Putu Gde Ariastita
PWK

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Arahan Pengendalian Konversi Hutan Mangrove Menjadi Lahan Budidaya Di Kawasan Segara Anakan Rizky Amalia Yulianti; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.296 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.793

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengatasi permasalahan sedimentasi dan pendangkalan di laguna Segara Anakan dari sudut pandang penggunaan lahan melalui arahan pengendalian konversi hutan mangrove menjadi lahan budidaya di kawasan Segara Anakan. Adapun metode yang digunakan adalah dengan analisis program linier untuk mendapatkan solusi optimal masing-masing penggunaan lahan budidaya. Berdasarkan solusi optimal tersebut didapatkan bahwa lahan sawah, kebun/tegalan, ladang/huma, tambak/kolam/empang, permukiman, dan fasilitas umum tidak boleh dikembangkan lagi sehingga pengembangan dan/atau perubahan lahan menjadi lahan-lahan budidaya tersebut tidak diijinkan. Sedangkan lahan budidaya yang masih dapat dikembangkan di kawasan Segara Anakan adalah lahan untuk penggembalaan ternak namun pengelolaannya diarahkan sesuai dengan teknik konservasi tanah dan air agar tidak meningkatkan kontribusi terhadap erosi dan sedimentasi.
Optimasi Penggunaan Lahan di Kecamatan Driyorejo Berdasarkan Ketersediaan Sumberdaya Air Christianingsih, Putu Gde Ariastita Christianingsih Christianingsih; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.611 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.908

Abstract

Kecamatan Driyorejo difungsikan sebagai daerah penampung limpahan kegiatan dari Kota Surabaya. Perkembangan ini tidak diikuti oleh dukungan sumberdaya air yang memadai. Muncul gejala krisis air diantaranya banyaknya lahan pertanian yang dibiarkan tidak produktif, dropping sumberdaya air ke Desa Bambe serta penerapan sistem bergilir distribusi PDAM ke Kota Baru Driyorejo. Untuk itu dilakukan penelitian optimasi penggunaan lahan yang didasarkan atas ketersediaan sumberdaya air di Kecamatan Driyorejo. Penelitian ini menggunakan pendekatan positivistic dengan jenis penelitian deskriptif. Tahapan analisis dibagi menjadi tiga yakni menentukan kondisi neraca keseimbangan sumberdaya air dengan menggunakan perhitungan matematis, merumuskan kriteria melalui tinjauan literatur dan dicrosscek dengan analisis Delphi serta proses optimasi penggunaan lahan dengan menggunakan software Quantum Windows 2. Hasil optimasi penggunaan lahan terbagi atas dua alternatif. Alternatif pertama merupakan alternatif yang sesuai untuk dikembangkan yakni dengan nilai IPA 0,64 (tidak kritis) dan alokasi luasan lahan masing-masing sebagai perumahan 3.300,02 ha, pertanian 82,24 ha, industri 436,28 ha, perdagangan dan jasa 1.250,71 ha serta fasilitas umum dan sosial 59,73 ha.
Pengembangan Pusat-Pusat Pelayanan Berbasis Komoditas Unggulan Sub Sektor Perkebunan Di Wilayah Kabupaten Bengkalis Cihe Aprilia Bintang; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.803 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.916

Abstract

Adanya indikasi kebocoran wilayah (Regional Leakages) di Kabupaten Bengkalis terlihat dari besarnya bahan mentah dari komoditas lokal yang di ekspor keluar wilayah tanpa diolah terlebih dahulu pada pusat-pusat pelayanan yang ada di Kabupaten Bengkalis. Untuk itu, perlu adanya optimasi pusat-pusat pelayanan berdasarkan potensi keunggulan komoditas unggulan yang ada di Kabupaten Bengkalis untuk meminimalisisr kebocoran wilayah yang terjadi.         Adapun metode penelitian yang digunakan adalah melalui pendekatan input-output untuk menghasilkan komoditas unggulan yang memiliki keterkaitan antar komoditas sehingga dapat mendorong perekonomian dan menghasilkan nilai tambah. Selain itu, metode yang digunakan dengan pendekatan analisa kualitatif untuk mengetahu aliran nilai tambah komoditas unggulan, faktor yang menyebabkan kebocoran wilayah dan arahan pengembanagn pusat-pusat pelayanan.             Hasil penelitian ini menunjukan bahwa salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Bengkalis adalah kelapa sawit. Berdasarkan aliran komoditas kelapa sawit melalui petani, distributor dan pabrik pengolahan menunjukkan bahwa beberapa pusat pelayanan belum berfungsi optimal seperti Pusat pelayanan Buruk bakul dan Bengkalis. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Bengkalis untuk meminimalisir kebocoran wilayah
Model Perkembangan Perumahan di Wilayah Peri Urban Kota Surabaya (Studi Kasus : Kabupaten Sidoarjo) I Dewa Made Frendika Septanaya; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.95 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.921

Abstract

Saat ini perkembangan wilayah peri urban di berbagai kawasan metropolitan menunjukkan adanya pertambahan luas permukiman dalam jumlah banyak (real estate) atau yang biasa di kategorikan sebagai proses formatif yang bersifat invasif. Kecenderungan beberapa wilayah peri urban yang menunjukkan pesatnya pertumbuhan perumahan ternyata tidak sepenuhnya terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Fenomena  penurunan pengadaan perumahan yang terjadi pada periode  2006 – 2010 menyebabkan ketidakseimbangan antara rendahnya pengadaan (supply) rumah dengan kebutuhan (demand) atas perumahan yang semakin meningkat. Hasil akhir penelitian ini  menunjukkan bahwa faktor geografis (spasial) dalam pemodelan GWR yang menyebabkan penuruan jumlah pengadaan perumahan di masing-masing kecamatan berbeda-beda, namun secara holistik disebabkan oleh pengaruh harga lahan, keterbatasan ketersediaan lahan kosong untuk peruntukan perumahan dan jarak dari lumpur Lapindo Kecamatan Porong. Sedangkan faktor aspasial yang mempengaruhi adalah stabilitas kondisi ekonomi, besarnya biaya taktis (transaction cost) dan biaya dampak pembangunan (development impact fees), kendala perizinan serta aturan atau regulasi untuk pembebasan lahan yang tidak mengikat.
Pola Perubahan Berbelanja Masyarakat Akibat Perubahan Pusat Perbelanjaan Di Kecamatan Wonokromo Justin Putri Pitasari; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.401 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.949

Abstract

Munculnya 2 hypermarket di Kawasan Wonokromo mempengaruhi eksistensi keberadaan pasar wonokromo. Disisi lain masyarakat Kecamatan Wonokromo telah mengalami perubahan berbelanja, hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan Pasar Wonokromo menyeimbangi perubahan gaya hidup masyarakat disekitarnya sehingga pengunjung yang awalnya berbelanja di pasar wonokromo mengalami perubahan berbelanja ke hypermart royal ataupun Carrefour ngagel. Tujuan penelitian ini untuk merumuskan pola perubahan berbelanja masyarakat akibat perubahan pusat perbelanjaan di Kecamatan Wonokromo sebagai langkah awal dalam meningkatkan eksistensi pasar wonokromo sebagai pusat perbelanjaan.Untuk mencapai tujuan penelitian ini dilakukan empat tahapan analisa yaitu analisa statistic deskriptif untuk mengetahui karakteristik sosial ekonomi dan perubahan berbelanja masyarakat, analisa faktor untuk mengetahui faktor penyebab perubahan berbelanja serta analisa korelasi untuk mengetahui pola perubahan yang terbentuk. Berdasarkan hasil penelitian, segmentasi masyarakat yang mengalami perubahan berbelanja adalah 18% masyarakat menengah, 52% masyarakat menengah atas, dan 30% masyarakat atas. Sedangkan pola perubahan yang dihasilkan adalah pada jarak kurang dari 1 Km, masyarakat yang mengalami perubahan berbelanja adalah masyarakat menengah dengan frekuensi belanja menjadi 2 minggu sekali dan untuk kebutuhan pelengkap dan pendamping.penyebab perubahan ini adalah ketersediaan fasilitas. Pada jarak 1-2 Km, masyarakat yang mengalami perubahan berbelanja adalah masyarakat menengah ke atas dengan perubahan berbelanjan berupa frekuensi belanjanya menjadi 2-4 minggu dengan cara belanja untuk pemenuhan kebutuhan pokok dan pendamping. Perubahan ini disebabkan oleh faktor harga. Pada jarak 2-3 Km, masyarakat yang berubah perlaku belanjanya adalah masyarakat menengah ke atas mengalami perubahan belanja dengan frekuensi belanjanya menjadi 2-4 minggu untuk pemenuhan kebutuhan pendamping dan pelengkap. Sedangkan  pada jarak lebih dari 3 Km, yang mengalami perubahan belanja adalah masyarakat kelas atas dengan frekuensi belanjanya menjadi 1 bulan sekali dengan cara belanja untuk pemenuhan kebutuhan lain-lain. Faktor penyebab perubahan berbelanja pada radius jarak dua hingga lebih dari 3 Km adalah faktor kemudahan.