This Author published in this journals
All Journal Buletin Alara
Syarbaini Syarbaini
Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir – BATAN • Jalan Cinere Pasar Jumat, Jakarta – 12440 • PO Box 7043 JKSKL, Jakarta – 12070

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENTINGNYA PENGAWASAN KONTAMINASI RADIOANUKLIDA DALAM MAKANAN, PRODUK RUMAH TANGGA DAN LINGKUNGAN Syarbaini Syarbaini
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.568 KB)

Abstract

PENDAHULUANUpaya proteksi terhadap masyarakat dan lingkungan dari efek radiasi terus menerus mengalami penyempurnaan sejak awal abad ke 20 seiring dengan meningkatnya apli- kasi iptek nuklir di berbagai bidang seperti industri, kesehatan, pertanian, penelitian dan lain sebagainya. Terlebih lagi dalam era globalisasi dimana setiap negara akan di- hadapkan pada tantangan yang semakin berkembang dan komplek baik pada tingkat regional maupun tingkat internasional. Salah satu permasalahan dan tantangan yang akan dihadapi adalah pencemaran global baik pencemaran bahan radioaktif maupun non radioaktif. Cemaran radioaktif yang telah terjadi sepanjang perjalanan sejarah pengembangan iptek nuklir di beberapa tempat tidak bisa diabaikan begitu saja. Cepat atau lambat baik langsung ataupun tidak langsung tidak tertutup kemungkinan akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sejak tahun 1945, khususnya pada waktu dua bom atom hasil proyek Manhattan Amerika Serikat diledakan di dua kota di Jepang, sejarah pencemaran radionuklida buatan di lingkungan dimulai dengan cara yang sangat mengejutkan dan mengerikan umat manusia. Cemaran bahan radioaktif tersebut terus terjadi sejak iptek nuklir dikembangkan oleh negara-negara maju ke arah yang negatif yaitu untuk kepentingan persenjataan. Sampai tahun 1970 lebih dari 400 uji coba senjata nuklir dilakukan dan umumnya uji coba dilakukan di atmosfer. Dengan uji coba di atmosfer pencemaran radionuklida meluas ke angkasa dan  kemudian jatuh ke seluruh permukaan bumi secara global. Perlombaan uji coba nuklir di atmosfer, serta jatuhan debu radioaktif akibat uji coba itu, menyempurnakan citra buruk pengembangan iptek nuklir di masalalu. Sekarang ini uji coba senjata nuklir di atmosfer sudah tidak dilakukan lagi, akan tetapi manusia masih tetap berhadapan dengan resiko radiasi. Kegiatan-kegiatan industri non nuklir seperti pertambangan atau industri-industri yang menggunakan bahan baku dari dalam kulit bumi ternyata juga dapat menambah tingkat radiasi disekitar kehidupan manusia. Radionuklida alam yang terkandung dalam kulit bumi ikut terangkat ke permukaan dan kemudian terakumulasi menjadi material yang disebut dengan istilah TENORM (Technologically Enhanced Naturally Occurring Radiactive Materials).
PENENTUAN POTENSI RISIKO TENORM PADA INDUSTRI NON NUKLIR Bunawas Bunawas; Syarbaini Syarbaini
Buletin Alara Vol 6, No 3 (2005): April 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.296 KB)

Abstract

NORM (Naturally Occurring Radioactive Material) merupakan bahan radioaktif yang sudah ada di alam sebagai bagian dari kehidupan manusia. NORM ada di mana-mana, karena semua bahan di udara, air, tanah, tanaman bahkan tubuh kita mengandung bahan radioaktif alam. Sedangkan TENORM (Technologically Enhanced Naturally Occurring Radioactive Material) dapat diartikan sebagai bahan radioaktif alam yang terkonsentrasi atau naik kandungannya yang merupakan by product dari kegiatan industri non nuklir yang menggunakan bahan baku dari (dalam) kulit bumi. TENORM sering juga disebut LSA (Low Spesific Activity).
UJI KONTAMINASI RADIONUKLIDA DAN SERTIFIKASI KOMODITI EKSPOR – IMPOR Syarbaini Syarbaini
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.743 KB)

Abstract

Pelayanan uji kontaminasi radionuklida dalam bahan makanan, bahan bangunan dan komponen lingkungan beserta sertifikasi komoditi ekspor-impor adalah bagian dari tugas dan fungsi Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir (P3KRBiN), Badan Tenaga Nuklir Nasional. Untuk menunjang pelaksanaan tugas ini, P3KRBiN mempunyai fasilitas laboratorium penguji yang diberi nama Laboratorium Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan atau disingkat “Lab. KKL”. Lab. KKL bertanggung jawab kepada Kepala Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi. Lab. KKL telah terakreditasi sebagai laboratorium penguji dengan No. LP-206-IDN pada tanggal 19 Maret 2004. Lab. KKL memberikan pelayanan pengujian dalam lingkup keselamatan daerah kerja, keselamatan pekerja radiasi, bungkusan zat radioaktif, kesehatan pekerja dan keselamatan lingkungan. Khusus untuk pelayanan uji kontaminasi radionuklida dan sertifikasi komoditi ekspor – impor dilaksanakan oleh Lab. KKL-unit Lingkungan. Lab. KKL-unit lingkungan merupakan laboratorium acuan nasional dalam bidang uji kontaminasi radionuklida dan pengkajian keselamatan radiasi lingkungan sekaligus diberi wewenang untuk mengeluarkan sertifikat bebas bahan radioaktif (Non Radioactivity Certificate) untuk komoditi ekspor dan impor. Lab. KKL-unit lingkungan mempunyai peralatan yang mutakhir, terpelihara dengan baik dan didukung personil yang berpengalaman baik dalam maupun luar negeri. Untuk menjaga kualitas hasil pengujian, Lab. KKL-unit lingkungan menjalankan program quality assurance dan quality control yang terdiri dari accuracy check menggunakan certified reference materials, precision check dengan cara melakukan analisis secara duplo, cross-check dengan metode analitik lain dan laboratorium lain baik dalam maupun luar negeri. Dari tahun 1997 sampai sekarang, setiap tahun dilakukan program interkomparasi dengan laboratorium Japan Chemical Analysis Center (JCAC). Lab. KKL unit lingkungan juga mengikuti program interkomparasi dengan laboratorium lingkungan negara-negara lain yang dikoordinir oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA, International Atomic Energy Agency).