ABSTRAKAliran filsafat pendidikan pragmatisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempunyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Dengan potensi yang bersifat kreatif dan dinamis, anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya. Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif, memberikan motivasi-motivasi dan stimuli-stimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka pragmatisme menghendaki jenis kurikulum yang luwes (fleksibel) dan terbuka. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau kurikulum yang dipusatkan pada pengalaman dengan metode yang diutamakan, yaitu problem solving  karena anak didik dalam hidupnya selalu berinteraksi di dalam lingkungan yang kompleks. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. Oleh karena itu, anak didik harus belajar dari pengalaman. Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dan pengalaman-pengalaman itu nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar). Aliran filsafat pragmatisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan abad ini dengan membawa perubahan dalam cara mengajar belajar di sekolah. Di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan pendidikan kejuruan (sekolah kerja), dengan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium, di bengkel, di kebun (lapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan oleh aliran filsafat pendidikan pragmatis dalam rangka terlaksananya learning by doing.Dalam hal ini, aliran pendidikan pragmatisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas