Memilih dan memeluk agama adalah hak asasi yang dilindungi undang-undang diIndonesia. Adanya fenomena menarik mengenai hal tersebut adalah fenomena pindah agama.Tetapi, pindah agama tetap menjadi fenomena yang mengejutkan, terutama di Indonesia.Tidak selalu terjadi pada individu yang melakukannya, bisa jadi terjadi pada keluarga, pihaklain yang bersangkutan, atau bahkan orang-orang disekitar lingkungan. Hal tersebut tentu sajamembutuhkan negosiasi identitas, dimana seseorang memiliki motivasi untuk menyampaikanharapan terhadap identitas yang yang mereka inginkan untuk dihargai oleh pihak lain.Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatanfenomenologi. Penelitian ini melibatkan pasangan orang tua dengan anak yang melakukanperpindahan keyakinan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengalaman negosiasiidentitas antara anak yang melakukan perpindahan agama kepada orang tuanya. Pendekatanteori dalam penelitian ini adalah Teori Pola Asuh Orang Tua (Le Poire, 2006) dan TeoriNegosiasi Identitas (Gudykunst, 2005). Melalui pendekatan fenomenologi dalam metodekualitatif, peneliti menggunakan indepth interview sebagai teknik pengumpulan data.Negosiasi identitas adalah proses interaksi transaksional yang berusahamenyampaikan, menegaskan, mempertahankan, mendukung atau mempertahankan citra diriyang diinginkan pihak-pihak yang terkait. Latar belakang masing-masing keluarga yangberbeda tentu saja menghasilkan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan komunikasi yangberbeda-beda. Dalam penelitian ini didapatkan bahwa ketaatan dalam beragama serta variasipribadi dan situasional anggota keluarga merupakan faktor yang paling berpengaruh dalamproses negosiasi identitas yang dilakukan. Pola asuh dalam keluarga juga mempengaruhinegosiasi identitas. Pola asuh yang mendukung terjadinya negosiasi identitas yang kompetenadalah pola asuh permisif dan otoritatif. Negosiasi identitas antara anak yang melakukanperpindahan agama dengan orang tuanya dapat dikatakan kompeten jika mampu melakukaninteraksi dengan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan interaksi yang baik danmelakukannya secara tepat dan efektif. Memiliki motivasi untuk terus-menerus berusahadapat dikatakan mencapai hasil yang memuaskan jika kedua belah pihak dapat salingmengerti, menghormati dan menghargai. Perasaan tersebut dapat ditunjukkan dengantindakan nyata seperti saling menghormati kegiatan agama satu sama lain dan tetap menjagahubungan yang baik dengan keluarga.Kata kunci : Agama, Pindah Agama, Negosiasi Identitas, Pola Asuh