Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Teritori Ruang Pada Aktivitas Budaya Dan Ritual di Dusun Tambakwatu, Pasuruan Diana Stefanie; Antariksa Sudikno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dusun Tambakwatu merupakan daerah yang masih kental akan adat dan budaya kejawennya. Hal ini dapat dilihat dari rangkaian pernikahan dan selametan yang masih menggunakan pakem-pakem Jawa. Aktivitas ritual dan budaya yang berjalan di Dusun Tambakwatu bersifat komunal dan sebagian besar terjadi di dalam rumah. Hal ini bersebrangan dengan pemahaman bahwa rumah adalah teritori primer dalam skala meso dan makro. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan teritori ruang yang terbentuk pada aktivitas budaya dan ritual dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menghasilkan bahwa semakin besar dan semakin banyak aktivitas dalam suatu acara membutuhkan area yang lebih luas dan dapat menginvasi teritori orang lain.
Pelestarian Gedung Juang 45 Bekasi Shinta Fitri Amalia; Antariksa sudikno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gedung juang 45 Bekasi merupakan salah satu dari sedikit bangunan peninggalan Belanda yang masih berdiri di kota Bekasi hingga saat ini. Menurunnya kualitas bangunan dan kurangnya perhatian masyarakat sekitar terhadap bangunan ini menjadi alasan ketertarikan menjadikan Gedung Juang 45 Bekasi sebagai objek penelitian. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi karakter bangunan, menganalisis makna kultural dan menentukan strategi pelestarian yang dapat diterapkan pada bangunan. Metode yang digunakan untuk menganalisis data pada studi ini adalah metode deskriptif analisis, metode evaluatif (pembobotan), dan metode development.  Hasil dari analisis menunjukkan bahwa karakter bangunan termasuk dalam bangunan berlanggam arsitektur Indische Empire Style. Upaya pelestarian yang dilakukan dibedakan menjadi tiga kelas nilai potensial. Nilai potensial tinggi (16-18) mendapatkan tindakan pelestarian preservasi (13 elemen), konservasi (4 elemen), dan rehabilitasi (1 elemen). Nilai potensial sedang  (11-15) mendapatkan tindakan pelestarian konservasi (4 elemen), rehabilitasi (3 elemen), rekonstruksi (1 elemen). Nilai potensial rendah (6-10) hanya dapat melakukan tindakan pelestarian rehabilitasi (1 elemen) dan rekonstruksi (1 elemen).   Kata kunci: Bangunan bersejarah, arsitektur kolonial, karakter arsitektural, pelestarian  
Pelestarian Bangunan SMPN 3 Surabaya Andyani Sarasati; Antariksa Sudikno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Surabaya memiliki banyak bangunan kuno yang merupakan peninggalan dari Hindia Belanda.  Salah satu bangunan peninggalan Hindia Belanda di Surabaya adalah SMPN 3 Surabaya. Sekolah yang sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya ini mulanya bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yang merupakan sekolah setara SMP pada zaman penjajahan Belanda. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik elemen spasial, visual, dan struktural bangunan SMPN 3 Surabaya; dan  menganalisis dan menentukan strategi pelestarian dari bangunan SMPN 3 Surabaya. Tiga metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, evaluatif, dan development. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik elemen spasial yang mengalami perubahan signifikan ditemukan pada massa C. Pada elemen visual hanya beberapa variabel yang mengalami perubahan signifikan dari ketiga massa. Untuk karakter struktural bangunan masih terjaga keasliannya. Hasil dari analisis elemen bangunan didapatkan tiga kelas nilai potensial. Nilai potensial tinggi dengan tindakan pelestarian berupa preservasi, konservasi, dan rehabilitasi; nilai potensial sedang dengan tindakan konservasi dan rehabilitasi; dan nilai potensial rendah dengan tindakan rehabilitasi.
Konsep Catuspatha Pada Kawasan Puri (Studi Kasus: Puri Agung Tabanan dan Puri Agung Buleleng) ida Ayu Santi Priyanka; Antariksa Sudikno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Puri Agung merupakan bangunan bersejarah yang dahulunya merupakan tempat tinggal seorang raja yang memerintah sebuah kawasan di Bali. Puri Agung beserta kawasan sekitarnya dibangun menggunakan konsep tradisional Bali yaitu Catuspatha. Konsep Catuspatha merupakan konsep yang mengatur pola ruang berdasarkan empat mata angin, dan ditemukan dalam lontar Eka Pretamaning Brahmana Sakti dan lontar Batur Kelawasan. Pengaruh letak geografis berpengaruh pada arah mata angin, sehingga terdapat dua objek pada penelitian ini yaitu kawasan Puri Agung Tabanan dan Puri Agung Buleleng. Kawasan Puri Agung di Bali mengalami beberapa kali perubahan akibat adanya pergantian sistem pemerintahan hingga sosial dan budayanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi peran konsep Catuspatha terhadap pembentukan pola ruang pada kawasan puri Agung di Bali. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah konsep Catuspatha tidak bersifat mutlak dikarenakan ditemukan penyesuaian pada beberapa elemen Catuspatha karena adanya perkembangan zaman.
Pola Ruang Dalam Rumah Adat Kaki Seribu Di Kampung Demaisi Kabupaten Pegunungan Arfak,Papua Barat anviasty nur istiqomah; Antariksa Sudikno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaki Seribu (ibeiya) ) merupakan rumah tradisional salah satu rumah adat di Indonesia yang berasal dari Papua Barat. Pola ruang dalam pada rumah tradisional Kaki Seribu ini merupakan salah satu pembahasan yang penting yang dapat diteliti dari keseluruhan bahan yang ada pada ibeiya ini. Salah satu lokasi yang masih banyak terdapat rumah Kaki Seribu (ibeiya) adalah Kampung Demaisi Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat. Letak Kampung ini berada di antara hutan yang dilindungi dan merupakan salah satu Kampung yang di lewati untuk menuju tempat wisata Danau Anggi. Penelitian ini merupakan salah satu maslah yang penting dalam ibeiya yaitu dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk pola ruang dari sebuah rumah ibeiya. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus rumah tradisional Kaki Seribu (ibeiya) yang ada di Kampung Demaisi. Analisis penelitian ini dilakukan berdasarkan enam aspek yaitu Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah zonasi, fungsi, orientasi, hirarki, sirkulasi dan elemen pembentuk ruang. Studi ini akan menunjukan pola ruang yang tersusun dari rumah ibeiya. Pola ruang yang dihasilkan berdasarkan klarifikasi didalam kawasan tersebut. Kata kunci: ruang dalam, rumah kaki seribu (ibeiya)
Karakter Visual Bangunan Stasiun Kereta Api Cimahi Indira Rizki Utami; Antariksa Sudikno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakter visual pada bangunan Stasiun Kereta Api Cimahi. Stasiun Kereta Api Cimahi merupakan bangunan kolonial yang awalnya berfungsi sebagai sarana pengangkutan logistik militer dan mobilitas pasukan dari Cimahi ke Batavia. Penelitian ini merupakan penelitian analisis kualitatif dengan pendekatan metode deskriptif analisis. Variabel amatan pada penelitian ini merupakan elemen pembentuk kerekter visual berupa atap, dinding, pintu, jendela, kolom, lantai, plafond, dan komposisi visual berupa keseimbangan, irama, pusat perhatian, proporsi, dan kesatuan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pintu dan jendela Stasiun Cimahi memiliki ukuran yang monumental dan dominan menggunakan motif ornamen sulur. Elemen lantai asli menggunakan lantai tegel dengan ornamen bunga, selain itu terdapat keramik pada dinding ruang tunggu dengan motif tumbuhan. Elemen visual Stasiun Cimahi dominan menggunakan ornamen sulur dan bunga. Ornamen sulur dan bunga merupakan motif ornamen art nouveau.Kata kunci: karakter visual, Stasiun Kereta Api Cimahi, bangunan kolonial Belanda
Komposisi Geometri menurut Francis D.K. Ching pada Pintu Bangunan Toko Merah, DKI Jakarta Ruth Nauli Sidabutar; Antariksa Sudikno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan Toko Merah merupakan salah satu bangunan yang menonjol dibandingkan bangunan lingkungan sekitar karena fasadnya yang berwarna merah dengan 63 pintu dari 38 ragam jenis pintu. Keunikan ini menjadikan bangunan layak dilestarikan. Kondisi bangunan yang saat ini tidak digunakan secara aktif memerlukan adanya penelitian mengenai karakteristik arsitektural bangunan khususnya pada komposisi geometri pintu Bangunan Toko Merah sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan yang dapat dilakukan di masa depan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk mendapatkan hasil mengenai komposisi geometri pintu. Enam (6) prinsip teori F.D.K. Ching yaitu sumbu, simetri, hirarki, irama, datum, dan transformasi digunakan pada penelitian ini dikarenakan bangunan Toko Merah yang merupakan peninggalan Hindia Belanda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebagian besar dari 38 ragam jenis pintu pada bangunan Toko Merah menerapkan enam prinsip komposisi geometri tersebut.
Konfigurasi Spasial Desa Wisata Gubugklakah Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Elvira Nur Cholida; Antariksa Sudikno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Wisata Gubugklakah adalah salah satu desa yang terpilih menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) oleh Kemenparekraf dengan tujuan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik di kawasan Bromo-Tengger-Semeru. Perubahan Desa Gubugklakah menjadi desa wisata mengakibatkan perubahan pada tatanan elemen konfigurasi spasial desa baik secara mikro maupun meso. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menerapkan teori dan menganalisis perubahan elemen konfigurasi spasial pada tingkat mikro serta meso Desa Wisata Gubugklakah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan secara diachronic dan syncronic reading untuk meninjau variabel penelitian. Hasil penelitian yang diperoleh berupa perubahan elemen konfigurasi spasial baik secara mikro maupun meso dari Desa Gubugklakah akibat berubahnya fungsi kawasan menjasdi kawasan wisata dan penambahan fungsi homestay. Perubahan pada elemen konfigurasi spasial Desa Gubugklakah ini dikarenakan oleh pemanfaatan ruang secara maksimal terkait isu potensial kawasan wisata.
KONFIGURASI BANGUNAN HUNIAN RUMAH ADAT DESA WISATA OSING, BANYUWANGI Risla, Nauval; Antariksa Sudikno; Damayanti Asikin
Pawon: Jurnal Arsitektur Vol 9 No 01 (2025): Pawon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/pawon.v9i01.10057

Abstract

Desa Wisata Osing telah ditetapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi sebagai cagar budaya serta mengembangkannya menjadi sebuah desa wisata. Desa Wisata ini sudah berdiri sejak diresmikan sebagai cagar budaya oleh Pemkab ini mempunyai area khusus yang hanya terdapat beberapa rumah yang sudah berdiri sejak tahun 1960an dan masih bertahan sampai sekarang. Studi ini mengkaji tentang bentuk visual pada arsitektur vernakular pada Desa Wisata Osing Kemiren, Banyuwangi. Desa Wisata Osing Kemiren dipilih menjadi lokasi penelitian berdasarkan keunikan bentuk arsitekturnya yang menarik untuk dieksplorasi. Tujuan kajian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang bentuk visual arsitektur dari rumah adat Osing yang terletak pada Desa Wisata yang masih mempertahankan rumah adat sejak tahun 1960an. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan melakukan proses pengambilan data dilakukan berdasarkan hasil studi observasi sebagai data primer dan studi literatur sebagai data. Hasil observasi tersebut kemudian di analisis secara kualitatif dan dideskripsikan dengan menyajikan tabel observasi dari beberapa objek rumah yang terpilih dengan berlandaskan beberapa faktor penelitian untuk mendapatkan bentuk visual pada arsitekturnya. Hasil studi ini akan menjabarkan data hasil observasi secara bentuk visual dari arsitektur rumah adat Osing di Desa Wisata Osing, Kemiren