p-Index From 2021 - 2026
0.947
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Teknik ITS
Naning Aranti Wessiani
Departemen Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pengembangan Sistem Pengukuran Kinerja Startup Digital pada Tahap Seed and Development dengan Pendekatan Integrated Performance Measurement System Aditya Adhrevi; Naning Aranti Wessiani
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.28632

Abstract

Pada era globalisasi saat ini, perkembangan teknologi informasi meningkatkan aktivitas usaha baik secara lokal maupun internasional. Hal ini ditandai dengan munculnya beberapa perusahaan yang baru berkembang dan menawarkan produk atau jasa yang belum pernah ditawarkan kepada pasar, yang dikenal dengan istilah startup. Pertumbuhan jumlah startup digital di Indonesia terjadi secara signifikan. Akan tetapi perkembangan startup lokal di Indonesia dalam awal tahap pengembangannya masih belum bersifat konsisten sehinggga sebagian besar startup lokal mengalami kegagalan dan sebagian lainnya melakukan perubahan besar terhadap model bisnis yang telah dikembangkan. Hal ini dikarenakan belum adanya acuan terhadap pencapaian yang harus dimiliki oleh startup dalam melakukan pengembangan bisnisnya. Untuk itu diperlukan sebuah pengembangan framework pengukuran kinerja pada startup digital dalam tahap seed and development. Pengembangan framework pengukuran kinerja dilakukan dengan pendekatan Integrated Performance Measurement System (IPMS). Pengembangan framework dilakukan dalam beberapa tahap yaitu identifikasi level bisnis, identifikasi stakeholder dan stakeholder requirement, external monitor, set objective, penetapan performance indicators, penyusunan performance indicator properties, scoring system, dan traffic light system. Output yang didapatkan dalam penelitian ini adalah indikator kinerja yang dibutuhkan dalam pengukuran kinerja startup digital pada tahap seed and development.
Analisis Kelayakan Finansial Proyek Pembangunan Jaringan Telekomunikasi di Kawasan Wisata Nusa Penida, Bali (Studi Kasus: PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Witel Singaraja Olga Amelia Veda Putri; Naning Aranti Wessiani
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56210

Abstract

Seiring dengan berjalannya waktu, pertumbuhan pariwisata di Bali semakin berkembang pesat. Pemerintah Daerah Bali melihat potensi yang besar untuk mengembangkan pariwisata Bali guna meningkatkan sumber perekonomian daerah. Salah satu daerah yang dikembangkan adalah Nusa Penida. Pariwisata di kawasan Nusa Penida sudah semakin berkembang, akan tetapi perkembangan tersebut belum diiringi dengan perkembangan infrastruktur yang memadai terutama telekomunikasi. Disisi lain, kebutuhan wisatawan terhadap saluran komunikasi semakin besar. PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk Witel Singaraja, melihat hal tersebut sebagai peluang yang harus segera ditangkap dengan meningkatkan pelayanan terhadap ketersediaan jaringan di daerah Nusa Penida tersebut. Proyek peningkatan ketersediaan jaringan merupakan salah satu proyek pembangunan dalam skala besar, karenanya dibutuhkan perhitungan dan analisis kelayakan ekonomis untuk mengetahui apakah rencana proyek pembangunan jaringan telekomunikasi tersebut menguntungkan perusahaan secara finansial atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan analisis kelayakan ekonomis dari proyek pembangunan jaringan telekomunikasi. Hasil penelitian menunjukkan pembangunan jaringan telekomunikasi di Nusa Penida layak dilakukan karena memenuhi tiga kriteria kelayakan yakni NPV, IRR, dan Payback Period. Nilai NPV yang didapatkan sebesar Rp 14.648.233.026, IRR sebesar 59,07% yang melebihi nilai MARR sebesar 12,98%, dan payback period selama 2 tahun 9 bulan. Analisis bauran pemasaran dilakukan setelah mendapatkan hasil kelayakan finansial untuk mengetahui besaran komposisi jenis produk yang optimal untuk mencapai target penjualan
Analisis Penilaian Usaha dan Manajemen Risiko pada Keputusan Kelayakan Investasi dengan Mempertimbangkan Ketidakpastian (Studi Kasus : Akuisisi Jalan Tol oleh PT X) Eka Vera Dewi; Naning Aranti Wessiani
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i1.61336

Abstract

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020 – 2024, proyek pembangunan jalan tol menjadi proyek prioritas pemerintah. Investasi jalan tol membutuhkan dana investasi yang besar sehingga pemerintah membuka kesempatan pihak swasta untuk mendanai proyek melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). PT X merupakan perusahaan swasta yang berperan sebagai operator sekaligus investor pada proyek jalan tol. Dalam proses akuisisi suatu saham jalan tol dari PT Y atau pemegang hak konsesi saat ini, perlu dilakukan penilaian usaha untuk menentukan nilai wajar dari proyek tersebut melalui parameter Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PBP). Dengan WACC sebesar 8,742%, nilai NPV proyek sebesar Rp 2.576.439.484.130,00, IRR sebesar 15,39% dan PBP pada tahun ke-10 sehingga proyek layak untuk diakuisisi. Selain itu, terdapat masalah arus kas negatif yang perlu diatasi untuk menghindari kemungkinan kegagalan proyek dengan mengubah capital structure menjadi 38,5%:61,5% (self financing : bank loan) dan mengubah debt repayment profile atau melakukan working capital injection. Dalam bernegosiasi dengan PT Y, PT X perlu menetapkan harga maksimal akuisisi sehingga terhindar dari potensi kerugian. Harga akuisisi maksimal yang dapat dibayarkan oleh PT X adalah Rp 2.372.500.000.000. Berdasarkan karakteristik proyek jalan tol yang rentan akan risiko dan ketidakpastian, maka hasil uji kelayakan perlu diuji sensitivitas dengan menerapkan integrasi proses manajemen risiko berbasis ISO AS/NZS 31000:2018 dan proses assessment ketidakpastian dengan metode NPV-at-Risk berbasis simulasi Monte Carlo. Variabel risiko yang diidentifikasi adalah laju inflasi, forecast error volume LHR, volume LHR awal, biaya konstruksi dan biaya O&M. Output dari proses manajemen risiko berupa mitigasi risiko laju inflasi yaitu risk transfer kepada pemerintah dengan diubah menjadi fixed rate 3% yang menyebabkan standar deviasi dari rata – rata NPV semakin kecil dan level risiko laju inflasi menurun dari high risk menjadi low risk. Sedangkan untuk variabel risiko lain, mitigasi yang tepat adalah risk acceptance
Internal Supply Chain Risk Management Using Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) and Value at Risk (VaR) (Case Study in PT Agro Muda Berkarya) Abdul Malik Sulaiman Said; Naning Aranti Wessiani
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65607

Abstract

In the agricultural industry, the risk variability in the internal supply chain is very high which is influenced by various factors, namely humans, weather, nutrition, pests, and others. These risks must be mapped so that companies in the agricultural industry can avoid failed harvest, increase their productivity, and has the capability in producing quality crops. The high possibility of risk in the agricultural industry, especially in Indonesia, reducing the possibility of investment by private or foreign companies, this can be corrected by having a clear risk assessment in any agricultural commodity investment plans. The investment plan assessment is carried out in order to determine the probability of possible losses and profits. PT. Agro Muda Berkarya is a company engaged in the agricultural sector, producing and trading agricultural commodities on a national and international scale. This company, which is located in Bogor, generates its operational activities with an initial focus on food crop cultivation, PT. Agro Muda Berkarya started production with an initial capital of 5000m2 and produced ginger as main crop with luffa as the intercopping crop. In carrying out the planting process, PT Agro Muda Berkarya wants to know the risks that can arise and mitigation action throughout the internal supply chain and probability of return in the business investment. This business investment focuses on luffa and ginger plants. In this final project, identification and risk profiling was carried out using Failure Mode & Effect Analysis (FMEA) and Value at Risk (VaR) with the Monte Carlo Simulation methodology to determine the probability of losses and profits on investing in ginger and oyong as intercopping plant. Last, Return on Investment (ROI) were calculated in order to understand company business performace.
Analisis Penilaian Usaha dan Manajemen Risiko pada Keputusan Kelayakan Investasi dengan Mempertimbangkan Ketidakpastian (Studi Kasus : Akuisisi Jalan Tol oleh PT. X) Eka Vera Dewi; Naning Aranti Wessiani
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.61331

Abstract

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020 – 2024, proyek pembangunan jalan tol menjadi proyek prioritas pemerintah. Investasi jalan tol membutuhkan dana investasi yang besar sehingga pemerintah membuka kesempatan pihak swasta untuk mendanai proyek melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). PT X merupakan perusahaan swasta yang berperan sebagai operator sekaligus investor pada proyek jalan tol. Dalam proses akuisisi suatu saham jalan tol dari PT Y atau pemegang hak konsesi saat ini, perlu dilakukan penilaian usaha untuk menentukan nilai wajar dari proyek tersebut melalui parameter Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PBP). Dengan WACC sebesar 8,742%, nilai NPV proyek sebesar Rp 2.576.439.484.130,00, IRR sebesar 15,39% dan PBP pada tahun ke-10 sehingga proyek layak untuk diakuisisi. Selain itu, terdapat masalah arus kas negatif yang perlu diatasi untuk menghindari kemungkinan kegagalan proyek dengan mengubah capital structure menjadi 38,5%:61,5% (self financing: bank loan) dan mengubah debt repayment profile atau melakukan working capital injection. Dalam bernegosiasi dengan PT Y, PT X perlu menetapkan harga maksimal akuisisi sehingga terhindar dari potensi kerugian. Harga akuisisi maksimal yang dapat dibayarkan oleh PT X adalah Rp 2.372.500.000.000. Berdasarkan karakteristik proyek jalan tol yang rentan akan risiko dan ketidakpastian, maka hasil uji kelayakan perlu diuji sensitivitas dengan menerapkan integrasi proses manajemen risiko berbasis ISO AS/NZS 31000:2018 dan proses assessment ketidakpastian dengan metode NPV-at-Risk berbasis simulasi Monte Carlo. Variabel risiko yang diidentifikasi adalah laju inflasi, forecast error volume LHR, volume LHR awal, biaya konstruksi dan biaya O&M. Output dari proses manajemen risiko berupa mitigasi risiko laju inflasi yaitu risk transfer kepada pemerintah dengan diubah menjadi fixed rate 3% yang menyebabkan standar deviasi dari rata – rata NPV semakin kecil dan level risiko laju inflasi menurun dari high risk menjadi low risk. Sedangkan untuk variabel risiko lain, mitigasi yang tepat adalah risk acceptance.
Risk Mapping of Bogie S2HD-9C Production Process that Take Effect on Production Fulfillment at PT. Barata Indonesia (Persero) Faza Yoshio Susanto; Naning Aranti Wessiani
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.275 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16843

Abstract

PT Barata Indonesia (Persero) is one of leading metal works company in Indonesia. It has 3 main business line which are engineering procurement and construction (EPC), industrial tools manufacturing, and foundry. As the company’s strategic objective in delivering quality product and service to the customer, PT Barata Indonesia should maintain their production process properly. One of the featured product of PT Barata Indonesia is bogie. The production process of bogie shows a fluctuative delivery fulfillment. It can be proved by the contract amendment information. Risk management can be used as the method to manage risk inside the production process of bogie. Therefore, this research is aimed to identify risks that may occur from each activities of bogie S2HD-9C’s production process. The risk identification is done by using fault tree analysis method in order to determine the root cause of each activity performed. The risk evaluation is done by using FMEA method which can classify the effects of failure based on the severity and occurrence of failure. Then continue to the risk mapping and risk mitigation determination for bogie S2HD-9C’s production process. Loss that caused by the emergence of risk also determined using value at risk method. Moreover, risk profile dashboard will be provided as the tools in managing risk.
Perancangan Model Human Capital Readiness Tenaga Kependidikan yang Terlibat dalam Core Process Departemen di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (Studi Kasus : Departemen Teknik Industri) Rada Febbyandani Sugianto; Naning Aranti Wessiani
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.28617

Abstract

Perubahan status ITS dari PTN-BLU menjadi PTN- BH menyebabkan ITS harus mengubah tatanan birokrasi agar sesuai dengan tatanan PTN-BH, salah satunya terkait dengan sumber daya manusia. Selain itu, tenaga kependidikan di ITS juga dituntut untuk dapat mensukseskan target organisasi yang semakin tinggi. Namun saat ini, di ITS belum memiliki pengukuran kesiapan tenaga kependidikan yang terstruktur yang mana menyebabkan ITS kesulitan dalam mengelola tenaga kependidikan saat ini. Oleh sebab itu, dilakukan perancangan model pengukuran Human Capital Readiness untuk mengetahui level kesiapan tenaga kependidikan. Hasil dari pengukuran dapat digunakan sebagai analisis untuk perancangan program pengembangan human capital sehingga kompetensi tenaga kependidikan dapat sesuai dengam kebutuhan. Penelitian ini dilakukan dengan identifikasi proses bisnis identifikasi unit kerja dan pemetaan jabatan yang terlibat dalam core process. Selanjutnya dilakukan identifikasi kompetensi serta tools dan resource yang digunakan. Kemudian dilanjutkan validasi dan penentuan target oleh expert kemudian pembuatan scorecard pengukuran Human Capital Readiness. Hasil dari penelitian ini yaitu jabatan yang terlibat langsung dalam core process di Departemen adalah Pengadministrasi akademik, Pengadministrasi mahasiswa dan alumni, Petugas perpustkaan dan Teknisi Sarana Prasarana. Dimensi Human Capital Readiness yaitu kompetemsi inti, pendukung dan teknis, tools serta resource. Hasil identifikasi kompetensi yaitu 7 kompetensi inti, 13 Kompetensi Pendukung dan 16 Kompetensi Teknis untuk Jabatan Pengadministrasian Akademik, 11 Kompetensi Pendukung dan 8 Kompetensi Teknis untuk Jabatan Pengadministrasi Kemahasiswaan dan alumni, serta 12 Kompetensi pendukung dan 8 Kompetensi Teknis untuk Petugas Perpustakaan dan Teknisi Sarana Prasarana.
Perancangan Model Organization Capital Readiness pada Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya Isabella Sekarwangi Boedhiantari; Naning Aranti Wessiani
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.048 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.28621

Abstract

Perubahan status Institut Teknologi Sepuluh Nopember menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) membuat ITS harus menyesuaikan tata laksana kinerjanya sesuai dengan tatanan PTNBH. Dalam menghadapi perubahan status menjadi PTNBH, diperlukan adanya manajemen perubahan oleh ITS. Manajemen perubahan merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam pelaksanaan manajemen strategi untuk membantu sebuah organisasi dalam mencapai tujuannya. Salah satu area yang mengalami perubahan adalah organisasi. Perubahan yang dilakukan pada organisasi sebagai aset tak berwujud dapat menjadi keunggulan kompetitif guna pengembangan ITS secara berkelanjutan. Salah satu upaya yang dilakukan ITS dalam mengembangkan sustainabilitas organisasinya adalah dengan membangun sebuah model dari Organization Capital Readiness yang mampu memberikan gambaran tingkat maturitas ITS. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah model Organization Capital Readiness dengan framework Organization Readiness Assessment System sebagai dasar aspek-aspek didalamnya. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang mekanisme sistem pengukuran model maturitas Organization Capital Readiness berdasarkan framework Process and Enterprise Maturity Model dan Peraturan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Nomor 4 Tahun 2016 mengenai Penilaian Maturitas Sistem Pengendalian Intern Permerintah serta mekanisme sistem penyusunan perubahan organization capital dengan framework Organization Change Agenda. Hasil dari penelitian ini berupa kerangka model maturitas Organization Capital Readiness ITS, mekanisme sistem pengukuran model maturitas, dan mekanisme sistem penyusunan perubahan modal organisasi. Kerangka yang diusulkan pada penelitian ini juga akan digunakan ITS dalam menilai tingkat maturitas organisasinya. Kata Kunci— Organization Capital Readiness, Model Maturitas, Organization Readiness Assessment System, Organization Change Agenda
Analisis Evaluasi Kualitas Layanan Logistik dan Analisis Risiko Berbasis ISO 31000:2018 pada Perusahaan Penyedia Layanan Logistik (Studi Kasus: Unit Bisnis Freight Forwarding PT Cipta Sinergi Bisnis) Alif Wardatun Nisa'; Naning Aranti Wessiani
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i3.98582

Abstract

PT Cipta Sinergi Bisnis (CSB) merupakan salah satu perusahaan penyedia layanan logistik di bidang freight forwarding yang didirikan sejak 29 Mei 2015. Meninjau keberadaannya sebagai pihak ketiga, maka pelayanan yang memuaskan dan konsisten sangat dibutuhkan untuk mempertahankan loyalitas pelanggan. Namun dalam usahanya memberikan pelayanan terbaik, PT CSB tidak terlepas dari complain pelanggan yang mengungkapkan ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diberikan. Ketidakmampuan dalam mencapai target kepuasan tersebut disebabkan adanya hambatan pada keberlangsungan aktivitas perusahaan dalam memberikan pelayanan yang disebut sebagai risiko. Hal ini diperburuk dengan kondisi PT CSB yang belum menerapkan evaluasi kualitas layanan dan manajemen risiko melalui metode yang terstruktur dan formal. Oleh karena itu, evaluasi kualitas layanan dilakukan melalui pendekatan Logistic Service Quality (LSQ) untuk mengidentifikasi dimensi dan atribut kualitas layanan PT CSB serta Importance Performance Analysis (IPA) untuk memetakan atribut kualitas layanan yang harus diprioritaskan. Kajian manajemen risiko menggunakan standar ISO 31000 : 2018 dilakukan sebagai upaya proaktif dalam perbaikan kualitas layanan logistik. Seluruh risiko yang teridentifikasi dilakukan penilaian dengan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Didapatkan 6 dari 30 atribut kualitas layanan yang perlu dilakukan tindakan perbaikan. Selanjutnya, dari 6 atribut kritis diperoleh 31 risiko yang teridentifikasi dan 82 tindakan penanganan risiko yang terdiri dari 4 tipe yaitu avoid, mitigate, transfer dan accept. Tindakan penanganan risiko yang diusulkan diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi perusahaan dalam melakukan perbaikan kualitas layanan. Dengan demikian, kelancaran aktivitas operasional dan kinerja layanan dapat terjaga secara konsisten, sehingga kepuasan pelanggan terhadap atribut kualitas terkait juga akan meningkat.
Operational Risk Identification and Mitigation of the Chemical Production Process of PT. X Using Failure-Mode and Effect Analysis (FMEA) and Chemical Health Risk Assessment (CHRA) Methods Dandy Ananda; Naning Aranti Wessiani
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.113324

Abstract

PT. X is a German-based multinational chemical company that produces surfactant as one of its products. As a chemical processing company, the operational activities of the production process in PT. X poses risks that could happen at any time. This research is conducted to identify, analyze, and propose mitigation plan for the risks in one of the plants operated by PT. X. Interviews are conducted to identify the risks using Fishbone diagram as the framework and the Ishikawa method to categorize the causes. There are 86 risks that are identified consisting of 51 operational risks and 35 risks of chemical exposure. To be more thorough, the identified operational risks are assessed using the Failure-Mode and Effect Analysis (FMEA) and the chemical exposure risks are assessed using the Chemical Health Risk Assessment (CHRA). From the 206 risk causes, 31% are caused by Man, 28% are caused by Machine, 22% are caused by Material, 15% are caused by Method, and 5% are caused by the Environment. The FMEA produces Risk Priority Number (RPN) which led to risk prioritizing using the Pareto diagram and risk mapping, resulting in 24 risks being prioritized that consists of 15 medium-level risks and 9 low-level risks with no high-level risk present. The CHRA produces Risk Rating (RR) and Level of Risk that resulted in 77 low-level and 19 moderate-level risks for risk for inhalation exposure, and 9 moderate-level risks and 86 high-level risks for the exposure through dermal contact. It produces the decision of 17 inadequate control measures for chemical exposures. These assessments are further processed to devise the appropriate contingency plan, mitigation plan, and action plan.