Sarmaida Siregar
Staf Pengajar Prodi D-III Keperawatan STIKes Imelda Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA OSTEOPOROSIS PADA LANSIA DI PANTI WERDHA YAYASAN GUNA BUDI BAKTI MEDAN TAHUN 2012 Sarmaida Siregar
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 2 No. 2 (2016): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut WHO (1994), angka kejadian patah tulang (fraktur) akibat osteoporosis diseluruh dunia mencapai angka 1,7 juta orang dan diperkirakan angka ini meningkat hingga mencapai 6,3 juta orang pada tahun 2050 dan 71% kejadian ini akan terdapat dinegara-negara berkembang. Di Indonesia 19,7% dari jumlah lansia atau sekitar 3,6 juta orang diantaranya menderita osteoporosis (Klinik medis, 2008). Lima Provinsi dengan resiko osteoporosis lebih tinggi Sumatera selatan (27,7%), Jawa tengah (24,02%0, Yogyakarta (23,5%), Sumatera utara (22,82%), Jawa timur (21,42%), Kalimantan timur (10,5%) (Depkes, 2005). Pada tulang osteoporosis telah menjadi suatu ancaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Osteoporosis Pada Lansia Di Panti Werdha Guna Budi Bakti Medan. Penelitian ini deskriptif dengan menggunakan data primer dalam pengambilan data sampel digunakan metode quota sampling, dengan jumlah responden 30 responden. Hasil penelitian dari 30 responden yaitu mayoritas responden yang menyatakan gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis pada lansia si panti werdha yayasan guna budi bakti medan berdasarkan peningkatan usia sebanyak 15 orang (50%) dengan kriteria tinggi, sebanyak 11 orang (37%) dengan kriteria cukup tinggi, dan sebanyank 4 orang (13%) dengan kriteria rendah. berdasarkan menopouse dengan kriteria tinggi sebanyak 10 orang (33%), cukup tinggi sebanyak 14 orang (47%), sedangkan dengan kriteria rendah sebanyak 6 orang (20%). berdasarkan pola makan dengan kriteria tinggi sebanyak 3 orang (10%), cukup tinggi sebanyak 12 orang (40%), sedangkan dengan kriteria rendah sebanyak 15 orang (50%).
GAMBARAN STATUS GIZI TERHADAP KEJADIAN TB PARU DI RUMAH SAKIT IMELDA MEDAN TAHUN 2018 Sarmaida Siregar; Vita Sari Tampubolon
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4 No. 2 (2018): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jikeperawatan.v4i2.292

Abstract

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis). Salah satu faktor yang mempengaruhi terjangkitnya penyakit tuberkulosis paru adalah status gizi. Status gizi yang yang buruk akan meningkatkan risiko penyakit tuberkulosis paru. Sebaliknya, tuberkulosis paru berkontribusi menyebabkan status gizi buruk karena proses perjalanan penyakit yang mempengaruhi daya tahan tubuh. Hal ini yang menjadi salah satu alasan utama peneliti untuk mengetahui gambaran status gizi terhadap kejadian TB Paru di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan . Jenis penelitian adalah deskriptif yang dilaksanakan di Rumah Sakit Imelda dan bertujuan untuk mengetahui gambaran Status Gizi terjadap kejadian TBParu di Rumah Sakit Imelda Medan. Pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling jenis purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 45 orang. Hasil penelitian menunjukan status 5gizi pada pnderita TB Paru dengan kriteria kurang tingkat berat sebanyak 17 responden (37,78%), dengan kriteria kurang tingkat ringan sebanyak 9 responden (20%), dengan kriteria normal sebanyak 19 responden (42,22%), sedangkan tidak ditemukan responden dengan kriteria lebih tingkat ringan. Hasil dari penelitian ini diharapkan kepada perawat di Rumah sakit Imelda Medan untuk melakukan upaya penyuluhan atau pemberian informasi mengenai cara pencegahan, penularan, tanda, gejala tuberkulosis paru, dan hal-hal yang dapat menghambat penyembuhannya seperti merokok baik kepada penderita maupun kepada orang-orang yang berada di sekitar penderita sehingga penularannya dapat dicegah.