This Author published in this journals
All Journal Buletin Alara
Gatot Wurdiyanto
Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir – BATAN • Jalan Cinere Pasar Jumat, Jakarta – 12440 • PO Box 7043 JKSKL, Jakarta – 12070

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT RADIOTERAPI Gatot Wurdiyanto; C. Tuti Budiantari
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.053 KB)

Abstract

Radioterapi merupakan suatu metode pengobatan penyakit kanker atau tumor yang menggunakan teknik penyinaran dari zat radioaktif maupun radiasi pengion lainnya. Tujuan radioterapi adalah untuk mendapatkan tingkatan sitotoksik radiasi terhadap planning target volume pasien, dengan seminimal mungkin pajanan (exposure) radiasi terhadap jaringan sehat dan di sekitarnya. Pesawat radioterapi adalah pesawat yang digunakan untuk melakukan terapi yang didalamnya terdapat sumber radiasi baik sumber 60Co maupun 137Cs. Dengan keberadaan sumber radiasi tersebut, maka keselamatan baik pekerja maupun pasien memerlukan perhatian yang sangat penting agar tujuan dari penggunaan radioterapi tersebut terwujud tanpa menimbulkan masalah baru. Dewasa ini, lebih dari 18 rumah sakit di Indonesia dengan sekitar 19 pesawat radioterapi 60 Co maupun 137Cs memanfaatkan radioterapi sebagai metode pengobatan penyakit kanker atau tumor. Berdasar pada peraturan yang berlaku di Indonesia, yakni PP Nomor 63 tahun 2000 (Bab V pasal 30)[1], SK Dirjen BATAN No.84/DJ/VI/1991[2] dan SK Ka. Bapeten No.21/Ka. BAPETEN/XII-02 tentang Program Jaminan Kualitas Instalasi Radioterapi[3], mengatakan bahwa keluaran sumber radiasi terapi harus dikalibrasi sekurang-kurangnya sekali dalam 2 (dua) tahun oleh Fasilitas Kalibrasi Tingkat Nasional (FKTN). Untuk itu Laboratorium Metrologi Radiasi (LMR) selaku Fasilitas Kalibrasi Tingkat Nasional agar dapat memberikan pelayanan yang prima menyangkut masalah kualitas serta aspek keselamatan dari penggunaan dan pemanfaatan metode radioterapi. Aspek keselamatan yang menyangkut penggunaan dan pemanfaatan pesawat radioterapi meliputi keselamatan saat penyinaran terhadap pasien dan pemeliharaannya, serta pada saat pesawat tersebut dikalibrasi oleh FKTN. Aturan keselamatan terhadap fasilitas radioterapi yang menyangkut pasien, pekerja, peralatan dan lingkungan telah tercantum dalam SK Ka. Bapeten No.21/Ka.BAPETEN/XII -02 tentang Program Jaminan Kualitas Instalasi Radioterapi[3] dan rekomendasi Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency, IAEA) melalui Basic Safety Standards [4]. Pada tulisan ini akan dipaparkan aspek keselamatan pada saat melakukan kalibrasi terhadap pesawat radioterapi 60Co ataupun 137Cs. Hal ini diperlukan mengingat pekerjaan kalibrasi sangat membutuhkan konsentrasi tinggi dengan rentang waktu yang cukup lama agar tidak menimbulkan masalah terhadap pesawat, pekerja maupun keselamatan lingkungannya. Tujuan dari penulisan ini untuk mendapatkan prosedur baku keselamatan dalam melakukan kalibrasi terhadap pesawat radioterapi 60 Co atau 137Cs sehingga didapatkan optimasi antara aspek keselamatan dan faktor non teknis yang timbul saat melakukan kalibrasi.
PENGARUH KOMPOSISI VOLUME LARUTAN SINTILATOR PADA PENGUKURAN AKTIVITAS 90 Sr Gatot Wurdiyanto
Buletin Alara Vol 6, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.256 KB)

Abstract

Pemanfaatan teknologi nuklir dalam berbagai bidang baik penelitian maupun industri telah berkembang dengan pesat. Seiring dengan perkembangan pemanfatan teknologi ini menuntut beberapa aspek antara lain aspek pengawasan, aspek hukum, aspek teknis, aspek manajerial/koordinasi dan aspek kelayakan. Pengawasan diperlukan guna melindungi baik pekerja maupun lingkungannya terhadap bahaya yang ditimbulkan. Aspek hukum diperlukan guna memberikan perlindungan ataupun sangsi hukum baik oleh pengusaha/pemanfaat, pekerja, masyarakat sekitar maupun lingkungannya. Aspek koordinasi diperlukan guna melakukan koordinasi dalam masalah administrasi, kerjasama, prosedur, tata tertib, pendidikan dan pelatihan dan lain-lain. Aspek kelayakan diperlukan guna membahas dan mempertimbangan perihal keuntungan dan kerugian dari suatu penggunaan teknologi nuklir tersebut. Aspek teknis diperlukan guna mempersiapkan segi sumber daya manusia, peralatan yang memadai, teknik proses/pengukuran yang diperlukan serta masalah teknis yang diperlukan dalam rangka pengawasan, pengawasan mutu, jaminan kualitas, pengendalian terhadap hal-hal yang dapat timbul, serta penanganan dalam keadaan darurat.