Triwilaswandio Wuruk Pribadi
-

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

mata uang asing, material impor, nilai tukar, pembangunan kapal baru Tito Bramantyo Aji; Triwilaswandio Wuruk Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.459 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.312

Abstract

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah melakukan analisis pengaruh perubahan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah dalam proses pembangunan kapal baru. Metode yang dilakukan adalah dengan cara mengevaluasi pembelian material kapal yang di impor dari luar negeri dan menganalisa perubahan nilai tukar mata asing yaitu USD (Dollar USA), € (Euro Eropa), dan ¥ (Yen Jepang) terhadap Rupiah (RP). Hasil dari simulasi nilai tukar pembelian tahun 2007 sampai 2010, terdapat selisih nilai maximum dan minimum yaitu sebesar 33% untuk USD terhadap Rupiah, 46% untuk Euro terhadap Rupiah dan untuk JPY terhadap Rupiah sebesar 55%. Dampak perubahan nilai tukar selama tahun 2007 hingga 2010 telah menyebabkan semakin tingginya harga material impor. Untuk pembelian dengan harga USD meningkat 9,11%, harga Euro meningkat 21,10%, dan harga JPY meningkat 30,10%. Dapat disimpulkan dari penelitian ini untuk mengurangi dampak perubahan nilai tukar tersebut diperlukan suatu strategi yang tepat. Yaitu dengan memprediksi perubahan nilai tukar mata uang asing, dimana mata uang asing tersebut melemah terhadap Rupiah, kemudian melakukan perencanaan termin pembayaran material impor agar terhindar dari perubahan nilai tukar yang terus mengalami perubahan setiap waktu.
Penerapan Peraturan IMO MSC.215(82) dan IMO MSC.291(87) PSPC Pada Pembangunan Kapal Tanker Minyak Sendi Prahastu; Triwilaswandio Wuruk Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.345 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.327

Abstract

IMO MSC.215(82) dan IMO MSC.291(87) adalah peraturan mengenai PSPC (performance standard for protective coating) tangki ballast untuk semua jenis kapal diatas 500 GT dan tangki muat  kapal tanker minyak diatas 5000 DWT. Dalam peraturan tersebut terdapat persyaratan baru yang harus dipenuhi untuk persiapan permukaan dan aplikasi coating pada tangki ballast dan tangki muat. Dari studi ini didapatkan penerapan PSPC tangki ballast dan tangki muat pada pembangunan kapal tanker minyak di galangan kapal yang sesuai dengan peraturan IMO. Biaya produksi yang dibutukan untuk menerapkan peraturan PSPC tangki ballast dan tangki muat pada pembangunan kapal tanker minyak 17,500 DWT PT PAL diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 21.49 %, pada kapal tanker minyak 6,500 DWT  PT DPS diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 31.89 %, dan pada kapal tanker minyak 3500 DWT PT Dumas diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 32.21 %. Kenaikan ini akan dapat dikurangi jika proses persiapan permukaan dapat diintegrasikan pada tahap fabrikasi dan sub assembly.
Analisis Teknis dan Ekonomis Pembangunan Industri Manufaktur Baling - Baling Kapal di Indonesia Mokhammad Faizal Riza; Triwilaswandio Wuruk Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.634 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.351

Abstract

Industri manufaktur baling-baling kapal di Indonesia memiliki potensi pasar yang besar dan persaingan industri yang rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelayakan teknis dan ekonomis pembangunan industri manufaktur baling-baling kapal di Indonesia. Kondisi manufaktur baling-baling kapal di Indonesia sangat tradisional, baik dari segi peralatan, teknologi produksi maupun materialnya. Proyeksi permintaan baling-baling kapal untuk bangunan baru di Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 351 unit, 2011 sebesar 375 unit, 2012 sebesar 363 unit, dan 2013 sebesar 367 unit. Sedangkan potensi permintaan baling-baling kapal untuk pergantian akibat usia atau kerusakan adalah 424 unit per tahun. Market share diasumsikan 10% sehingga jumlah pergantian baling-baling kapal sebanyak 38 unit per tahun. Secara teknis, investasi manufaktur baling-baling kapal dapat dilakukan di Indonesia karena hanya diperlukan investasi untuk peralatan, lahan, dan bangunan. Kapasitas produksi sebesar 147 unit baling-baling kapal per tahun dengan waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu baling-baling kapal adalah 57 jam. Sedangkan secara ekonomis, dibutuhkan investasi sebesar Rp. 39.411.700.000 dengan break even point terjadi pada tahun ke sembilan. Karena potensi pasar di Indonesia masih besar dan jumlah kompetitor di industri manufaktur baling-baling kapal yang masih sedikit sehingga investasi manufaktur baling-baling kapal di Indonesia sangat layak untuk direalisasikan.
Produksi Kapal Ikan Tradisional dengan Kulit Lambung dan Geladak Kayu Laminasi serta Konstruksi Gading dan Geladak Aluminium Ricky Andrianto Sutrisno; Triwilaswandio Wuruk Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.751 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.364

Abstract

Penggunaan kayu untuk kebutuhan pembangunan kapal semakin terbatas persediaannya untuk masa mendatang. Sebagai alternatif, digunakan material aluminium untuk konstruksi gading dan balok geladak serta kayu laminasi untuk bagian kulit dan geladak. Berdasarkan analisa teknis, berat untuk kapal ikan 30 GT dengan konstruksi gading dan balok geladak aluminium serta laminasi di kulit dan geladak lebih ringan sekitar 26% dari kapal ikan 30 GT dengan konstruksi kayu konvensional. Namun, biaya pembuatan lambnug kapal ikan 30 GT dengan konstruksi aluminium dan laminasi kulit serta geladak lebih mahal 1,4 kali dibandingkan dengan kapal ikan 30 GT konstruksi kayu. Keuntungan kapal dengan konstruksi aluminium dan laminasi akan memiliki masa pakai atau usia kapal yang lebih panjang dibandingkan dengan kapal kayu tradisional.
Resizing bangunan Atas Kapal Double skin bulk carrier (DSBC) 50.000 DWT untuk Mengurangi Biaya Produksi Nurul Hidayah; Triwilaswandio Wuruk Pribadi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.508 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.438

Abstract

Kapal Double Skin Bulk Carrier (DSBC) 50.000 DWT atau Kapal “Star 50″ dengan panjang 189,840 meter dan lebar 30,50 meter ini merupakan kapal hasil produksi PT PAL Indonesia dengan berbobot mati 50.000 ton dan memiliki 25 crew. Kondisi desain bangunan atas kapal DSBC 50.000 yang ada saat ini perlu ditinjau untuk diperkecil ukurannya sehingga menurunkan biaya produksi. Hal ini dimungkinkan dengan adanya kecenderungan penggunaan sistem otomatik untuk mengurangi jumlah awak kapal. Selain itu beberapa akses ruangan dirasakan terlalu lebar, ukuran beberapa ruangan melebihi ketentuan ILO, dan penataan tata letak ruangan kurang efisien, secara ekonomis sangat tidak menguntungkan, mengingat biaya produksi pembangunan kapal mahal. Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengurangi biaya produksi dengan cara me-resize bengunan atas kapal. Metode yang digunakan adalah re-design bangunan atas kapal dengan beberapa pertimbangan-pertimbangan dan berdasarkan pedoman Rule yaitu DNV, ILO serta UU. Pelayaran No.7. Setelah di resizing luas bangunan atas kapal DSBC 50.000 DWT dapat diperkecil menjadi 1455.35 m2 (20.53 %). volume menjadi 4147.762 m3 (20.53 %) , dan berat menjadi 350 ton (36.95 %), kebutuhan flooring sebesar 2.306.64 m2( 15.42 %), ceiling 2306.64 m2 (5.3 %) dan lining sebesar 5089.82 m2 (41.2 %). Kebutuhan AC sebesar 31.75 PK (40.09 %). Secara ekonomis biaya kebutuhan konstruksi berkurang menjadi Rp 7.906.808.682 (33.77 %), biaya flooring berkurang menjadi Rp 634.903.940 (19.42 %), biaya lining berkurang menjadi Rp 4.473.947.385 (40.4 %), biaya ceiling berkurang menjadi Rp 754.272.801 (25.4 %). Total biaya produksi semula yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp. 25.224.139.185. dan setelah dilakukan resizing berkurang menjadi Rp 11.314.916.789, sehingga untuk melakukan produksi bangunan atas selanjutnya memerlukan biaya produksi sebesar Rp 13.909.222.396.