Josef Prijotomo
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Memoar : Ada - Tiada ( Trans-Programming Fasilitas Pemakaman dan Museum pada Lahan Pemakaman Ngagel ) Haris Widi Pratama; Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.201 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18931

Abstract

Memoar : Ada-tiada; untuk membentuk sebuah arsitektur yang mampu membangkitkan jiwa dari sebuah tempat, perancang perlu mempertimbangkan bagaimana sebuah cerita dapat di sampaikan melalui bahasa – bahasa arsitektural. Rangkaian pesan tersublimasi ke dalam gubahan ruang yang dimanifestasikan oleh material – konstruksi ke dalam rangkaian sekuen ruang - ruang. Desain ini mengangkat cerita mengenai artifak sebuah kota, dimana muara semua akhir yang kini terancam akibat perkembangan sebuah kota. Keberadaannya mulai terisolir di tengah lingkungan padat penduduk akibat tiadanya aktivitas selain membumikan sanak kerabat. Taman Makam Pahlawan Ngagel didesak dari berbagai arah, semakin ia terdesak, semakin dijejali batu – batu berukirkan nama – nama tak bertuan. Semakin terdesak, semakin terisolir dari sekitar. Letaknya yang sangat strategis membuat fasilitas pemakaman tersebut membutuhkan sebuah... untuk dapat beradaptasi terhadap kondisi yang semakin menghimpitnya. Jika tidak, ia akan mulai disuksesi oleh kegiatan lain yang sangat mungkin terjadi dan mengakibatkannya terbengkalai sebagaimana fasilitas pemakaman lain di tengah kota Surabaya. Selain itu, pemakaman tersebut juga merupakan artefak kota Surabaya dimana beberapa pahlawan dimakamkan, yang salah satunya adalah pahlawan revolusioner Bung Tomo.  Memoar : Ada – tiada mencoba menjadi pionir dalam memecahkan keadaan tersebut dengan memadukan aktivvitas pemakaman dengan aktivitas rekreasi-edukasi yang akan menghadirkan ruang – ruang kontemplatif pada pengunjung dengan menitik beratkan kepada desain yang mampu menggugah jiwa pengunjungnya untuk berkontemplasi.
Wayang House – Rumah Wayang Teuku Hanif Zayadi; Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.134 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18971

Abstract

Wayang merupakan salah satu kesenian tradisional Indonesia yang berkembang di pulau Jawa dan Bali. Awalnya seni pertunjukan wayang ini sebagai media penyebaran agama Hindu di Indonesia melalui cerita Ramayana dan Mahabharata. Saat ini minat anak muda akan kesenian wayang mulai berkurang seiring dengan globalisasi dan kemajuan teknologi yang membuat mudahnya budaya luar masuk. Metode Inquiry by Design oleh John Zeisel digunakan dalam merancang objek ini. Respon arsitektural berupa ruang publik yang dapat mengedukasi masyarakat akan nilai-nilai wayang. Arsitektur yang dapat menstimulasi kreatifitas anak muda dan mengubah pandangan tentang kesenian wayang.
Pendekatan Materialitas dan Lokalitas Penggugah Kesadaran Material Bambu Rizqi Heronova Putra; Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.289 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20051

Abstract

Bambu merupakan material yang dapat diperbaharui dan selalu tersedia di Indonesia hingga sekarang. Dari 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis (11%) diantaranya adalah asli Indonesia Namun, kejayaan bambu perlahan runtuh sejak pemerintah Hindia Belanda memvonis bahwa bambu tidak layak pakai sebagai material bangunan.Di saat bersamaan, datanglah pengetahuan tentang penggunaan material batubata, besi, serta semen dalam konstruksi bangunan dan menjelma menjadi material bergengsi dan disebut ‘gedongan’, sehingga secara tidak langsung bambu dianggap sebagai material ‘jelata’.Walaupun bambu memiliki banyak keunggulan, namun keberadaan bambu di Indonesia masih jauh dari maksimal dalam pemanfaatannya. Hal ini karena pada umumnya material bambu masih dianggap tradisional. Keraguan masyarakat tentang kekuatan dan kelebihan bambu ini akan berubah jika mereka diperlihatkan contoh nyata. Permasalahan desain yang dihadapi adalah bagaimana obyek arsitektur dapat menyadarkan masyarakat mengenai potensi bambu sebagai salah satu material lokal arsitektur. Obyek yang diusulkan adalah sebuah bengkel yang menggugah kesadaran masyarakat terhadap material bambu.
Metabolisme Apartement Peti Kemas Jamal Abdul Nasir; Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.784 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26497

Abstract

Hunian adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Namun dewasa ini, hunian menjadi hal yang sangat mahal dan sulit didapatkan karena lahan yang terbatas dan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Namun biaya untuk membeli sebuah unit hunian vertical juga tidaklah murah mengingat biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya juga besar.Peti kemas adalah bahan yang mudah didapatkan didaerah kota kususnya di dekat pelabuhan. Peti-peti tersebut menjadi limbah yang besar dan menumpuk di suatu Negara terutama Negara berkembang yang kebanyakan mengekspor bahan mentah dan tingginya impor barang hasil produksi. Dengan adanuya dua masalah tersebut didapat solusi guna menanggulangi masalah tersebut yakni adanya apartement berkonsep modular berbahan peti kemas.
Teknologi Virtual Reality dalam Arsitektur sebagai Bentuk Penanganan Stres Masyarakat Perkotaan pada Masa Kini Stephanie Febrianti Hidayat; Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.909 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26561

Abstract

Seiring dengan perkembangan zaman, kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan, seringkali menuntut mereka untuk mampu mengerjakan banyak hal dalam suatu waktu yang menyebabkan masyarakat rentan mengalami tekanan pikiran dalam hidupnya. Tekanan ikiran yang berkepanjangan akan menimbulkan stres yang berdampak kepada penurunan kinerja seseorang. Oleh sebab itu, diperlukan suatu kehadiran arsitektur sebagai buah pikiran manusia yang ideal, sehingga mampu mewadahi kegiatan penanganan stres yang sesuai dengan kondisi perkotaan masa kini. Layaknya buah pikiran, maka arsitektur hendaknya juga mampu mencitrakan pikiran yang sehat kepada manusia. Hal ini dilakukan untuk menyadarkan manusia bahwa sebenarnya kunci pengendalian pikiran mereka agar tidak rentan stres ialah dengan menyadari dan mengenali pikiran mereka sendiri. Dengan menggunakan bantuan teknologi masa kini, arsitektur, selain hendak diwujudkan sebagai bentuk inovasi didalam kegiatan merancang, juga hendak diwujudkan sebagai citra pikiran seseorang sesungguhnya yang bersifat tanpa batas.