Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

MUTASI INDUKSI UNTUK MEREDUKSI TINGGI TANAMAN PADI GALUR KI 237 Sobrizal .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.97 KB) | DOI: 10.17146/jair.2008.4.2.545

Abstract

Galur KI 237 merupakan galur murni yang berasal dari persilanganantar sub-spesies, yaitu sub-spesies Japonika var. Koshihikari dengan sub-spesiesIndika var. IR36. Galur ini memiliki potensi hasil tinggi, umur panen sedang, malai panjang, tetapi tinggi tanaman terlalu tinggi sehingga mudah rebah. Untuk mereduksi tinggi tanaman telah diiradiasi benih KI 237 sebanyak 50 gram dengansinar gamma dosis 200 Gy. Hasil seleksi pada 6480 tanaman M2 diperoleh 3 tanaman mutan pendek dan 15 tanaman mutan semi-pendek dengan frekuensi mutan kearah pendek dan semi-pendek mencapai 0,26%. Pengurangan tinggi tanaman yangsignifikan pada mutan pendek dan semi-pendek disebabkan oleh berkurangnya ukuran panjang masing-masing ruas batang tanaman mutan, sementara jumlah ruas batang mutan tetap sama dengan jumlah ruas batang tanaman asalnya KI 237. Begitujuga dengan panjang malai dan panjang gabah pada mutan tidak banyak mengalami perubahan. Dari 342 galur M2 yang diamati, dimana masing-masing galur terdiri dari 20 tanaman, terlihat satu galur bersegregasi antara tanaman normal dengan tanamanpendek dengan perbandingan 17 normal banding 3 pendek, dan empat galur bersegregasi antara tanaman normal dengan tanaman semi-pendek dengan perbandingan masing-masing 12 normal banding 8 semi-pendek, 17 normal banding 3 semi-pendek, 18 normal banding 2 semi-pendek, dan 18 normal banding 2 semipendek. Berhubung jumlah tanaman M2 untuk setiap galurnya sangat sedikit yaitu hanya 20 tanaman, maka perbandingan segregasi antara mutan dan tanaman normal tidak bisa menerangkan jumlah GEC (Geneically Efective Cell) yang termutasi. Sifat lain mutan-mutan semi-pendek yang terseleksi tidak jauh berbeda dengan sifat tanaman KI 237, oleh karena itu mutan-mutan semi-pendek ini sangat berpotensi  untuk dikembangkan secara langsung menjadi varietas unggul baru setelah melalui berbagai pengujian, atau dapat juga digunakan sebagai sumber genetik pada perbaikan galur KI 237 melalui pemuliaan silang balik.
PEMULIAAN MUTASI DALAM PENINGKATAN MANFAAT GALUR-GALUR TERSELEKSI ASAL PERSILANGAN ANTAR SUB-SPESIES PADI Sobrizal .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.72 KB) | DOI: 10.17146/jair.2008.4.1.535

Abstract

Sempitnya keragaman genetik dari varietas-varietas padi yang sudah dilepas memberi kontribusi besar terhadap terjadinya pelandaian peningkatan potensi hasil padi pada beberapa dekade terakhir. Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan galur-galur pemuliaan (breeding lines) yang mempunyai keragaman genetik luas melalui persilangan antar sub-spesies Indika dengan Japonika. Dari 100.000 tanaman F5 hasil persilangan varietas IR36 (sub-sp. Indika) dengan varietas Koshihikari (sub-sp. Japonika), terpilh 568 tanaman, selanjutnya 568 tanaman tersebut dimurnikan sampai generasi F8 hingga menjadi 568 galur murni. Galur-galur murni ini dilengkapi dengan data beberapa sifat agronomi seperti tinggi tanaman, umur tanaman, panjang malai, jumlah gabah per malai, panjang gabah, lebar gabah, dan lain-lain sehingga akan memberi kemudahan dalam penggunaannya pada program pemuliaan tanaman padi selanjutnya. Diantara galur-galur itu, 7 galur terbaik langsung masuk uji daya hasil, 23 galur disilangkan sesamanya untuk mengumpuilkan sebanyak mungkin sifat yang diinginkan pada satu tanaman, dan 2 galur berpotensi untuk dikembangkan tetapi masih punya sedikit kelemahan, yaitu batang terlalu tinggi sehingga mudah rebah untuk galur KI 237, dan umur terlalu panjang untuk galur KI 432. Peningkatan manfaat galur KI 237 dan KI 432 dilakukan dengan memperbaiki kelemahannya melalui pemuliaan mutasi. Setelah benih kedua galur tersebut diiradiasi dengan sinar gamma dosis 200 Gy, diperoleh sejumlah mutan pendek dan semi-pendek, serta mutan genjah pada populasi M2. Mutan-mutan tersebut akan sangat berguna untuk memperbaiki kelemahan galur asalnya baik secara langsung maupun melalui pemuliaan silang balik (backcross breeding).
PELUANG MUTASI INDUKSI PADA UPAYA PEMECAHAN HAMBATAN PENINGKATAN PRODUKSI PADI Sobrizal .; Moch. Ismachin
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.274 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.564

Abstract

Pada World Rice Research Conference yang diselenggarakan di Tsukuba, Jepang, 4-7 November 2004, ramai dibicarakan mengenai upaya peningkatan produksi padi. Umumnya para pemuliasepakat bahwa potensi produksi varietas padi sampai sekarang belum berhasil ditingkatkan secara nyata sejak dilepasnya varietas IR8. Pembentukan varietas baru hanya mampu mempertahankan potensi IR8 dengan memperbaiki umur, dan daya adaptasinya terhadap stres lingkungan. Peningkatan produksi padi bagi para pemulia adalah peningkatan potensi produksi dari suatu varietas. Ada dua pendekatan yangmeskipun sudah cukup lama dilaksanakan, tetapi masih tetap belum mencapai sasaran yang diinginkan. Kedua pendekatan tersebut adalah pembuatan padi hibrida dan pembuatan padi tipe baru (new plant ideotype). Kedua pendekatan ini merupakanpendekatan utama saat ini yang dipandang mampu untuk meningkatkan potensi produksi varietas padi. Ide pembuatan padi hibrida muncul terdorong oleh keberhasilan tanaman hibrida jagung, sorghum, dan bawang merah dalam meningkatkan produksi. Di antara beberapa negara yang melakukan penelitiantentang padi hibrida, ternyata Cina yang lebih dahulu berhasil membuat varietas padi hibrida, dan telah ditanam secara luas sampai sekarang. Keberhasilan Cina tersebut telah memicu negara lain, termasuk Indonesia, untuk membuat padi hibrida. Sampai saat ini, Indonesia sudah melepas 11 varietas padi hibrida. Idepembuatan padi tipe baru muncul dari kajian terhadap koleksi varietas padi yang ada dewasa ini yang mempunyai berbagai sifat yang bila digabungkan idealnya akan menjadi padi tipe baru. Sayang kedua cara pendekatan yang secara teori bisa diujudkan, masih ada hambatan, sehingga sampai sekarang sasaran kegiatannya belum sepenuhnya dapat dicapai. Dalam tulisan ini dibahas seberapa besar peluang mutasi induksi dapat menyumbang pada keberhasilan kedua cara pendekatan tersebut.
A SINGLE RECESSIVE MUTATED GENE (sd237-1) CONTROLING SEMI-DWARF PLANT STATURE OF RICE Sobrizal .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 5, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.787 KB) | DOI: 10.17146/jair.2009.5.1.522

Abstract

Dwarfism is a valuable trait in crop breeding, because it increases lodging resistance and decreases damages due to wind and rain. During the course of this study, a semi-dwarf mutant was successfully induced through 200 Gy gamma ray irradiated KI 237 seeds. KI 237 is a pure line with high yield potency, developed through an Indica-Japonica cross of IR36 / Koshihikari. The selected semi-dwarf plant reached 60 — 62 % of plant height oforiginal plant KI 237 at the mature stage. The length of internodes, panicle, and seed were also compared between these two plants. The retardation of the 1st (uppermost) internodes was 24 %, moreover, the retardation of panicle and seed length were only 10 % and 2 %, respectively. The elongation pattern of the internodes in this mutant was almost the same as sd1 (Dee-geo-woo-gen), the original parent of the first release modern rice variety, but their performances were different. Based on the segregation analysis in M2 and M3 generation it was concluded that this mutant was controlled by a single recessive mutated gene. This gene was designated as sd237-1. This mutantshould be useful as a genetic resource for the improvement of KI237 line through back-cross breeding as well as be developed further in breeding program directly to be a new high yielding mutant variety.
PEMULIAAN MUTASI DALAM PENINGKATAN MANFAAT GALUR-GALUR TERSELEKSI ASAL PERSILANGAN ANTAR SUB-SPESIES PADI Sobrizal .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.72 KB) | DOI: 10.17146/jair.2008.4.1.542

Abstract

Sempitnya keragaman genetik dari varietas-varietas padi yang sudah dilepas memberi kontribusi besar terhadap terjadinya pelandaian peningkatan potensi hasil padi pada beberapa dekade terakhir. Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan galur-galur pemuliaan (breeding lines) yang mempunyai keragaman genetik luas melalui persilangan antar sub-spesies Indika dengan Japonika. Dari 100.000 tanaman F5 hasil persilangan varietas IR36 (sub-sp. Indika) dengan varietas Koshihikari (sub-sp. Japonika), terpilh 568 tanaman, selanjutnya 568 tanaman tersebut dimurnikan sampai generasi F8 hingga menjadi 568 galur murni. Galur-galur murni ini dilengkapi dengan data beberapa sifat agronomi seperti tinggi tanaman, umur tanaman, panjang malai, jumlah gabah per malai, panjang gabah, lebar gabah, dan lain-lain sehingga akan memberi kemudahan dalam penggunaannya pada program pemuliaan tanaman padi selanjutnya. Diantara galur-galur itu, 7 galur terbaik langsung masuk uji daya hasil, 23 galur disilangkan sesamanya untuk mengumpuilkan sebanyak mungkin sifat yang diinginkan pada satu tanaman, dan 2 galur berpotensi untuk dikembangkan tetapi masih punya sedikit kelemahan, yaitu batang terlalu tinggi sehingga mudah rebah untuk galur KI 237, dan umur terlalu panjang untuk galur KI 432. Peningkatan manfaat galur KI 237 dan KI 432 dilakukan dengan memperbaiki kelemahannya melalui pemuliaan mutasi. Setelah benih kedua galur tersebut diiradiasi dengan sinar gamma dosis 200 Gy, diperoleh sejumlah mutan pendek dan semi-pendek, serta mutan genjah pada populasi M2. Mutan-mutan tersebut akan sangat berguna untuk memperbaiki kelemahan galur asalnya baik secara langsung maupun melalui pemuliaan silang balik (backcross breeding).