Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FORMULASI KIT HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSFER SEBAGAI RADIOFARMAKA UNTUK STUDI LIMFOSINTIGRAFI DI KEDOKTERAN NUKLIR Eva Maria Widyasari; Nanny Kartini Oekar
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 13, No 1 (2012): Februari 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2012.13.1.935

Abstract

ABSTRAKFORMULASI KIT HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSFER SEBAGAIRADIOFARMAKA UNTUK STUDI LIMFOSINTIGRAFI DI KEDOKTERAN NUKLIR. Untukkeperluan limfosintigrafi, formula kit HSA-nanosfer dirancang sedemikian sehingga setelahditandai dengan 99mTc menghasilkan radiofarmaka 99mTc-HSA-nanosfer dengan kemurnianradiokimia >90%. Jumlah SnCl2.2H2O sebagai reduktor, Na-pirofosfat sebagai ko-ligan, danHSA-nanosfer yang optimum, beserta cara dan waktu inkubasi, kondisi penandaan, danmetode sterilisasi dipelajari dan dievaluasi sehingga dapat digunakan untuk membuat kit HSAnanosferkering dan stabil selama penyimpanan. Pengaruh umur partikel HSA-nanosferterhadap efisiensi penandaan juga diteliti. Hasil menunjukkan bahwa SnCl2.2H2O sebanyak 250μg yang telah direaksikan dengan 1,875 mg natrium pirofosfat, merupakan jumlah yang ideal.Jumlah optimal partikel HSA-nanosfer terdispersi dalam air adalah 25-50 μL, dan volumesediaan diatur kurang dari 225 μL. Campuran diinkubasi pada 37 oC selama 15 menit dalamkeadaan vakum atau tidak vakum, kemudian ditambah larutan 99mTc-perteknetat dan diinkubasipada suhu kamar selama 15 menit. Volume akhir 99mTc-HSA-nanosfer sebanyak 525 μLmenghasilkan efisiensi penandaan lebih tinggi dari pada volume akhir 2 mL. Umur partikel HSAnanosferyang disimpan pada temperatur 4 oC sampai 2 bulan tidak berpengaruh nyataterhadap hasil penandaan. Metode sterilisasi yang sesuai untuk pembuatan kit ini adalahpenyaringan menggunakan millipore steril dengan ukuran pori 0,22 μm untuk masing-masinglarutan komponen kit sebelum proses pencampuran.Kata kunci: limfosintigrafi, HSA-nanosfer, 99mTc, kit-radiofarmakaABSTRACTFORMULATION OF HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSPHERES KIT ASRADIOPHARMACEUTICAL FOR LYMPHOSCINTIGRAPHY STUDY IN NUCLEARMEDICINE. In order to the application in lymphoscintigraphy, the HSA-nanospheres kit hasbeen designed and formulated to have radiochemical purity more than 90 % after it was labeledwith 99mTc. Total amount of SnCl2.2H2O as reducing agent, sodium pyrophosphate as coligandand HSA-nanospheres as primary ligand, as well as the labeling condition andsterilization method were studied and evaluated. The influence of the storage time of HSAnanosphereswas also studied. The use of 250 μg SnCl2.2H2O have been reacted with 1.875mg of sodium pyrophosphate was found to be an ideal number. The optimal amount of thewater-dispersed HSA-nanospheres was 25 - 50 μL and the total solution volume was set lessthan 225 μL. This mixture was incubated at 37 oC for 15 minutes in a vacuum or not and afterthe labeling process with 99mTc, it was incubated at room temperature for 15 minutes. The99mTc-HSA-nanopheres final volume of 525 μL gives a higher labeling efficiency than the finalvolume of 2 mL. The age of HSA-nanospheres stored at 4 oC did not significantly influence thelabeling results. The sterilization method suitable for this kit making is sterile filtration by amillipore of 0.22 μm pore size for each kit component solution before mixing process.Keywords: lymphoscintigraphy, HSA-nanospheres, 99mTc, radiopharmaceutical kit
PENGEMBANGAN SENYAWA BERTANDA 99mTc-ETAMBUTOL UNTUK DIAGNOSIS TUBERKULOSIS: 2. KARAKTERISASI FISIKO-KIMIA DAN MIKROBIOLOGIS. Nanny Kartini Oekar; Kustiwa .; E. Susilawati
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 8, No 1 (2007): Februari 2007
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2007.8.1.2144

Abstract

PENGPENGEMBANGAN SENYAWA BERTANDA 99mTc-ETAMBUTOL UNTUK DIAGNOSIS TUBERKULOSIS: 2. KARAKTERISASI FISIKO-KIMIA DAN MIKROBIOLOGIS. Penyakit tuberkulosis (TBC) disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai bagian tubuh seperti antara lain paru-paru (sangat umum), kulit, tulang, kelenjar getah bening, kelenjar tiroid, dan saluran urogenital. Senyawa bertanda 99mTc-etambutol yang telah berhasil diteliti penandaannya pada tahun 2004 merupakan senyawa berbentuk kompleks khelat dengan radionuklJda 9grnTc sebagai inti Iogamnya. Senyawa tersebut diharapkan dapat digunakan untuk tujuan diagnosis penyakit TBC dengan teknik nuklir di bidang kedokteran, terutama untuk TBC yang letaknya jauh di dalam tubuh manusia dan tidak terjangkau dengan metode konvensionaf. Sebetum senyawa bertanda 99mTc-etambutol digunakan untuk tujuan diagnosis, senyawa tersebut harus memenuhi persyaratan radiofarmaka yang balk, sehingga perlu diiakukan karakterisasi. Hasilnya menunjukkan bahwa senyawa bertanda 99mTc-etambutol mempunyai karakteristik fisiko kimia sebagai berikut: pH adalah 6,0 - 6,5; kemurnian radiokimia 93,7 + 1,3 %, nilai Poot yang menunjukkan besaran lipofilisitas adalah 0,023 + 0,015, ikatan dengan protein ptasma sebesar 61,12 + 0,02 % dan bermuatan tistrik negatif. Terjadinya perubahan struktur molekul etambutol setelah menjadi 99mTc-etambutol tidak mempengaruhi afinitas bakterial dan daya bakterisidanya terhadap Mycobacterium. Adanya penurunan afinitas bakterial yang nyata dari 99mTc -etambutol terhadap bakteri M. bovisis yang hidup dan mati menunjukkan kespesifikan radiofarmaka ini untuk mendeteksi penyakit TBC yang masih aktif.