Mahfud Mahfud
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Proses Pengambilan Minyak Atsiri Dari Daun Nilam Dengan Pemanfaatan Gelombang Mikro (Microwave) Novita Setya Hernawati; Aprilia Budiarti; Mahfud Mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.938 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.453

Abstract

Minyak daun nilam merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang sering juga disebut dengan minyak eteris atau minyak terbang. Proses pembuatan minyak daun nilam  dapat dilakukan dengan destilasi air, destilasi uap-air dan destilasi uap. Untuk menaikkan harga jual minyak atsiri dan mengoptimalkan potensi minyak atsiri, maka perlu dilakukan usaha untuk menaikkan mutunya sehingga sesuai dengan standart mutu (SNI). Salah satu cara adalah memperbaiki teknik destilasi dan memperbaiki kondisi operasi agar proses distilasi dapat menghasilkan minyak atsiri dengan standart mutu yang berlaku. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan gelombang mikro (microwave), pertama daun nilam sebanyak 100 gram ditambahkan pelarut atau steam untuk variabel daun kering,untuk daun kering di labu distilasi  II diberi steam dari labu distilasi I yang bersuhu 100oC dan tekanannya ± 1 atm yang dialirkan ke labu distilasi II, sedangkan untuk daun  kering dengan penambahan pelarut kemudian memanaskan labu destilasi yang berisi daun nilam dengan mengatur daya pemanas dan suhu pada proses distilasi sesuai dengan variabel yang ditentukan. Kemudian menampung destilat dan memisahkan air dengan minyak menggunakan corong pemisah kemudian minyak disimpan ke dalam freezer, kemudian menganalisa minyak yang dihasilkan. Dari hasil penelitian diperoleh %rendemen minyak yang dihasilkan dengan menggunakan MDP lebih besar daripada menggunakan MDS untuk daun nilam utuh maupun daun nilam cacah (±2cm). Perlakuan daun cacah (±2cm) lebih baik secara kuantitas dibandingkan dengan perlakuan daun utuh. Dan % pactchouli alcohol pada daun nilam cacah lebih besar dibandingkan dengan daun nilam utuh.
Pembuatan Biodiesel Secara Batch Dengan Memanfaatkan Gelombang Mikro (Microwave) Rhesa Purnama Putra; Gria Armando Wibawa; Pantjawarni Priharini; Mahfud Mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.714 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.472

Abstract

Biodiesel merupakan bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, baik minyak baru atau bekas penggorengan melalui proses transesterifikasi, esterifikasi, atau proses esterifikasi-transesterifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat biodiesel dari minyak goreng secara batch melalui proses transesterifikasi dengan menggunakan radiasi mikrowave serta mempelajari berapa daya dan waktu optimal yang diperlukan untuk proses pembuatan biodiesel dengan radiasi microwave dengan katalis CaO, H2SO4, dan tanpa katalis. Dalam penelitian ini digunakan tiga variabel, yaitu daya (Watt);100,200,300,400, waktu (menit); 5,10,15,20 dan jenis katalis; CaO, H2SO4, dan tanpa katalis. Pada tahap persiapan menghitung volume minyak dan metanol yang akan dicampur. Kemudian mencampurnya didalam reaktor. Lalu mendinginkan campuran hingga terbentuk dua lapisan atas dan bawah dilanjutkan dengan melakukan pemisahan lapisan atas (biodiesel) dari lapisan bawah (gliserol). Adapun pada tahap analisis, biodiesel hasil reaksi transesterfikasi dianalisa untuk mendapatkan data yield metil ester, densitas, viskositas, dan flash point. Dari penelitian diketahui bahwa hasil yang didapatkan masih belum dapat memenuhi standar biodiesel yang ditetapkan. Katalis CaO dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan katalis H2SO4 dan tanpa katalis. Kondisi operasi untuk menghasilkan kualitas yield biodiesel terbaik yaitu pada daya 200 Watt selama 20 menit dengan menggunakan katalis CaO. Yield biodiesel terbesar didapatkan yield sebesar 60,11 %.
Pembuatan Nitroselulosa dari Kapas (Gossypium Sp.) dan Kapuk (Ceiba Pentandra) Melalui Reaksi Nitrasi Bayu Erlangga Pramunditta; Ilman Tafdhila; Mahfud Mahfud; Pantjawarni Prihatini
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.895 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.504

Abstract

Saat ini pemanfaatan kapas dan kapuk masih terbatas penggunaannya dan seiring dengan berkembangnya teknologi yang ada saat ini penggunaan kapas dan kapuk mulai sering banyak yang ditinggalkan. Oleh karena hal tersebut perlu dipikirkan kembali penggunaan kapas dan kapuk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomis yang lebih tinggi, diantaranya memanfaatkannya untuk pembuatan nitroselulosa. Tulisan ini menerangkan tentang pengaruh bahan baku selulosa pada proses pembuatan nitroselulosa dari bahan selulosa kapas dan kapuk dengan reaksi nitrasi, yang kedua pengaruh waktu reaksi, suhu reaksi, dan komposisi larutan asam terhadap kualitas nitroselulosa yang dihasilkan, dan yang ketiga perbandingan kualitas nitroselulosa yang dihasilkan dari selulosa kapas dan dari selulosa kapuk. Pada penelitian ini dibagi dalam dua tahapan yaitu tahap pembuatan nitroselulosa dan tahap pengujian ratio %nitroselulosa yang diperoleh dan kandungan gugus nitro dalam nitroselulosa. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah diketahui bahwa bahan baku selulosa kapas menghasilkan % rasio nitroselulosa produk lebih besar apabila dibandingkan dengan % rasio yang dihasilkan oleh bahan baku selulosa kapuk. %Rasio nitroselulosa dari bahan kapas adalah 20-50%, sedangkan untuk bahan kapuk adalah 6-30%.  Untuk menghasilkan gugus nitro yang paling banyak, pada variabel kapas diperlukan waktu reaksi 30 menit, suhu reaksi 15OC, dan komposisi campuran asam H2SO4 60 ml dan HNO3 45 ml. Sedangkan untuk variabel kapuk, untuk menghasilkan gugus nitro yang paling banyak, pada variabel kapas diperlukan waktu reaksi 60 menit, suhu reaksi 5OC, dan komposisi campuran asam H2SO4 60 ml dan HNO3 30 ml.