Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PRINSIP DASAR PENERAPAN TEKNIK SERANGGA MANDUL UNTUK PENGENDALIAN HAMA PADA KAWASAN YANG LUAS Singgih Sutrisno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.249 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.2.572

Abstract

Teknik Serangga Mandul (TSM) adalah suatu teknik pengendalian hama yang relatif baru, potensial, dan kompatibel dengan teknik lain. Teknik ini meliputi iradiasi koloni serangga di laboratorium dengan sinar γ, n atau x, kemudian secara periodik dilepasdi lapang sehingga tingkat kebolehjadian perkawinan antara serangga mandul dan serangga fertil makin menjadi bertambah besar dari generasi pertama ke generasi berikutnya akibat makin menurunnya persentase fertilitas populasi serangga di lapang. Pengaruh penglepasan serangga mandul (dengan rasio 9:1 terhadap serangga jantan alami dan potensi reproduksi setiap ekor serangga betina induk pada tiap generasi menghasilkan keturunan 5 ekor serangga betina) terhadap model penurunanpopulasi serangga didiskusikan secara konseptual. Dari generasi induk sebanyak satu juta ekor serangga betina menurun menjadi 26.316 ekor, 1.907 ekor, 10 ekor, dan 0 (nihil) berturut-turut pada generasi keturunan ke pertama ,kedua, ketiga dan yang keempat .Selanjutnya apabila teknik jantan mandul dipadukan dengan teknik kimiawi (insektisida) dengan daya bunuh 90 % menjadi bertambah efektif dibandingkan hanya dengan penerapan teknik jantan mandul saja. Dari populasi serangga satu juta ekor pada generasi I menurun menjadi 2.632 , 189, dan 0 ekorberturut-turut untuk keturunan I,II, dan III. Pada Lepidoptera ditemukan adanya fenomena kemandulan yang diwariskan (inherited sterility). Kemandulan yang diwariskan kepada keturunan pertama, menurut Knipling (1970) disebabkan olehterjadinya translokasi kromosom pada gamet. Pada individu yang heterozygot akan mati dan individu yang homozygot masih dapat hidup. Fenomena kemandulan bastar antar spesies pertama kali ditemukan oleh Laster (1972) pada perkawinan antara Heliothis virescens (F) jantan dan Heliothis subflexa Guenee betina. Ngengat jantan keturunan pertama dari hasil perkawinan antara H. virescens dan H. subflexa menjadi mandul dan yang betina tetap fertil. Bila ngengat betina keturunan pertama ini dikawinkan secara back cross dengan H. virescens jantan maka kejadian akanberulang kembali yaitu keturunan yang jantan mandul dan yang betina fertil (F2) jantan menjadi mandul dan yang betina fertil).
INTEGRATED CONTROL OF CABAGGE PESTS Plutella xylostella (L) AND Crocidolomia binotalis (Z) BY RELEASE OF IRRADIATED MOTHS AND THE PARASITOID Diadegma semiclausums(H) UNDER FIELD CAGE AND A SMALL AREA CONDITIONS Singgih Sutrisno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 1, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.646 KB) | DOI: 10.17146/jair.2005.1.1.577

Abstract

The impact of the release of irradiated Diamondback moth (DBM)Plutella xylostella (L) with a dose of 200 Gy was studied in field cage experiments by releasing of irradiated and untreated DBM at a 9:1 ratio . Releasing male and female (F-1) of irradiatedDBM caused a considerable level of sterility in the subsequent generations. The sterility level in those respective generations were 73.03% and 73.30%,while the release of the F-1 male onlyinduced a level of sterility of about 55.40% and 56.44%.Inundative releases of irradiated males caused the level of sterility to reach about 44.78% and 68.01% in F-1 and F-2 respectively. Theeffect of the release of irradiated male Cabbage webworm (CWW) moths Crocidolomia binotalis (Z), and the release of both sexes on the population were studied under laboratory cage conditions. There was a significant difference between the) effects of releasing irradiated male only and both sexes at a level of F ≤ 0.001 ,where the percentage of egg hatch were 22.78% and 24.75% respectively in the F-1 and F-2 generations. The effects of combining two tactics, inherited sterility and the release of parasitoid Diadegma semiclausums (H) for controling DBMs were studied.The pupal viability in the F-1 generation was 32.5% ascompared to the untreated DBMs. The impacts of respective single tactic the release of F-1 males and parasitoid D. semiclausums on the pupal viability were 57.5% and 81%. The effects of the release of substerile insects in a small area of about 1000 m2 located at an isolated area in the forest in Malang, East Jawa was found that average number of moths caught per week from first to the fifth month at the release area was about 89.42% as compared to those at the control area. The highest level of parasitation of D. semiclausums was found in the second instar larvae of DBMs. Population growth of parasitoid D. semiclausums from the first generation to the eleventh generation increased till to the fifth generation larvae, than declined to the eleventh generation.
PENANDAAN SERANGGA HAMA DENGAN RADIOISOTOP UNTUK STUDI POLA PEMENCARAN, MIGRASI DAN ESTIMASI KEPADATAN POPULASI Singgih Sutrisno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.96 KB) | DOI: 10.17146/jair.2008.4.1.536

Abstract

Untuk mempelajari perilaku serangga di dalam habitatnya seperti pemencaran, migrasi dan jarak terbang diperlukan serangga bertanda agar dapat dilakukan perunutan pergerakannya. Salah satu metoda yang mempunyai prospek baik untuk penandaan internal adalah dengan penggunaan radioisotop. Radioisotop yang digunakan untuk penandaan serangga antara lain 3H, 32P, 14Ca, 45K, 35S, 59Fe, 60Co, dan 14C. Penandaan serangga dengan isotop lebih menguntungkan dibandingkan dengan zat warna karena isotop yang digunakan dapat terikat pada jaringan, misalnya 3H, 32P, 14Ca, K, 131I. Sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan jenis radioisotop perlu diperhatikan waktu berlangsungnya percobaan. Hal ini perlu dilakukan karena telah ditemukan beberapa jenis radioisotop ternyata toksik pada serangga walaupun mempunyai waktu paruh yang memadai yaitu 45Ca, 59Fe, 86Rb, 110Ag, 115Cd, dan 131J. Syarat yang harus dipenuhi untuk penandaan serangga dengan radioisotop ialah aman terhadap serangga, aman terhadap lingkungan, mudah diterapkan, materi mudah didapat dan diterima oleh masyarakat. Radioisotop 32P dengan dosis yang tepat memenuhi syarat untuk digunakan dalam penelitian ini karena mempunyai waktu paruh yang relatif pendek, yaitu 14,3 hari. Penandaan dengan isotop yang lain ialah penandaan serangga dengan isotop stabil seperti misalnya rubidium yang dapat dianalisis dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) atau dapat pula diubah menjadi bentuk radioisotop agar dapat dideteksi. Bila yang digunakan adalah isotop stabil maka contoh hasil percobaan dapat disimpan dalam waktu yang lama, sehingga analisis sampel dapat dilakukan menurut waktu yang dikehendaki. Unsur stabil dapat diubah menjadi radioisotop melalui penembakan dengan netron di dalam reaktor nuklir atau akselerator. Selanjutnya unsur yang telah mengalami aktivasi tersebut dapat diidentifikasi dengan pencacah sintilasi padat, dengan sistem analisis salur banyak atau dapat pula dideteksi dengan autoradiogra