Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tinjauan Teknik Isotop dan Radiasi Dalam Penyelidikan Potensi Sumber Daya Air Paston Sidauruk
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.2.506

Abstract

Aplikasi teknik isotop dalam penyelidikan sumber daya air baik sumber air permukaan,air tanah, maupun interaksi antara air permukaan dengan air tanah telah berkembang baik khususnya pada empat dekade terakhir. Teknologi ini dalam perannya sebagai salah satu metode penyelidikan dalam masalah hidrologi secara bersama-sama dengan teknik hidrologi lainnya maupun secara independent sudah terbukti dapat menjawab beberapa masalah yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. Di Indonesia, teknologi isotop ini telah banyak diaplikasikan diantaranya untuk: penelitian daerah imbuh cekungan air tanah, umur air tanah, penyelidikan pola dynamika dan neraca air waduk atau danau, interaksi antara air tanah dan air permukaan, debit air permukaan, penelitian interkoneksi antara sistem sungai bawah tanah di daerah karst, dan keselamatan bendungan. Dalam dua studi kasus yang dibahas dalam makalah ini yaitu penyelidikan asal usul air keluaran ditubuh bendungan Wlingi, Jawa Timur, dan lokasi bocoran di Bendungan Ngancar, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa teknik isotop ini terbukti mampu menjawab masalah yang dihadapi secara efektitif dan efisien.
Studi Iklim dan Vegetasi Menggunakan Pengukuran Isotop Alam Stalaktit Goa Seropan, Gunung Kidul-Yogyakarta Satrio .; Paston Sidauruk; Bungkus Pratikno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.497

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mempelajariperubahan iklim dan vegetasi menggunakan isotop alam 13C, 14C dan 18O yang berasal darisampel stalaktit. Sampel stalaktit diambil dari goa Seropan yang terletak di KecamatanSemanu, Gunung Kidul, Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan iklim,vegetasi, temperatur atmosfer, umur dan pertumbuhan stalaktit. Kandungan CaCO3 dalamstalaktit digunakan untuk mendapatkan data dari ke tiga jenis isotop alam tersebut. Dataisotop 13C digunakan untuk mengetahui fluktuasi iklim dan vegetasi. Data isotop 18O, baikyang berasal dari stalaktit maupun dari air tanah yang menetes dalam stalaktit digunakanuntuk mengetahui perubahan temperatur atmosfer, sedangkan isotop 14C digunakan untukmengetahui umur dan pertumbuhan stalaktit. Hasil analisis isotop alam 13C menunjukkanbahwa iklim daerah Gunung Kidul didominasi iklim kering. Hampir 87,5 % menunjukkanvegetasi kering C4, di mana kandungan 13C-nya lebih kaya (-6 o/oo hingga +2 o/oo Pee DeeBelemnite, PDB) dan hanya 12,5 % saja kadang-kadang vegetasinya basah C3, di manakandungan 13C-nya lebih miskin (-14 o/oo hingga -6 o/oo PDB). Dari hasil analisis 18O (stalaktit,PDB) dan 18O (tetesan air, Standard Mean Ocean Water, SMOW) menghasilkan data temperaturantara 12,2 oC hingga 32,1 oC dalam kurun waktu dari tahun 1621 hingga 2011 dengantemperatur rata-rata 19,5 oC, sedangkan dari hasil analisis 14C menunjukkan bahwapertumbuhan stalaktit sekitar 0,1 mm/tahun atau dalam sepuluh tahun hanya tumbuh sekitar1 mm saja. Pertumbuhan ini tergolong lambat dan hal ini lazim untuk daerah tropis denganiklim/vegetasi kering seperti Gunung Kidul.Climate and vegetation study usingenvironmental isotopes (i.e., 13C, 14C and 18O) variations of stalactite has been conducted atSeropan cave, Gunung Kidul Karst area. The stalactite samples were collected from SeropanCave at Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta. The objective of study is to understand theclimate change, and vegetation types, temperature of atmosphere, age and stalactite growthrate through the interpretation of environmental isotopes (i.e., 13C, 14C and 18O) of stalactitesamples. The environmental isotope content of stalactite samples were analysed throughCaCO3 compound that was found at the stalactite samples. The 13C content of samples isimportant to understand climate undulation and also vegetation variation. On the other hand,the variation of 18O and 14C contents is important to predict past temperature of atmosphere,and the age as well as stalactite growth rate, respectively. The result of environmental 13Cisotope analysis showed that Gunung Kidul area in general can be classified as dry climate. Itis also indicated that almost 87.5 % of local vegetation can be classified as dry vegetation C4as can be seen from the variation of 13C content that is -6 o/oo to +2 o/oo vs PDB. This can alsomean that only 12.5 % of the time that the vegetation in the area is wet in which the variationof 13C content is in the range -14 o/oo to -6 o/oo vs PDB. The variations of 18O contents of thesamples (carbonate stalactite, or drip water) showed that the average temperature since 1621to 2011 was around 19.5 oC. On the other hand, the variations of 14C contents of the samplesshowed that stalactite growth rate was around 0.1 mm/year or one mm in ten years. Theresult shows that the stalactite growth is very slow as generally expected in tropical area suchas Gunung Kidul.
Studi Asal-Usul Air Lumpur Lapindo Periode 2007 — 2012 Menggunakan Isotop Alam Satrio Satrio; Bungkus Pratikno; Paston Sidauruk
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.2.502

Abstract

Telah dilakukan penelitian air tanah menggunakan isotop alam pada area semburan lumpur Lapindo Sidoarjo yang dilakukan dari tahun 2007 hingga 2012. Penelitian ini bertujuan mengetahui perkiraan asal-usul air pusat semburan berdasarkan pemantauan data isotop alam yang dilakukan hampir setiap tahun. Untuk analisis isotop 14C, pengambilan sampel yang berasal dari pusat semburan dilakukan dengan cara memisahkan lumpur dengan air selama semalam, sedangkan untuk analisis isotop 18O dan 2H sampel langsung diambil dari sekitar lokasi dan dimasukkan ke dalam botol 30 ml. Sebagai pembanding, dilakukan pula pengambilan dan analisis isotop terhadap sampel yang berasal dari luar pusat semburan, yaitu di sumur bor milik pabrik es di Porong yang berjarak sekitar 1 km dari pusat semburan. Hasil analisis isotop alam dan grafik hubungan δ2H terhadap δ18O dari tahun 2007 hingga 2012 menunjukkan bahwa air yang berasal dari pusat semburan merupakan air yang berinteraksi dengan magma atau bersifat magmatik dengan variasi isotop 18O dan 2H masing-masing bernilai antara 8,33 ‰ hingga 12,49 ‰ dan -8,9 ‰ hingga 1,8 ‰. Data isotop alam air tanah dan grafik hubungan δ2H terhadap δ18O yang berasal dari pabrik es masih menunjukkan air meteorik. Di samping itu, berdasarkan data isotop 18O dan 2H juga terlihat bahwa air tanah pabrik es memiliki kemiripan asal dengan air tanah daerah Pasuruan. Hasil analisis isotop 14C tahun 2007 diperoleh umur di atas 40.000 tahun yang menunjukkan bahwa air tersebut diduga merupakan air yang telah terjebak selama ribuan hingga jutaan tahun dan tergolongfosil air. Antara tahun 2008 hingga 2012, umur airnya bervariasi dari Modern hingga sekitar 20.000 tahun yang mengindikasikan adanya kontribusi dari air tanah atau air laut terhadap air yang keluar dari pusat semburan.