Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PRAGMATISME DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN KEJURUAN Hendrawati, Yuyun
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 3, No 11 (2013)
Publisher : Universitas Yapis Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKAliran filsafat pendidikan  pragmatisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempunyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Dengan potensi yang bersifat kreatif dan dinamis, anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya. Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif, memberikan motivasi-motivasi dan stimuli-stimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka pragmatisme menghendaki jenis kurikulum yang luwes (fleksibel) dan terbuka. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau kurikulum yang dipusatkan pada pengalaman dengan metode yang diutamakan, yaitu problem solving  karena anak didik dalam hidupnya selalu berinteraksi di dalam lingkungan yang kompleks. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. Oleh karena itu, anak didik harus belajar dari pengalaman. Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dan pengalaman-pengalaman itu nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar). Aliran filsafat pragmatisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan abad ini dengan  membawa perubahan dalam cara mengajar belajar di sekolah. Di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan pendidikan kejuruan (sekolah kerja), dengan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium, di bengkel, di kebun (lapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan oleh aliran filsafat pendidikan pragmatis dalam rangka terlaksananya learning by doing.Dalam hal ini, aliran pendidikan pragmatisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas
Religious Freedom and Multicultural Coexistence: A Qualitative Study of Students' Lived Experiences at Halu Oleo University, Kendari Hasniah Hasniah; Yuyun Hendrawati; Abdul Rahman; Rayhan Hadiansah
Journal of Law, Social Science and Management Vol. 3 No. 1 (2026): January - June
Publisher : Yayasan Cipta Anak Bangsa (YCAB) Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/jlssm.v3i1.2137

Abstract

Background: Kendari is  home to a diverse array of indigenous ethnic communities—including the Tolaki, Muna, Buton, and Konawe peoples—alongside migrant populations from across the archipelago, the city exhibits a complex mosaic of cultural and religious identities. Halu Oleo University (UHO), as the leading public university in the region, aggregates this diversity within its student body, creating a microcosm of broader Indonesian multiculturalism. Objectives: This study examines the lived experiences of religious freedom and multicultural coexistence among students at Halu Oleo University (UHO), Kendari, Southeast Sulawesi, Indonesia. Method: Employing a qualitative approach with in-depth interview methods, this research explores how university students perceive, navigate, and negotiate religious diversity in their daily social environments. Data were collected through semi-structured interviews with eight student informants representing diverse academic disciplines within the Faculty of Cultural Sciences. Result: The findings reveal that while students generally uphold mutual respect and tolerance as core values in everyday interactions, several structural and cultural tensions persist—including the dominance of majority religious practices, procedural barriers to house-of-worship construction, and the amplifying role of social media in religious tensions. Students consistently identified community dialogue, traditional leaders' mediation, and local cultural values such as gotong royong (communal cooperation) as key mechanisms for sustaining harmony. Conclusion: This research contributes to broader understandings of multiculturalism in Indonesian higher education contexts and highlights the need for more inclusive policy frameworks to protect religious minority rights. Keywords: religious freedom, multiculturalism, coexistence, Indonesian university students