Endrotomo Endrotomo
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Ekowisata Mangrove Dusun Pucukan Dhita Dwidinita; Endrotomo Endrotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.025 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17645

Abstract

Pada era globalisasi, masih saja terdapat desa / daerah tertinggal di Indonesia. Daerah tertinggal itu sendiri sebagian besar berada pada wilayah-wilayah terluar Indonesia. Salah satu penyebab yaitu jauhnya daerah dari pusat kota dan sulitnya akses menuju lokasi. Dusun Pucukan Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur termasuk ke dalam kategori daerah tertinggal disebabkan oleh kehidupan warganya kurang layak. Keadaan dusun ini membutuhkan suatu perubahan agar kualitas hidup dan lingkungan warga menjadi lebih baik. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dusun Pucukan memiliki potensi mangrove yang belum tereksplorasi. Oleh karena itu, muncullah ide perancangan kawasan ekowisata mangrove di dusun Pucukan. Sebuah kawasan ekowisata diharapkan akan membantu meningkatkan kualitas ekonomi penduduk setempat, sehingga dusun Pucukan menjadi dusun yang mandiri. Kawasan ekowisata mangrove terdiri dari fasilitas riset dan pendidikan; wisata; dan industri yang berbasis masyarakat. Rancangan menggunakan pendekatan, green building, ecotourism society dan architecture promenade. Pendekatan green building dan ecotourism society dipilih agar desain yang tercipta tidak merusak alam dan kondisi lingkungan disekitar lokasi serta memberikan dampak positif pada penduduk setempat, sedangkan architecture promenade dipilih untuk menciptakan sekuen yang diinginkan pada rancangan.
Peningkatan Aktivitas Fisik dan Kesehatan dengan Penerapan Active Design Guidelines Hasri Nimas Wiyajanti; Endrotomo Endrotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.865 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26491

Abstract

Di era globalisasi saat ini, gaya hidup manusia dipengaruhi oleh modernisasi. Tanpa disadari hal tersebut berdampak buruk bagi manusia, terutama dalam kesehatan. Penyakit tidak menular adalah masalah kesehatan bersumber dari kurangnya aktivitas fisik serta tidak diterapkannya pola hidup sehat. Gaya hidup paling signifikan mempengaruhi kesehatan adalah cara bekerja manusia modern saat ini. Semakin modern, semakin jauh pula manusia dari pekerjaan yang menggunakan aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik juga dapat menyebabkan kelelahan kerja yang berdampak pada kesehatan sehingga menurunkan produktivitas kinerja. Sehingga perkantoran menjadi salah satu cermin dari gaya hidup modern yang dapat direspon untuk memicu aktivitas fisik dan kesehatan pengguna di dalamnya. Arsitektur seharusnya menjadi respon perilaku dari manusia tersebut sehingga dapat memaksa manusia untuk beraktivitas fisik lebih. Prinsip-prinsip dari pendekatan Active Design dan ergonomi sebagai acuan pembuatan kriteria untuk mencapai tujuan dari perancangan ini. Metode Behaviour Mapping digunakan untuk mengetahui aktivitas. Aktivitas tersebut berpengaruh pada konsep pengolahan program ruang, sirkulasi, dan pengolahan elemen arsitektur yang dapat memicu aktivitas fisik dan kesehatan lebih. Jadi, konsep utama dalam perancangan ini adalah penambahan area hijau pada sekitar area kerja baik di luar maupun di dalam bangunan serta pengolahan sirkulasi vertikal dengan split level lantai, penambahan ramp pada area tertentu untuk relaksasi maupun pengolahan tangga yang lebih mudah dilihat dan dijangkau.
Penerapan Konsep Defensible Space Pada Hunian Vertikal Ariq Amrizal Haqy; Endrotomo Endrotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.203 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26544

Abstract

Hunian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang paling mendasar. Kebutuhan akan hunian dan permasalahan keterbatasan lahan, maka mendorong pengembangan hunian vertikal. Namun hunian vertikal yang ada saat ini banyak memisahkan penghuninya dengan jalanan dan masyarakat sekitar yang berakibat interaksi dan keakraban menjadi mulai pudar. Interaksi sosial tersebut hakikatnya merupakan sebuah modal sosial untuk menjadi masyarakat produtif yang sejahtera. Disisi lain, masyarakat memilih untuk tinggal di hunian vertikan karena alasan privasi. Kebutuhan masyarakat yang fundamental, bertabrakan dengan keinginan individu di masa kini. Hal tersebut merupakan permasalahan yang terkait dengan arsitektur sebagai wadah aktifitas manusia. Sehingga konsep defensibel space akan diterapkan pada rancangan sehingga hunian dapat terbuka untuk umum tanpa mengorbankan privasi penghuninya. Empat unsur yang digunakan untuk mengaplikasikan defensible space yaitu territoriality, natural surveillance, dan image and milieu, untuk menciptakan safe area. Teori merancang ruang luar dari Yoshinobu Ashihara digunakan sebagai panduan untuk mengatur zona dan ruang sehingga menciptakan territoriality dan natural surveillance yang diharapkan. Akses visual penghuni menuju ruang luar, pengaturan zoning, dan kesan meruang pada bangunan merupakan poin utama. Sehingga fasilitas umum diletakkan pada bangunan agar dapat mengundang masyarakat luar untuk beraktifitas. Lalu bentuk lingkungan berupa setengah lingkaran dan disusun secara diagonal untuk memaksimalkan akses visual penghuni ke ruang luar dan mempertegas batas zona public dan privat tanpa mengahalangi secara fisik.
Rancangan Taman Air Sungai Ciliwung pada Sempadan Sungai di Menteng, Jakarta Pusat Raey Monica Flamencya Saragih; Endrotomo Endrotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.113 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26608

Abstract

Sungai Ciliwung Jakarta dalam sejarah merupakan kawasan yang digunakan untuk perdagangan. Tetapi, seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran yang membuat sungai Ciliwung menjadi kawasan yang ‘ditinggalkan’. Salah satu daerah tersebut yaitu Tugu Tani dijadikan sebagai lahan studi. Obyek desain menghadiri aktivitas untuk menghidupkan daerah setempat dengan menyediakan “Taman Air Sungai Ciliwung”. Desain dilakukan dengan mendekatkan obyek dan lahan eksisting yaitu sungai Ciliwung sehingga lahan studi dibagi menjadi dua kawasan yang mengapit sungai. Obyek rancang menggunakan metode perancangan ruang luar untuk mencapai tujuan dari desain bangunan yaitu kesatuan antara obyek dan lahan eksisting. Penggunaan metode menyesuaikan bentuk lahan eksisting dengan menambahkan materi baru yang didesain terbuka tanpa melepaskan kenyamanan pengunjung. Obyek desain menyediakan aktivitas rekreasi yang menggunakan elemen air dari sungai Ciliwung pada kawasan I dan aktivitas perdagangan sebagai sarana ekonomi untuk meningkatkan kualitas masyarakat setempat pada kawasan II. Kedua kawasan merupakan rancangan ruang luar yang dihubungkan dengan jembatan dan transportasi air pada sungai Ciliwung.