Gede Wibawa
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Studi Awal Desain LNG (Liquefied Natural Gas) Plant Dari Coal Bed Methane (CBM) Dengan Kapasitas Feed 40 MMSCFD Muhammad Fahmi; Muhammad Fauzi; Gede Wibawa
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.15 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3556

Abstract

Dalam penelitian ini telah dilakukan perancangan Liquefied Natural Gas (LNG) Plant dari CBM degan kapasitas feed 40 MMSCFD dan waktu operasi 24 jam/hari dan 330 hari/tahun. Perancangan LNG plant dari CBM ini bertujuan untuk membantu usaha Negara dalam melakukan diversifikasi energi untuk mengatasi krisis energi. Salah satu contoh diversifikasi energi adalah mengganti bahan bakar pembangkit listrik High Speed Diesel (HSD) menjadi LNG yang harganya relative lebih murah. Penelitian ini didasarkan pada simulasi dengan Aspen HYSYS, dimana terdapat batasan penelitian yakni gas alam yang dicairkan dengan cara didinginkan pada temperatur sekitar -161.3oC dan pada tekanan 1.06 bar. Tujuan pabrik LNG ini adalah Provinsi Bali hal ini dikarenakan elektrifikasi daerah tersebut cukup rendah. Dengan konsumsi minyak HSD yang tinggi tetapi elektrifikasi yang rendah maka diperlukan sumber energi alternatif untuk meningkatkan daya yang dihasilkan dan area distribusi sehingga tingkat elektrifikasi akan menjadi lebih tinggi. Pabrik LNG ini didirikan di Muara Enim, Sumatera Selatan pada tahun 2016. Penentuan lokasi pabrik berorientasi pada ketersediaan sumber bahan baku CBM. Menurut data DITJEN MIGAS Muara enim memiliki potensi CBM sebesar 0.5 TCF. Potensi sebesar ini dapat digunakan selama 60 tahun dengan kapasitas feed LNG plant sebesar 40 MMSCFD Proses pembuatan LNG dari gas alam ini menggunakan Proses On-Shore LNG menggunakan beberapa rangkaian proses yaitu : Unit Penghilang CO2 dan H2S : menggunakan Amine Cycle, Unit Dehidrasi : menggunakan molecular sieve, Unit Refrigeran dan Pencairan : menggunakan MCR Coldbox Sumber dana investasi berasal dari modal sendiri sebesar 20 % biaya investasi dan pinjaman jangka pendek sebesar 80 % biaya investasi dengan bunga sebesar 12 % per tahun. Dari analisa perhitungan ekonomi didapat hasil-hasil sebagai berikut : Investasi : 163,557 MUSD, Internal Rate of Return : 25.66 %, POT : 3.26 tahun, BEP : 58.86 %, NPV 10 year   :120,207.9 MUSD Dari ketiga parameter sensitifitas yaitu fluktuasi biaya investasi, harga bahan baku, serta harga jual dari produk LNG, terlihat bahwa parameter tersebut tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap kenaikan atau penurunan nilai IRR. Namun, penurunan harga produk condensate dapat memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi pendapatan pabrik. Jika dilihat secara keseluruhan, rata-rata %IRR masih menunjukkan bahwa pabrik LNG dari CBM ini layak untuk didirikan.
Regasification of LNG (Liquefied Natural Gas) Muhammad Rum Pandu Nuswantara; Wiryawan Priharnanto; Gede Wibawa
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.567 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.6438

Abstract

LNG (Liquified Narural Gas) adalah gas alam yang telah diproses untuk menghilangkan ketidakmurnian dan hidrokarbon berat dan kemudian dikondensasi menjadi cairan pada tekan atmosfer dengan mendinginkannya sekitar -160° Celcius. LNG ditransportasi menggunakan kendaraan yang dirancang khusus dan ditaruh dalam tangki yang juga dirancang khusus. LNG memiliki isi sekitar 1/600 dari gas alam pada suhu dan tekanan standar, membuatnya lebih hemat untuk ditransportasi jarak jauh di mana jalur pipa tidak ada. Ketika memindahkan gas alam dengan jalur pipa tidak memungkinkan atau tidak ekonomis, dia dapat ditransportasi oleh suatu kapal pengangkut untuk LNG. Gas alam dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik PLTG dan PLTU. Dari data ESDM cadangan gas alam tersebut dapat dikatakan bahwa potensi gas alam Indonesia sangatlah besar, karena pada data tahun 2012 ditjen migas tersebut, cadangan gas alam yang masih tersimpan dan tersebar di Indonesia masih sangat besar, dengan potensial sebesar 47.35 TSCF (Trillion Square Cubic Feet). Potensi tersebut adalah total dari seluruh potensi yang tersebar di Indonesia sebesar 150.70 TSCF. Pabrik Terminal Regasifikasi LNG direncanakan dibangun pada tahun 2014 dengan target siap beroperasi pada tahun 2016. Pabrik ini berlokasi di Celukan Bawang Bali dengan terdapat 3 PLTG yang membutuhkan distribusi LNG yaitu PLTG Gilimanuk, Pemaron, dan Pesanggaran. Kapasitas pabrik ini adalah 100 MMSCFD. Pabrik ini akan memenuhi kebutuhan pembangkit listrik untuk daerah Bali. Rangkaian proses pabrik ini adalah unit Regasification. Analisa ekonomi dari pabrik ini adalah investasi sebesar 371,66 MUSD, IRR sebesar 38,6%, POT selama 2,71 tahun, BEP sebesar 49,6% dan NPV 10 tahun sebesar 1011,82 MUSD.
Pra Desain Pabrik Dimethyl Ether (DME) dari Gas Alam Ajeng Puspitasari Yudiputri; Eviana Dewi Setiawati; Gede Wibawa; Winarsih Winarsih
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.886 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.8344

Abstract

Berdasarkan data PT Pertamina (Persero), total konsumsi LPG 2008 mencapai 1,85 juta ton dan 600.000 ton di antaranya untuk program konversi. Pada 2009 kebutuhan LPG akan meningkat menjadi 3,67 juta ton dan 2 juta ton di antaranya untuk program konversi sampai akhir tahun. Namun, sumber pasokan LPG dari dalam negeri diperkirakan tidak akan beranjak dari angka 1,8 juta ton per tahun dalam beberapa tahun mendatang. Sehingga, Indonesia harus menutup kebutuhan dengan mengimpor LPG dalam jumlah cukup besar. Maka dari itu dibutuhkan bahan bakar gas lain yang mampu mengatasi permasalahan yang ditimbulkan tersebut. Dimethyl Ether (DME) merupakan senyawa ether yang paling sederhana dengan rumus kimia CH3OCH3. Produksi DME dapat dihasilkan melalui sintesis gas alam. DME berbentuk gas yang tidak berwarna pada suhu ambien, zat kimia yang stabil, dengan titik didih -25,1oC. Tekanan uap DME sekitar 0,6 Mpa pada 25oC dan dapat dicairkan seperti halnya LPG. Viskositas DME 0,12-0,15 kg/ms, setara dengan viskositas propana dan butane (konstituen utama LPG), sehingga infrastruktur untuk LPG dapat juga digunakan untuk DME. Berdasarkan data Departemen ESDM pada Januari 2012, total cadangan gas alam Indonesia tercatat mencapai 150,70 Trillion Square Cubic Feet (TSCF). Berdasarkan jumlah tersebut, sebanyak 103,35 TSCF merupakan gas alam terbukti, sementara 47,35 TSCF sisanya masih belum terbukti. Berdasarkan hal tersebut, diketahui bahwa senyawa DME merupakan senyawa yang sesuai untuk bahan substitusi LPG. Dan ditinjau dari analisa ekonomi, didapatkan besar Investasi : $ 636,447,074.69 ; Internal Rate of Return : 20.51%; POT: 4.13 tahun; BEP : 37.36 %; dan NPV 10 year : $ 518,848,692. Dari ketiga parameter sensitifitas yaitu fluktuasi biaya investasi, harga bahan baku, dan harga jual dari produk, terlihat bahwa ketiganya tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap kenaikan atau penurunan nilai IRR pabrik. Sehingga pabrik DME dari Gas Alam ini layak untuk didirikan.
Desain Pabrik ETHYLENE dari Gas Alam Di Teluk Bintuni Papua Barat Randhi Ramdhani; Risha Ratna; Gede Wibawa
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1775.005 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i1.8375

Abstract

Indonesia adalah salah satu dari sedikit Negara dengan keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah sebagai bahan baku utama industri petrokimia berupa minyak bumi, gas alam, batu bara dan biomassa. Ketersediaan bahan baku tersebut dapat mendorong perkembangan industri petrokimia yang merupakan penopang industri nasional dalam upaya pemenuhan kebutuhan manusia terhadap pangan, sandang, papan dan energi. Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam gas, sehingga sumberdaya alam tersebut merupakan penopang utama pembangunan di Indonesia. Berdasarkan data Departemen ESDM pada januari 2012, total cadangan gas alam Indonesia tercatat mencapai 150,70 Trillion Standard Cubic Feet (TSCF). Dari jumlah tersebut, sebanyak 103,35 TSCF merupakan gas alam terbukti, sementara 47.35 TSCF sisanya belum terbukti atau potensial. Memasuki era perdagangan, Indonesia dituntut untuk mampu bersaing dengan Negara lain dalam bidang industri. Inovasi yang berorientasi pada pengurangan ketergantungan kita pada produk luar negeri mampu untuk menambah devisa negara sangat diperlukan. Salah satu industri manufaktur strategis yang memiliki peranan penting dalam struktur industri nasional adalah industri petrokimia. Salah satu produk yang dihasilkan dari industri petrokimia adalah ethylene. Etena (Ethylene) adalah senyawa kimia yang memiliki rumus C2H4 yang memiliki sifat-sifat : olefin paling ringan, tidak berwarna, tidak berbau, dan mudah terbakar. Adapun penggunaan etena dalam dunia industri cukup luas antara lain : sebagai bahan baku industri kimia ethylene oksida, polyethylene, ethylene benzene, PVC, dan ethylene glikol. Ethylene dapat diproduksi dari beberapa sumber yaitu naptha dan gas alam. Dimana beberapa pabrik yang memproduksi ethylene antara lain Siemens Oil dan Gas Industri yang memproduksi sekitar 800.000 ton/tahun, Toyo Engineering Corporation yang mendirikan pabrik di Jepang pada tahun 1966 memproduksi ethylene sebesar 200.000 ton/tahun, PT Chandra Asri yang memproduksi ethylene sebesar 600.000 ton/tahun, dengan menggunakan naptha sebagai bahan bakunya. Maka dari itu, pabrik Ethylene dari gas alam ini akan didirikan di kawasan industri Teluk Bintuni, Papua Barat. Rencananya pabrik ini akan didirikan pada tahun 2015 dan siap beroperasi pada tahun 2017. Proses pembuatan Ethylene dari gas alam terdiri dari lima proses utama, yaitu Absorbsi CO2, Dehydration Unit, Distillation, Thermal Cracking, dan Oxidative Coupling of Methane. Dari analisa perhitungan ekonomi didapat Investasi 307.533.460 USD, IRR sebesar 26,85%, POT selama 2.84 tahun, dan NPV positif 10 tahun sebesar 170.791,91 MUSD