Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGGUNAAN KONSENTRASI HORMON PROGESTERON UNTUK DETEKSI STATUS REPRODUKSI TERNAK SAPI PERAH post partum Totti Tjiptosumirat
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 5, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.017 KB) | DOI: 10.17146/jair.2009.5.2.528

Abstract

Pemantauan fisiologis terhadap pulihnya ovarium untuk dapat beraktivitas kembali post partum telah dilakukan dengan menggunakan 54 ekor ternak sapi perah Frisian Holstein (FH) multiparus. Ternak terkelompok menjadi 2 populasi; sebanyak 23ekor ternak mendapat pakan dan minum ad libitum serta tambahan konsentrat dengan perbandingan 1:2 untuk konsentrat dan produksi susu (K1), dan sebanyak 31 ekor ternak mendapat perlakuan serupa dengan K1 dan diberi tambahan pakansuplemen UMMB sebanyak 300 g/ekor/hari mulai dari 1 bulan menjelang kelahiran hingga 2 bulan post partum (K2). Layanan IB pada ternak K2 didasarkan pada informasi hasil pemantauan hormon progesteron sedangkan pada K1 didasarkan pada pengamatan birahi secara konvensional atau visual. Pengamatan fisiologis ovarium dilakukan dengan mengukur konsentrasi progesteron dalam susu yang dimulai dari 1 bulan prepartum hingga 2 bulan post partum. Pemberian pakan suplemen memberikan pengaruh yang nyata (P < 0.01) terhadap kembaliberfungsinya ovarium post partum. Tenggang waktu antara kelahiran dan ovulasi I post partum, antara kelahiran dan IB I, antara kelahiran dan kebuntingan, serta jarak antara dua kelahiran masing-masing untuk ternak K1 dengan K2 adalah: 99,2 ±10,2 vs 55,5±4,6 hari; 136,1±6,9 vs 96,7±13,6 hari; 198,7±14,9 vs 103,0±3,0 hari; dan 403,8±7,7 vs 371,3±15,6 hari. Selain itu, aplikasi teknik RIA progesteron dan pemberian pakan suplemen memberikan perbaikan dari kinerja reproduksi ternak sapi perah secara keseluruhan yang ditandai dengan jumlah IB per kebuntingan (service per conception; S/C), masing-masing untuk ternak K1 dengan K2, yaitu 3,4 vs 2,3. Keadaan ini menunjukkan bahwa aplikasi teknik RIA progesteron dapat meningkatkan efisiensi layanan IB dan pakan suplemen dapat memperpendektenggang waktu antara kelahiran hingga kebuntingan berikutnya (days open) ternak sehingga waktu antar kelahiran pada ternak sapi perah dapat dipersingkat.
STUDI HUBUNGAN KONSENTRASI HORMON PROGESTERON DENGAN JUMLAH KORPUS LUTEUM PADA KAMBING Totti Tjiptosumirat
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 5, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2009.5.1.524

Abstract

Sebagai upaya untuk mengetahui akan adanya bunting kembar secara alami, studi hubungan antara jumlah sel telur (ova), yang digambarkan dengan jumlah korpora lutea (CL), dengankonsentrasi hormon progesteron pada 12 ekor ternak kambing betina dewasa telah dilakukan. Percobaan ini bertujuan melihat hubungan antara jumlah sel telur, yang digambarkan dengan jumlah korpora lutea, dengan konsentrasi hormon progesteronpada ternak kambing. Dalam percobaan, seluruh ternak (n=12) mendapatkan perlakuan sinkronisasi estrus (birahi) dengan mengijeksikan secara intra muskular (i.m.) Estrumate® sebanyak 2 kali dengan interval 10 hari. Observasi jumlah sel telur yang dilepaskan dari ovarium, yang digambarkan dengan jumlah CL terpantau, dilakukan dengan aplikasi teknik laparoskopi. Hewan percobaan dibagi menjadi dua kelompok pengamatan berdasarkan pada jumlah sel telur terobservasi, yaitu kelompok K ≤2CL dan K >2CL. Sampel darah diambil dari seluruh hewan percobaan saat dilakukan sinkronisasi birahi, yaitu: -10, -1, 0, 2, 11 dan 21 hari periode birahi untuk dianalisis konsentrasi hormon progesteron. Analisis dilakukanmemakai teknik radioimmunoassay (RIA). Terdapat hubungan yang signifikan (P<0,01) antara jumlah sel telur terovulasi dengan konsentrasi progesteron dalam serum pada pertengahan siklus birahi (fase luteal). Rata—rata konsentrasi progesteron pada fase ini 4,00 ± 0,89 dan 5,95 ± 0,90 nMol/L masing—masing untuk kelompok K≤2CL dan K>2CL. Kegiatan pengamatan ini mengkonfirmasikan bahwa konsentrasi hormon progesteron dapat digunakan sebagai indikator untukmemprediksi jumlah sel telur terovulasi yang dapat digunakan dalam program twinning pada ternak ruminansia kecil.Kata kunci : progesterone, RIA, korpus l
REPRODUCTIVE DISORDER STUDIES USING RADIOIMMUNOASSAY (RIA) PROGESTERONE ON DAIRY CATTLE Totti Tjiptosumirat; Bokky Jeane Tuasikal; Nuniek Lelananingtyas
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.195 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.563

Abstract

Two intensive systems of husbandry practices, Garut West Java and Yogyakarta Central Java, were chosen for this study. Both areas have been voluntarily made into a pilot farm for theapplication of RIA progesterone to improve reproductive performance. Five dairy cattle from Garut West Java, which according to Health Extension and Artificial Insemination Technicians anamneses and according to farmers who own the animal, were showing reproductive failure and were selected from those cattle for the study. Other fifteen dairy cattle from Yogyakarta area, with anamneses of having low reproductive performance, were also selected for this study. Milk progesteronesample were collected twice a week for five consecutive weeks period of time to follow the biological reproductive status of every animal, while samples from dairy cattle at Yogyakarta were collected three times post Artificial Insemination (AI) services, as according to Artificial Insemination Database Application (AIDA) procedure, to monitor the failure of AI, success rate of AI, and ovarian activities of the cattle. Result of the study in Garut shows that RIA progesterone indicates that animals need special treatments and most AI failed due to lack of historical information of the dairy cows. RIA progesterone leads to a suggestion that it can be use as a tool to monitor the reproductive disorder, as the recommendation made for those cows to anticipate reproductive disorder overcome the problems. Similar result found in Yogyakarta, which almost 50% of the observed animals failed to AIdue to miss-estrus detection. Furthermore, from the RIA for milk progesterone, information of the reproductive disorder figures can be drawn and early suggestion could be made to anticipate losses. Overall, beside the reproductive historical record, RIA progesterone is important tool to be applied in the animal husbandry system in Indonesia as to improve the herd productivity and has an economical value to reduce operational cost at waiting period for feeding animal up to INS Rp 224,000 — 336,000 per head animal.