Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PUDARNYA KEARIFAN LOKAL DALAM PEMANFAATAN TANAMAN SONGGA (STRYCHNOS LIGUSTRINA) (STUDI KASUS DI KEC. HU’U KAB. DOMPU, NTB) Hasan, Rubangi Al
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.918 KB)

Abstract

ABSTRAK Tanaman songga (Strychnos ligustrina) merupakan tanaman berkhasiat obat yang telah banyak dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat Hu?u. Masyarakat banyak mengambil dari hutan dan memanfaatkan tanaman songga sebagai obat, terutama malaria. Hu?u merupakan daerah yang sering terjangkit wabah malaria Penelitian ini bermaksud mencari faktor yang mempengaruhi pudarnya kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan tanaman songga sebagai bahan obat. Metode penelitian dilakukan dengan wawancara menggunakan bantuan kuesioner dan diperdalam dengan wawancara mendalam (indepth interview). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pudarnya kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan songga adalah tuntutan ekonomi. Jika sebelumnya masyarakat hanya memanfaatkan songga untuk kebutuhan pengobatan mereka sendiri (subsisten), maka seiring dengan adanya komersialisasi tanaman songga, masyarakat kemudian beralih memanfaatkan tanaman songga untuk dijual guna memenuhi kebutuhan hidup. Meskipun demikian sebenarnya kontribusi penjualan kayu songga terhadap peningkatan ekonomi masyarakat tidak signifikan. Justru yang terjadi adalah semakin langkanya tanaman songga di hutan dimana masyarakat bergantung untuk pengobatan. Akibat lebih lanjut adalah degradasi hutan dan lingkungan hidup masyarakat. Kata kunci : songga, kearifan lokal, pudar.
KEBIJAKAN PENANGKARAN RUSA TIMOR (CERVUS TIMORENSIS) OLEH MASYARAKAT (STUDI KASUS DI NUSA TENGGARA BARAT) Hasan, Rubangi Al; Utomo, M.M. Budi
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.908 KB)

Abstract

ABSTRAK Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan satwa langka yang keberadannya dilindungi undang-undang. Nusa Tenggara Barat (NTB)merupakan salah satu habitat alam rusa timor. Meskipun begitu, keberadaannya di alam sudah semakin langka akibat maraknya perburuan dan perdagangan liar (illegal hunting & illegal trading ). Untuk mencegah kepunahan rusa timor pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam bentuk pemberian ijin penangkaran rusa oleh masyarakat. Kebijakan ini diharapkan dapat mencegah masyarakat melakukan perburuan rusa di alam. Selain itu, masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara ekonomi dalam bentuk pemanfaatan satwa rusa, baik untuk dikonsumsi dagingnya maupun sebagai satwa peliharaan. Dengan kebijakan tersebut diharapkan rusa di habitat alaminya akan tetap terjaga bahkan terus bertambah, sementara masyarakat mendapatkan manfaat dalam bentuk peningkatan kesejahteraan ekonomi. Metodologi kajian ini dilakukan dengan mereview kebijakan terkait penangkaran rusa untuk kemudian dikomparasikan dengan implementasi di lapangan. Kajian ini menunjukkan bahwa produk perundangan yang mengatur penangkaran rusa lebih dominan berasal dari pemerintah pusat. Regulasi yang beroperasi pada tingkat tapak lebih bersifat standar teknis yang dikeluarkan BKSDA NTB. Implementasi peraturan penangkaran rusa masih banyak yang belum berjalan. Penyebabnya adalah kelemahan dari sisi fasilitasi dan kontrol oleh BKSDA NTB, dan di sisi lain kurangnya pemahaman masyarakat terhadap prosedur penangkaran. Kurangnya pemahaman masyarakat sendiri disebabkan minimnya sosialisasi dari pihak berwenang (BKSDA NTB). Kedepannya kebijakan penangkaran rusa oleh masyarakat masih sangat potensial untuk dikembangkan karena minat masyarakat sendiri cukup tinggi. Penguatan kelembagaan sangat perlu dilakukan untuk mendukung kebijakan pengembangan penangkaran rusa oleh masyarakat. Kata kunci : rusa timor, kebijakan, penangkaran, masyarakat
Transformasi Penghidupan Masyarakat Pasca Program HKm Hasan, Rubangi Al; Nurrohmat, Dodik Ridho
Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan dan IPTEK Vol 16, No 2 (2020): Desember
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33658/jl.v16i2.158

Abstract

ENGLISHThis study aims to obtain information on farmers livelihood changesafter the HKm program. This research was conducted in four villages in Central Lombok Regency. The data was collected using in-depth interviews, focused discussion, and document studies. This research found that there was an important transformation in the livelihoods of farmers. First, changes of the livelihoods of the people who previously worked as laborers (agricultural and non-agricultural) then switched to cultivating HKm land. Second, land tenure changed from <0.5 ha to around 1 ha. Third, the institutional aspect. The existence of HKm has made forest management institutions transformed from an individual pattern to an organizational one under farmer groups and cooperatives. Even so, the existing institutions (both organization and rules of the game) are not running optimally yet. Fourth, there has been a change in land cultivation where farmers have started to use better tillage and plant cultivation techniques. Fifth, there is an increase in income even though there is fluctuation in the transitional period when the production of the main crops has not reached optimal productivity. Sixth, in terms of crop commodities, after HKm program, farmers were planting more commercial and higher value commodities than before. INDONESIAProgram hutan kemasyarakatan (HKm) memberikan akses kepada masyarakat di sekitar hutan untuk mengelola dan memanfaatkan hutan. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi perubahan penghidupan petani pasca program HKm. Penelitian ini dilaksanakan di empat desa di Kabupaten Lombok Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam, diskusi terfokus, dan studi dokumen. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa terdapat transformasi yang penting dalam penghidupan petani sekitar hutan pasca introduksi program HKm. Pertama, mata pencaharian masyarakat banyak yang sebelumnya bekerja sebagai buruh (tani dan non pertanian) kemudian beralih menjadi penggarap lahan HKm. Kedua, penguasaan tanah berubah dari  0,5 Ha menjadi sekitar 1 ha . Ketiga, transformasi kelembagaan  pengelolaan hutan dari pola individual menjadi organisasional di bawah kelompok tani dan koperasi. meskipun demikian kelembagaan (baik organisasi maupun aturan main) yang ada belum berjalan optimal. Keempat, perubahan dalam pengelolaan lahan dimana petani mulai menggunakan teknik pengolahan lahan dan budidaya tanaman  yang lebih baik. Kelima, peningkatan pendapatan meskipun terjadi fluktuasi pada periode peralihan ketika produksi tanaman utama belum mencapai produktivitas optimal. Keenam, komoditas tanama sebelum program HKm dijalankan lebih didominasi tanaman kurang bernilai komersial, namun ketika program HKm berjalan tanaman ditanam yang bernilai komersial tinggi. Sebagian besar tanaman merupakan jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK).
KEBIJAKAN PENANGKARAN RUSA TIMOR (Cervus timorensis) OLEH MASYARAKAT (STUDI KASUS DI NUSA TENGGARA BARAT) Hasan, Rubangi Al; Utomo, M.M. Budi
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 8, No 1 (2011): Prosiding Seminar Nasional VIII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan satwa langka yang keberadannya dilindungi undang-undang. Nusa Tenggara Barat (NTB)merupakan salah satu habitat alam rusa timor. Meskipun begitu, keberadaannya di alam sudah semakin langka akibat maraknya perburuan dan perdagangan liar (illegal hunting & illegal trading ). Untuk mencegah kepunahan rusa timor pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam bentuk pemberian ijin penangkaran rusa oleh masyarakat. Kebijakan ini diharapkan dapat mencegah masyarakat melakukan perburuan rusa di alam. Selain itu, masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara ekonomi dalam bentuk pemanfaatan satwa rusa, baik untuk dikonsumsi dagingnya maupun sebagai satwa peliharaan. Dengan kebijakan tersebut diharapkan rusa di habitat alaminya akan tetap terjaga bahkan terus bertambah, sementara masyarakat mendapatkan manfaat dalam bentuk peningkatan kesejahteraan ekonomi. Metodologi kajian ini dilakukan dengan mereview kebijakan terkait penangkaran rusa untuk kemudian dikomparasikan dengan implementasi di lapangan. Kajian ini menunjukkan bahwa produk perundangan yang mengatur penangkaran rusa lebih dominan berasal dari pemerintah pusat. Regulasi yang beroperasi pada tingkat tapak lebih bersifat standar teknis yang dikeluarkan BKSDA NTB. Implementasi peraturan penangkaran rusa masih banyak yang belum berjalan. Penyebabnya adalah kelemahan dari sisi fasilitasi dan kontrol oleh BKSDA NTB, dan di sisi lain kurangnya pemahaman masyarakat terhadap prosedur penangkaran. Kurangnya pemahaman masyarakat sendiri disebabkan minimnya sosialisasi dari pihak berwenang (BKSDA NTB). Kedepannya kebijakan penangkaran rusa oleh masyarakat masih sangat potensial untuk dikembangkan karena minat masyarakat sendiri cukup tinggi. Penguatan kelembagaan sangat perlu dilakukan untuk mendukung kebijakan pengembangan penangkaran rusa oleh masyarakat. Kata kunci : rusa timor, kebijakan, penangkaran, masyarakat
KEBUTUHAN KAYU BAKAR UNTUK MEMBANGUN KEBUN ENERGI DALAM RANGKA MENDUKUNG INDUSTRI GULA KELAPA DI KABUPATEN KEBUMEN, JAWA TENGAH Hasan, Rubangi Al; Sunano, Sunano -
Jurnal Agristan Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Agristan
Publisher : Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/agristan.v6i2.10646

Abstract

Penelitian ini ingin menggali kebutuhan kayu bakar untuk pembangunan kebun energi untuk industri gula kelapa. Penelitian ini menggunakan metode campuran antara kuantitatif dengan kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan survei menggunakan kuesioner dan teknik wawancara mendalam, serta studi dokumen. Teknik sampling menggunakan metode simple random sampling dengan responden masyarakat pengolah nira kelapa. Lokasi penelitian mengambil dua desa yakni Desa Pakuran dan Karangbolong di Kecamatan Buayan.   Penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut. Pertama, kebutuhan kayu bakar untuk pengolahan nira kelapa di Desa Pakuran sebanyak 62,4 m3/tahun, sementara di Desa Karangbolong sebanyak 80,4 m3/tahun. Kedua, Preferensi masyarakat Pakuran atas jenis tanaman penghasil kayu bakar antara  lain akasia (63,3%), sengon laut (56,7%), dan sonokeling (43,3%). Sementara itu preferensi masyarakat Desa Karangbolong atas tanaman penghasil kayu bakar antara lain akasia (73,3%), sengon laut (43,3%) dan mahoni (36,7%). Ketiga, berdasarkan temuan di atas, maka dihasilkanlah konsep kebun energi sebagai berikut. (1) luas lahan minimal 1 Ha. (2) jenis vegetasi memiliki periode tebang pendek maupun memiliki periode tebang panjang namun regenerasi percabangan cepat. (3) pola tanam lebih baik dengan pola campuran baik pada lahan milik maupun pada lahan Perhutani. (4) daur tebangnya antara 5-7 tahun.