Gontjang Prajitno
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fabrikasi dan Karakterisasi Directional Coupler Konfigurasi 3×3 Planar Berbahan Serat Optik Plastik Step-Index Moda Jamak Tipe FD-620-10 Mohammad Ainul Yaqin; Gontjang Prajitno
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.552 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12506

Abstract

Fabrikasi dan karakterisasi directional coupler konfigurasi 3×3 planar berbahan serat optik plastik step index moda jamak tipe FD-620-10 telah dilakukan dengan panjang kupasan 35 mm, 40 mm, 45 mm, 50 mm, 55 mm, 60 mm dan 65 mm menggunakan pendekatan metode Fused Biconical Tapered (FBT) yang menghasilkan karakteristik yang berbeda. Hasil karakterisasi directional coupler konfigurasi 3×3 planar menggunakan BF5R-D1-N menunjukkan bahwa semakin besar panjang kupasan maka semakin besar rugi daya dan semakin kecil intensitas cahaya yang diteruskan. Pada directional coupler konfigurasi 3×3 planar dengan panjang kupasan 60 mm dan input pada Port B1 didapatkan nilai CR = 0.34 : 0.31 : 0.35 ; Le = -3.59 dB; Lins = -8.24 dB, -8.67 dB, -8.19 dB; dan D = -13.33 dB, -13.43 dB. Piranti ini paling baik digunakan sebagai pembagi daya maupun pemecah berkas sehingga selanjutnya dapat digunakan sebagai piranti dalam sensor.
Analisis Pengaruh Perubahan Suhu dan Perubahan Panjang Kupasan Cladding serta Coating Terhadap Rugi Daya yang Dihasilkan Oleh Fiber Optik Multimode Silika Tipe G-651 Rahmi Intan Yunifar; Gontjang Prajitno
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.788 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12954

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan suhu dan perubahan panjang kupasan cladding serta coating terhadap nilai rugi daya (loss) yang ditimbulkan pada fiber optik multimode silica tipe G-651. Rugi daya yang dihasilkan diukur dengan alat ukur optical power meter. Variasi panjang kupasan yang digunakan yakni 2 cm, 3 cm dan 4,7 cm. Pengukuran rugi daya dilakukan tiap variasi panjang kupasan yang diberi perubahan suhu dari sumber pemanas berupa lampu bohlam dengan daya 100 watt. Perubahan suhu diukur tiap kenaikan dan penurunan 1°C dari suhu awal. Panjang gelombang pada power source yang digunakan yakni 1310 nm dan 1550 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar panjang kupasan cladding dan coating serat optik menyebabkan nilai rugi daya (losses) semakin besar. Pada panjang gelombang sumber 1310 nm sensitivitas dari serat optik terhadap perubahan suhu lebih tinggi jika dibanding dengan sensitivitas dari serat optik dengan panjang gelombang sumber 1550 nm. Perlakuan pemberian suhu yang semakin tinggi mengakibatkan nilai intensitas daya keluaran (μw) yang ditangkap optical power meter semakin menurun, yang menunjukkan terjadi banyak rugi daya (loss) pada fiber optik yang diuji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan suhu dan perubahan panjang kupasan cladding serta coating terhadap nilai rugi daya (loss) yang ditimbulkan pada fiber optik multimode silica tipe G-651. Rugi daya yang dihasilkan diukur dengan alat ukur optical power meter. Variasi panjang kupasan yang digunakan yakni 2 cm, 3 cm dan 4,7 cm. Pengukuran rugi daya dilakukan tiap variasi panjang kupasan yang diberi perubahan suhu dari sumber pemanas berupa lampu bohlam dengan daya 100 watt. Perubahan suhu diukur tiap kenaikan dan penurunan 1°C dari suhu awal. Panjang gelombang pada power source yang digunakan yakni 1310 nm dan 1550 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar panjang kupasan cladding dan coating serat optik menyebabkan nilai rugi daya (losses) semakin besar. Pada panjang gelombang sumber 1310 nm sensitivitas dari serat optik terhadap perubahan suhu lebih tinggi jika dibanding dengan sensitivitas dari serat optik dengan panjang gelombang sumber 1550 nm. Perlakuan pemberian suhu yang semakin tinggi mengakibatkan nilai intensitas daya keluaran (μw) yang ditangkap optical power meter semakin menurun, yang menunjukkan terjadi banyak rugi daya (loss) pada fiber optik yang diuji.