Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

EFFECT OF GAMMA IRRADIATION ON MICROBIAL CELLULOSE MEMBRANE FOR APPLICATION IN GUIDED BONE REGENERATION (GBR) Darmawan Darwis
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 5, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.096 KB) | DOI: 10.17146/jair.2009.5.1.527

Abstract

The synthesis and effect of gamma irradiation on characteristics of microbial cellulose membrane have been evaluated. Microbialcellulose gel (nata de coco) was produce using bacteria Acetobacter xylinum incubated in bacterial growth medium containing coconut water as a micro nutrient source. Microbial cellulose membrane was prepared using mould compression at 120°C for 5 minutes. The membranes were irradiated using gamma rays with doses of 25 and 50 kGy respectively at dose rate of 10 kGy/h. Several parameters such as water absorption, surface morphology, thermal and mechanical properties of un- irradiatedand irradiated membranes were analyzed. The results showed that optimum production of microbial cellulose by A. Xylinum is 10 to 12 days at incubation temperature of 30°C and pH 4. Chemically treatments of MC membrane by NaOH and NaOCl solution were effective to remove the bacteria contaminant, bacterialcells embedded in the polymer net and endotoxin which occurred during cellulose production as well as produced membrane with more white colour. Water absorptionproperties of MC membranes showed maximum value at immersion temperature of 25°C, 37°C and 50°C were 110, 137 and 140 %, respectively. Water absorption of MC membrane decreases by increasing irradiation dose. Microscopic photograph of MC membrane showed that the membrane was consisted of interconnected nano to micro porous structures with diameter ranging from 0.05 to 0.5 μm. Thermal properties of MC showed that decomposition temperature of un-irradiated and irradiated MC membrane at dose of 25 and 50 kGy were 328°C, 328°C and 295°C, respectively. Tensile strength of un-irradiated MC membrane in dry state was 102 MPa. Irradiation at 25 and 50 kGy reduced tensile strength to become 85 and 51 MPa respectively. The decrease of thermal property and mechanical strength of MC membrane by irradiation is due to decomposition of polymeric cellulose to the lower molecular weight. This degradation hopefully improve biodegradation and resorptionof MC membrane in tissue cell.
UJI DAYA ANTIMIKROBA DAN SIFAT FISIKO-KIMIA PEMBALUT LUKA HIDROGEL STERIL RADIASI YANG MENGANDUNG EKSTRAK BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) Darmawan Darwis; Taty Erlinda Basyir; Lely Hardiningsih; Rahayu Chosdu
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 1, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.28 KB) | DOI: 10.17146/jair.2005.1.1.578

Abstract

Telah dilakukan studi terhadap daya antimikroba dan sifat fisiko-kimia pembalut luka hidrogel yang mengandung ekstrak buah mengkudu. Pembalut luka hidrogel dibuat dengan meradiasi campuran polivinil pirolidon (PVP), Agar, polietilen glikol (PEG) dan ekstrak mengkudu dengan komposisi tertentu menggunakan sinar gamma pada dosis 25 kGy. Konsentrasi ekstrak mengkudu yang digunakan adalah 0 sampai 4 % b/b. Sebagai mikroba uji digunakan Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan mikroba udara yang diisolasi dari ruang laboratorium P3TIR-BATAN. Parameter sifat fisiko-kimia yang diamati adalah kandungan air, daya penyerapan air, penetrasi mikroba pada hidrogel, penguapanair dan tegangan putus hidrogel. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hidrogel dengan konsentrasi ekstrak mengkudu minimum 2 % b/b mampu membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa, Stahylococcus aureus. Hasil uji daya tembus mikroba terhadap membran hidrogel menunjukkan bahwa tidak satupun mikroba uji mampu menembus membran hidrogel yang mengandung ekstrak mengkudu. Hal ini menunjukkan bahwa membran pembalut luka hidrogel mempunyai sifat penghalang yang baik terhadap kontaminasi mikroba. Kadar air hidrogel yangmengandung ekstrak mengkudu 0, 1, 2, dan 4 % b/b masing-masing adalah 87 %, 85 % dan 82 %. Hidrogel yang mengandung ekstrak mengkudu 4 % b/b menunjukkan daya absorsi airtertinggi. Tegangan putus hidrogel bergantung pada konsentrasi ekstrak mengkudu yang terkandung pada hidrogel tersebut.
PENENTUAN DOSIS STERILISASI MEMBRAN SELULOSA MIKROBA DENGAN IRADIASI BERKAS ELEKTRON BERDASARKAN ISO 11137 Darmawan Darwis; Yessy Warastuti; Lely Hardiningsih
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 5, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.418 KB) | DOI: 10.17146/jair.2009.5.2.532

Abstract

Telah dilakukan perhitungan dosis sterilisasi membran selulosa bakteri dengan iradiasi berkas elektron berdasarkan pada International Standard Organization (ISO) 11137. Pelikel selulosa mikroba dibuat dari fermentasi statis bakteri A. xylinum dalam media yang mengandung air kelapa sebagai sumber mikronutrien. Pelikel kemudian ditekan pada suhu kamar menggunakan alat hand press sehingga dihasilkan membran dengan ketebalan 0,03 ± 0,01 mm. Dosis sterilisasi iradiasi berkas elektron ditentukan berdasarkan ISO 11137 melalui 3 tahap yaitu: penghitungan jumlah kontaminasi awal mikroba (bioburden), penentuan dosis verifikasi dan penetapan dosis sterilisasi menggunakan Tabel 2. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai bioburden rata-rata batch 1, 2 dan 3 masing-masing adalah 67,4; 92,6; 91 cfu.Sedangkan bioburden rata-rata keseluruhan batch membran adalah 83,7 cfu. Bioburden rata-rata masing-masing batch lebih kecil dari dua kali bioburden rata-rata keseluruhan batch, sehingga bioburden yang digunakan untuk penetapan dosis verifikasi adalah bioburden rata-rata keseluruhan batch. Berdasarkan pada ISO 11137, maka dosis verifikasi adalah 7,8 kGy. Hasil pengujian pertumbuhan mikroba pada 100 sampel membran setelah menerima dosis verifikasi menunjukkan bahwa hanya satu mikroba yang tumbuh sehingga dosis verifikasi dapat diterima. Dari hasil inidisimpulkan bahwa dosis sterilisasi iradiasi berkas elektron untuk membran mikroba pada tingkat Sterility Assurance Level (SAL) 10-6 adalah 21 kGy.
POTENSI HIDROGEL POLIVINIL PIROLIDON (PVP)-PATI HASIL IRADIASI GAMMA SEBAGAI PLESTER PENURUN DEMAM Darmawan Darwis; Lely Hardiningsih
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 6, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.141 KB) | DOI: 10.17146/jair.2010.6.1.510

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengembangkan sediaan hidrogel sebagai penurun demam denganteknik iradiasi gamma. Hidrogel dibuat dengan meradiasi campuran polimer PVP dengan konsentrasi 7% (b/v) dan pati singkong dengan berbagai konsentrasi menggunakan sinar gamma pada rentang dosis 20 sampai 40 kGy. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi pati yang optimum untuk membentuk konstituen padat PVP-pati sebelum diiradiasi adalah 10-15%. Fraksi gel dari hidrogel PVP-pati bertambah dengan bertambahnya dosis hingga 35 kGy, namun penambahan dosis di atas 35 kGy tidak menyebabkan penambahan fraksi gel. Padadosis iradiasi yang sama, fraksi gel tidak dipengaruhi oleh konsentrasi pati. Fraksi gel maksimum dicapai pada dosis radiasi 35 kGy. Kadar air hidrogel PVP dengan konsentrasi pati 10-15 % berkisar antara 73 — 76 %. Kadar air hidrogel bergantungpada konsentrasi pati. Semakin besar konsentrasi pati, semakin kecil kadar air hidrogel. Dosis iradiasi tidak berpengaruh pada kadar air hidrogel. Kandungan air hidrogel yang cukup besar sangat potensial untuk digunakan sebagai penurun demam. Hidrogel PVP-pati hasil iradiasi gamma pada dosis 35 kGy mempunyai kemampuan menurunkan suhu air dari 40°C menjadi 36°C dalam waktu 21 menit untuk hidrogel dengan konsentrasi pati 10%, 24 menit untuk hidrogel dengan konsentrasi pati 12,5% dan hidrogel dengan konsentrasi pati 15%. Hidrogel komersial dapat menurunkan suhu air dari 40°C menjadi 36°C dalam waktu 24 menit. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hidrogel PVP dengan konsentrasi pati 10 % mampu menurunkan suhu dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan hidrogel dengan konsentrasi pati 12,5 dan 15 % maupun hidrogel komersial. Selain keunggulan tersebut, hidrogel PVP-pati ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu tidak melekat dengan baik pada kulit sehingga absorpsi panas menjadi tidak optimal dan berwarna putih tidak transparan serta agak rapuh.
KARAKTERISTIK SIFAT FISIKA - KIMIA HIDROGEL PVP-MADU-GLISERIN HASIL IRADIASI GAMMA Darmawan Darwis; Lely Hardiningsih; Farah Nurlidar
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 6, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.706 KB) | DOI: 10.17146/jair.2010.6.2.516

Abstract

yang mengandung madu dengan konsentrasi 6% dan gliserindengan konsentrasi 0 sampai dengan 5%. Telah dibuat sebanyak 9 macam formula hidrogel PVP dengan berbagai komposisi yang kemudian diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 25 kGy. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penambahan madu dengan konsentrasi 6% dan gliserin hingga konsentrasi 5% menghasilkan hidrogel yang bersifat steril, transparan, berwarna agak kuning, dapat meningkatkan kelenturan/fleksibilitas, kenyamanan pemakaianpada kulit, dan daya tahan terhadap jamur. Hidrogel PVP-madu gliserin juga mempunyai kemampuan penguapan air pada suhu 37 oC yang lebih rendah serta dapat mengabsorbsi air lebih banyak dibandingkan dengan formula basic (tanpa penambahan madu dan gliserin).
SINTESIS DAN KARAKTERISASI KOMPOSIT HIDROKSIAPATIT (HA) SEBAGAI GRAFT TULANG SINTETIK Darmawan Darwis; Yessy Warastuti
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.078 KB) | DOI: 10.17146/jair.2008.4.2.549

Abstract

Telah dilakukan pembuatan dan karakterisasi komposit hidroksiapatit/PVA/PVP/khitosan dengan teknik radiasi.Hidroksiapatit (HA) disintesis dari kalsium hidroksida dan asam fosfat pada suhu dan pH terkontrol menggunakan metode basah (wet method). Sedangkan komposit HA/PVA/PVP/khitosan dibuat dengan radiasi sinar gamma pada berbagai dosis. Untuk mengevaluasi HA yang terbentuk selama proses sintesis maka dilakukanlah karakterisasi beberapa parameter seperti rasio CA/P, pengukuran gugus fungsi menggunkan FTIR dan analisis ukuran kristal dengan SEM. Analisis terhadap komposit hasil iradiasi dilakukan terhadap fraksi gel. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata rasio Ca/P dari 3 batch produksi adalah 1,69. Hasil pengukuran gugus fungsi dengan FTIR menunjukkan serapan pada bilangan gelombang (wave number) 1035, 603 dan 565 cm-1 yang merupakan gugus fosfat (PO4-3); bilangan gelombang 1421 cm-1 yang merupakan gugus karbonat (CO3-2); dan bilangan gelombang 3450 cm-1 yang merupakan gugus hidroksil (OH). Hasil ini menunjukkan bahwa sintesis dengan metode basah menghasilkan senyawa hidroksiapatit dengan tingkat kemurnian yang sangat baik. Komposit HA/PVA/PVP/ khitosan yang diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 5 hingga 30 kGy menghasilkan fraksi gel antara 80 - 90 %. Komposit dengan kandungan fraksi gelyang tinggi ini bersifat kaku dan mempunyai kendala dalam pemakaian klinis. Penambahan etanol 5 % pada komposit dan iradiasi pada dosis 25 kGy dapat menurunkan fraksi gel dari 90 % menjadi 30 % serta gel yang dihasilkan bersifat elastis dan mudah dibentuk sesuai keinginan. Sedangkan penambahan gliserin 6 %hanya menurunkan fraksi gel dari 90 % menjadi 80 %. Etanol 5 % merupakan scavenger yang lebih efektif dibandingkan dengan gliserin 6 %.