Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Temulawak (Curcuma xanthorrizha Roxb.) Iradiasi yang Mempunyai Aktivitas Antikanker Ermin Katrin Katrin; Susanto .; Hendig Winarno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 7, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.757 KB) | DOI: 10.17146/jair.2011.7.1.494

Abstract

Pasteurisasi simplisia dan produk obat herbal telah dilakukan oleh beberapa perusahaan obat herbal, namun informasi tentang keamanan obat herbal yang diradiasi masih sedikit, bahkan pengaruh iradiasi gamma untuk tujuan pasteurisasi terhadap toksisitas simplisia temulawak belum pernah diteliti. Ekstrak etanol temulawak mempunyai aktivitas berpotensi sebagai antikanker. Pada penelitian ini dilakukan uji toksisitas akut ekstrak etanol dari rimpang temulawak yang tidak dan yang diradiasi dengan dosis 5 dan 10 kGy. Uji toksisitas akut ekstrak etanol dilakukan pada mencit dengan mengamati pengaruh ekstrak terhadap perilaku hewan (profil farmakologi) setelah pemberian dosis tunggal bahan uji, perkembangan bobot badan hewan percobaan dan kematian setiap hari selama 14 hari serta pengamatan bobot beberapa organ pada hari ke-14.Hasil uji toksisitas akut setelah pemberian ekstrak pada mencit jantan dan betinamenunjukkan bahwa sampai dosis 7500 mg/kg bobot badan (BB) tidak ada kematian dan efektoksik yang bermakna, maka ekstrak etanol dari rimpang temulawak yang tidak dan yangdiradiasi dengan dosis 5 dan 10 kGy dapat dinyatakan aman. Dengan demikian DL50 dariekstrak etanol dari rimpang temulawak yang tidak dan yang diradiasi (5 dan 10 kGy) padamencit lebih besar dari 7500 mg/kg BB.
PENGGUNAAN [3H]-LEUSIN UNTUK MEMPELAJARI SENYAWA KOMPLEKS PERSEITOL·K+ YANG DIISOLASI DARI BENALU ALUS Scurrula fusca SEBAGAI INHIBITOR SINTESIS PROTEIN PADA SEL Hendig Winarno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 1, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.455 KB) | DOI: 10.17146/jair.2005.1.1.574

Abstract

Telah dilakukan pengujian aktivitas senyawa perseitol·K+ (2) yang diisolasi dari benalu alus Scurrula fusca (BL.) G. DON terhadap inhibisi sintesis protein oleh sel kanker Ehrlich ascites dari tikus. Pengujian dilakukan dengan menggunakan L-[3,4,5-3H(N)] leusin dan pengukuran dilakukan dengan pencacah sintilasi cair. Hasil percobaan menunjukkan bahwa senyawa isolat tersebut mnunjukkan aktivitas inhibisi sebesar 13% pada konsentrasi sampel 10-7 M. Aktivitas ini lebih tinggi dibandingkan senyawa perseitol (3) tanpa ion K+ yang hanya menunjukkan aktivitas inhibisi sebesar 5%. Keberadaan ion K+ dalam senyawa kompleksmerupakan faktor esensial dalam aktivitasnya sebagai inhibitor sintesis protein oleh sel kanker. Percobaan yang sama yang dilakukan terhadap berbagai komposisi campuran senyawa perseitol (3) dan ion K+ dengan perbandingan molar 24:1, 22:1, 20:1, dan 18:1 menunjukkan bahwa komposisi perseitol : K+ = 20:1 memberikan aktivitas inhibisi tertinggi terhadap sintesis protein yaitu 40% pada konsentrasi 10-4 M. Aktivitas inhibisi ini lebih tinggi dibandingkan cycloheximide sebagai kontrol positif (25% inhibisi pada 0.5×10-6 M). Hal ini diduga pada komposisi perbandingan molar tersebut, perseitol (3) dan ion K+ membentuk senyawa kompleks perseitol·K+ seperti isolat benalu alus. Selain pengaruh keberadaan ion K+, perbandingan molar 20:1 merupakan faktor yang sangat berperan dalam aktivitasnya sebagai inhibitor sintesis protein oleh sel kanker
IRRADIATION EFFECTS ON INSECTICIDES AS A POLLUTANT MODEL IN AQUEOUS SOLUTION Hendig Winarno; Ermin Katrin Harantung
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 3, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2007.3.2.557

Abstract

Degradation of some insecticides i.e.: fenitrothion, prothiofos, and cypermetrin as a model pollutant was carried out using gamma irradiation of 60Co. Irradiation-induced of fenitrothion in solution acid medium gave the significant effect on the decrease of its concentration. The optimum condition for degradation of fenitrothion (55.5 mg/L) was irradiation at 6 kGy with aeration in initial pH 5.6. At this condition, the concentration of fenitrothion decreased up to 97%. Determination of organic acids in irradiated product by HPLC method showed that oxalic acid and formic acid were clarified as organic acid-degraded products of fenitrothion with the concentration of 23.0 mg/L and 2.5 mg/L respectively. The irradiation of prothiofos in aqueous solution (50 mg/L), showed that irradiation at a dose of 8 kGy and initial pH 7 gave the optimum degradation. At this condition, the concentration of prothiofos decreased up to 98%. Determination of irradiated product by HPLC method showed that oxalic acid (18 mg/L) was clarified as organic acid-degraded product of prothiofos. In the case of cypermetrin, the optimum condition for its degradation was irradiation with aeration of cypermetrin (40 mg/L) at a dose of 20 kGy, initial pH 11, and adding the catalyst 0.05% of FeCl3. At that condition, cypermetrin decreased up to 87% and COD of solution decreased up to 78%. The organic acid detected at optimum condition as degradation products were oxalic acid (1.1 g/L), maleic acid (9.0 g/L), formic acid (127.0 g/L), and acetic acid (286.0 g/L). From these results, it could be concluded that ionizing radiation can be used as a tool to degrade insecticides as organic pollutants.