di daerah dataran rendah dengan beda tinggi rata-rata sebesar 25 cm. Hasil perbandingan kapasitas debit eksisting dan debit limpasan yaitu terdapat beberapa saluran yang belum mampu menampung debit limpasan, dari 50 saluran ada 12 saluran yang harus didesain ulang dan 38 saluran hanya dilakukan normalisasi atau pembersihan sedimentasi. Saluran yang di desain ulang adalah sepanjang 1675 m, dan saluran yang hanya di normalisasi adalah sepanjang 4218 m.