Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dampak Implementasi Environmental Goods (EGS) List Terhadap Kinerja Perdagangan Indonesia Aziza Rahmaniar Salam; Rino Adi Nugroho
Jurnal Borneo Administrator Vol 12 No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Puslatbang KDOD Lembaga Administrasi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.517 KB) | DOI: 10.24258/jba.v12i2.236

Abstract

Preparation of Environmental Goods list (EGs) and its implementation plan in international trade among APEC members will have impact on trade flows to the economics of its member, including Indonesia. This analysis aims to determine the potential impact that will be faced by Indonesia’s trade performance. This analysis used a Gravity model on 54 EGs products with GDP, value of imports, the distance and tariffs as variable. The analysis showed that GDP, value of imports and tariffs significantly affect Indonesian exports and imports, while distance has no significant effect either on export or import of Indonesia. Of the 48 products which can be processed, 38 products EGS will impact to increase Indonesia’s imports better rather than other APEC member, which in turn will lead trade balance into deficit. 10 products,  providing the possibility of increasing Indonesian exports to APEC. Overall, EGS product is manufactured products produced by developed countries, so the elimination of tariffs provide less incentive for domestic producers to increase production to meet domestic and foreign demand. Indonesia should have initiative to create and strengthen domestic industries that are environmentally friendly, facilitating investment, deregulation of the domestic private sector to build and increase productivity.Keywords  : APEC, Environmental Goods list, Indonesia trade performancePenyusunan Environmental Goods list (EGs) dan rencana implementasinya dalam perdagangan internasional antar negara  APEC akan membawa dampak pada arus perdagangan yang selanjutnya pada perekonomian masing-masing anggota, termasuk Indonesia. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui dampak potensial yang dihadapi Indonesia dengan diimplementasikannya EGs list terhadap kinerja perdagangan. Analisis ini menggunakan Gravity model pada 54 produk EGs dengan variabel PDB, nilai impor, jarak dan tarif bea masuk. Hasil analisis menunjukkan bahwa PDB, nilai impor dan tarif signifikan mempengaruhi ekspor dan impor Indonesia akan produk EGs, sedangkan jarak tidak berpengaruh signifikan baik terhadap ekspor maupun impor Indonesia. Dari 48 produk, yang dapat diolah, 38 produk EGs akan memberikan dampak pada meningkatnya impor Indonesia dari anggota APEC lainnya, yang pada akhirnya akan menyebabkan neraca perdagangan menjadi defisit. Sepuluh produk akan memberikan dampak kemungkinan terjadi peningkatan ekspor Indonesia ke negara APEC. Secara keseluruhan, produk EGs merupakan produk manufaktur yang dihasilkan oleh negara maju, sehingga penurunan tarif kurang memberikan insentif bagi produsen domestik untuk meningkatkan produksi dalam memenuhi permintaan domestik maupun asing. Indonesia harus memiliki inisiatif untuk menciptakan dan memperkuat industri domestik yang ramah lingkungan, memfasilitasi investasi, deregulasi untuk membangun sektor swasta domestik dan peningkatan produktivitas.Kata kunci: APEC, EGs list, Neraca Perdagangan Indonesia
Governance and Accountability of Macroeconomic Variables in Indonesia, Malaysia, Thailand and India Using Three Models Kumara Jati; Aziza Rahmaniar Salam
Cendekia Niaga Vol 5 No 1 (2021): Cendekia Niaga
Publisher : Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perdagangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52391/jcn.v5i1.576

Abstract

Abstract Fluctuation in macroeconomics variables has given a difficulty to interested parties to implement good governance and appropriate accountability to accelerate sustainable development. This is a research to understand how to maintain stability of macroeconomic variables and its relations with partner countries. This study takes the examples of three major countries in Asia, Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT), and India. Moreover, public sector openness and public administration need to facilitate information disclosure and increased cooperation between countries. Based on VAR model, the shock effect of macroeconomic variables (exchange rates, interest rates and foreign exchange reserves) vary each other. The existence of shock indicates the transmission among variables indirectly through intermediate channel, such as: capital, commodity and money market between 4 countries. Model ARMA-ARCH/GARCH and STSM shows macroeconomic variables in IMT and India will be relatively maintained and stable in 2022. Good governance should be based on principles of accountability, innovation, integration, and collaboration. Economic structure similarity and diplomatic relations established for decades have made IMT and India able to help each other to facilitated information disclosure and increased cooperation between the countries. However, the presence of shock from outside remains to be watched out as the global changes can disrupt the sustainable development. Abstrak Fluktuasi variable ekonomi makro telah memberikan kesulitan bagi pihak yang berkepentingan untuk menerapkan Tata Kelola yang baik dan Akuntabilitas yang tepat untuk mempercepat pembangunan berkelanjutan. Ini adalah penelitian untuk memahami bagaimana menjaga stabilitas variable ekonomi makro dan hubungannya dengan negara-negara mitra. Studi ini mengambil contoh tiga negara utama di Asia, Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT) dan India. Selain itu, keterbukaan sektor publik dan administrasi public perlu memfasilitasi keterbukaan informasi dan peningkatan kerjasama antar negara. Berdasarkan model Vector AutoRegression (VAR), Shok variable ekonomi makro (nilai tukar, suku bunga dan cadangan devisa) bervariasi satu sama lain. Keberadaan shok menunjukkan adanya transmisi antar variable secara tidak langsung melalui saluran perantara, seperti: pasar modal, pasar komoditas dan pasar uang antara 4 negara. Model ARMA-ARCH/GARCH dan Struktural Time-Series Model (STSM) menunjukkan bahwa variable ekonomi makro di IMT dan India akan relatif dapat dipertahankan dan stabil pada tahun 2022. Tata Kelola yang baik harus didasarkan pada prinsip-prinsip akuntabilitas, inovasi, integrasi, dan kolaborasi. Kemiripan struktur ekonomi dan hubungan diplomatik yang dibangun selama beberapa decade telah membuat IMT dan India dapat saling membantu untuk memfasilitasi pengungkapan informasi dan peningkatan kerjasama antar negara. Namun, keberadaan shok dari luar masih harus diwaspadai karena perubahan global dapat mengganggu pembangunan berkelanjutan.