Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

POTENSI SUMBERDAYA AIR TANAH DI SURABAYA BERDASARKAN SURVEI GEOLISTRIK TAHANAN JENIS Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.777 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.197

Abstract

Surabaya merupakan salah satau kota terbesar di Indonesia dan sebagai pusat kegiatan (baik kegiatan industri, kependudukan, ekonomi maupun pemerintahan) di Jawa Timur khususnya dan Indonesia bagian timur pada umumnya. Seiring dengan hal tersebut maka Surabaya menghadapi banyak permasalahan khususnya yang berkaitan dengan air tanah. Akibat ketidakseimbangan antara pengisian (recharge) dengan pengambilan (discharge) air tanah akan menurunkan tinggi muka air tanah yang pada gilirannya mengakibatkan intrusi air laut, amblesan tanah dan kekurangan air bersih bagi masyarakat. Geometri, distribusi dan kedalaman akifer harus diketahui untuk dapat memecahkan permasalahn sumberdaya air tanah. Salah satu cara untuk mengetahui karakteristik akifer adalah dengan surve geolistrik tahanan jenis. Metode ini pada dasarnya adalah mengukur tahanan jenis material yang ada di bawah tanah dengan melewatkan arus listrik tertentu kedalam tanah dan kemudian mengukur perbedaan potensial antara dua titik. Berdasarkan survei ini, kondisi bawah tanah Surabaya terdiri dari 4 jenis batuan yaitu lapisan tanah (soil), batulempung,batulempung pasiran, dan batupasir. Akifer di Surabaya terbagi menjadi akifer dangkal/ akifer bebas (< 20 m) yang terdiri dari endapan alluvial dan akifer dalam/akifer tertekan (> 60 m) yang terdiri dari batupasir.Akifer ini tersebar merata di seluruh Surabaya hanya ketebalannya yang berbeda.
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) UNTUK PENATAAN KAWASAN PANTAI Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.868 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i2.209

Abstract

Kawasan pantai merupakan suatu kawasan yang spesifik, dinamik, unik dansangat kaya akan habitat baik laut maupun darat. Kawasan ini banyak sekali manfaatnya baik bagi masyarakat, swasta maupun pemerintah dan semakin lama semakin banyak yang membutuhkan padahal luasnya sangat terbatas, sehingga di kawasan ini sering terjadi konflik kepntingan antar sector seperti yang terjadi di Pantai Parangtritis dan sekitarnya. Oleh karena itulah perlu adanya penataan ruang yang baik di kawasan Pantai Parangtritis dan sekitarnya.Suatu perencanaan, penataan dan pengembangan wilayah yang baik memerlukan data spasial dan jnon-spasial yang kompleks dan sanga banyak, sehingga perlu adanya alat yang dapat menghubungkan, mengelola, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan data serta informasi secara baik. Salah satu alat tersebut adalah Teknologi SIG yang saat ini telah berkembang dengan sangat pesat.Penataan kawasan Pantai Parangtritis dapat dilihat pada Gambar 4 dan Tabel 3.Berdasarkan hal diatas maka pemanfaatan lahan di Pantai Parang tritis dansekitarnya adalah : untuk kawasan lindung hutan wisata (1,234 km2), kawasan lindung budaya (0,659 km2), hutan pantai (0,623 km2), kawasan lindung gumuk pasir (1,311 km2), sempadan pantai (1,533 km2), pertanian lahan basah (13,141 km2), pertanian lahan kering (7,563 km2), perikanan darat (1,272 km2), perikanan laut (0,652 km2) dan untuk pengembangan kawasan pemukiman (11,882 km2) serta pengembangan fasilitas wisata (1,006 km2).
PEMODELAN STATISTIK HUBUNGAN DEBIT DAN KANDUNGAN SEDIMEN SUNGAI Contoh Kasus di Das Citarum – Nanjung Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.684 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i3.220

Abstract

Kandungan sedimen menunjukkan konsentrasi zat padat yang tersuspensi dalam air. Untuk mengukur kandungan sedimen diperlukan peralatan khusus, relatif sulit, lama dan perlu biaya, sedangkan data debit sungai jauh lebih mudah diukur dan merupakan data yang selalu tersedia di tiap aliran sungai. Oleh karena itulah perlu dicari hubungan antara debit air sungai dengan kandungan sedimen dalam air sungai. Sehingga dengan adanya data pengukuran debit sungai tanpa ada pengukuran kandungan sedimen dapat diperkirakan kandungan sedimen dalam air sungai tersebut dengan cepat dan murah.Hubungan antara debit dengan kandungan sedimen untuk data DAS Citarum - Nanjung pada bulan Maret 1998 adalah : dengan analisis regresi eksponensial : Y = 0.7379 e0.0332 X dengan : koefisien korelasi (R) = 0.978 dan kesalahan baku perkiraan (SEY) = + 1.25 juta m3/hari; dengan analisis regresi berpangkat : Y = 6.7655.10-4 X2.2644 dengan : koefisien korelasi (R) = 0.985 dan kesalahan baku perkiraan (SEY) = + 1.20 juta m3/hari.Berdasarkan nilai koefisien korelasi dan nilai kesalahan baku perkiraan, maka analisis regresi berpangkat lebih sesuai dibandingkan dengan analisis regresi eksponensial untuk data kasus hubungan debit dan kandungan sedimen di DAS Citarum - Nanjung, Maret 1998.
ANALISIS PERATURAN PERUNDANGAN TENTANG DAERAH RESAPAN AIR DI DAS CITARUM HULU Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.557 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v3i2.248

Abstract

Pada skala nasional DAS Citarum tergolong DAS super prioritas. Khusus DASCitarum Hulu mempunyai fungsi utama sebagai perlindungan tata air tetapi dalamperkembangannya mempunyai fungsi ekonomi yang sangat strategis.Perkembangan kota dan jumlah penduduk di dalam DAS Citarum Hulumenyebabkan kebutuhan akan air bersih meningkat sangat tajam. Sebagian besarkebutuhan tersebut diambil dari air tanah. Dengan semakin meningkatnyakebutuhan (pengambilan) air tanah dan di lain pihak kualitas ruang hidrologinyasemakin menurun, akan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan antarapengambilan dengan pemasokan (imbuhan) air tanah. Akibat ketidakseimbangantersebut antara lain adalah turunnya muka air tanah, turunnya produksi sumur bor,frekuensi banjir di musim hujan dan frekuensi kekeringan di musim kemarausemakin besar. Oleh karena itu diperlukan adanya konservasi daerah resapan airdi DAS Citarum Hulu dari desakan perkembangan kawasan urban. Salah satuupaya untuk mendukung konservasi daerah resapan air tersebut adalah dengandikeluarkannya berbagai peraturan perundangan baik tingkat nasional maupunkabupaten. Beberapa hal penting berkaitan dengan perauran perundanganmengenai daerah resapan air di DAS Citarum Hulu adalah : a) Sebenarnyaperaturan atau kebijaksanaan untuk mempertahankan fungsi ekologi daerahresapan air sudah memadai, tetapi sering informasi dan batasannya kurang jelasdan rinci; b) Kurang terkendalinya pembangunan pemukiman oleh perorangankarena umumnya peraturan diberlakukan untuk pembangunan pemukiman dalamskala besar oleh pengembang (developer) serta peraturan/ kebijaksanaan yangdibuat sering belum dilengkapi peta yang representatif dan applicable;c)Kurangnya pranata (sistem) yang baik dan kuat, kuantitas dan kualitassumberdaya manusia yang terbatas, serta biaya dan waktu yang terbatas pulasehingga dalam proses pelaksanaan dan pengawasannya sering terjadipenyimpangan.
SISTEM JARINGAN KELEMBAGAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN PANTAI Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.687 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.258

Abstract

Lingkungan pantai merupakan suatu kawasan yang spesifik, dinamik, memiliki kekayaan habitat yang beragam di darat maupun di laut. Luas lahan kawasan pantai sangat terbatas padahal pemanfaatannya semakin lama semakin meningkat sehingga sering terjadi konflik kepentingan antar sektor yang membutuhkannya. Di lain pihak belum ada dukungan data, informasi dan koordinasi antar instansi yang sistematis, efektif dan efisien dalam masalah pengelolaan lingkungan pantai. Selama ini pengumpulan, penyimpanan, pengolahan data dan informasi serta penentuan kebijakan dilakukan secara sektoral oleh berbagai instansi yang terkait dan sering tidak terjadi koordinasi dan keterpaduan program dan kebijakan. Ditambah lagi masih belum ada kepastian siapa yang berwenang dalam perencanaan dan pengelolaan lingkungan pantai (belum ada sistem atau model jaringan kelembagaan yang baik). Untuk itu dibutuhkan komitmen dan peran sertastakeholders di daerah baik di tingkat propinsi, kabupaten/kota, dan desa-desa, untuk bersama-sama aktif dalam pengelolaan sumberdaya pantai, yang kemudian dituangkan dalam peraturan perundangan yang mengatur kewenangan masing-masing. Selain itu diperlukan mekanisme koordinasi yang jelas dan tegas baik koordinasi horisontal maupun vertikal serta melibatkan peran aktif masyarakat luas dalam mekanisme pengawasan.
TEKNOLOGI KONSERVASI UNTUK PENANGANAN KAWASAN RESAPAN AIR DALAM SUATU DAERAH ALIRAN SUNGAI Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.179 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v4i1.266

Abstract

Perkembangan pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat mengakibatkan kebutuhan akan air juga akan meningkat. Kebutuhan air bersih saat ini umumnya dipenuhi dari air tanah, padahal jumlah air tanah relatif tetap dan cenderung menurun karena berkurangnya resapan air ke dalam air tanah, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara pemasukan dengan pengambilan air tanah. Untuk itulah perlu dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan pemasukan (recharge) air tanah. Salah satu cara yang umum dilakukan adalah dengan menetapkan kawasan-kawasan resapan air sebagai kawasan lindung selain itu perlu dikembangkan pula berbagai macam teknologi konservasi yang lebih pro- aktif baik yang bersifat vegetatif maupun non-vegetatif. Beberapa alternatif teknologi konservasi untuk meningkatkan imbuhan/resapan air ke dalam tanah adalah :1. Melakukan upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah baik secara vegetatif seperti : reboisasi, hutan kemasyarakatan, strip cropping system, tumpangsari, dll; maupun secara mekanis/teknis seperti : terasering, saluran/parit jebakan, bangunan bendung penahan, dll2. Melakukan imbuhan buatan, dengan cara sistem imbas, injeksi, ditch and forrow dan spreading recharge.3. Pembuatan sistem peresapan air hujan seperti sumur resapan atau parit resapan.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP DEBIT SUNGAI ( STUDI KASUS SUB-DAS CIKAPUNDUNG GANDOK, BANDUNG ) Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 6 No. 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.505 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v6i1.328

Abstract

Now, Bandung area especially Cikapundung Catchment Area is developing rapidly. The development caused the need of area for settlement, business and other constructed area is also increasing. Increase in width of constructed area and decrease in width of forest area cause the run off coefficient is rise and the last, rate of flow the river at rain season is rise and at dry season is decreased. Result of this study are: a) daily minimu rate of flow Cikapundung Gandok Catchment area is decreased with gradient 0,004; b) daily maximum rate of flow Cikapundung Gandok is rise, with gradient 0,1682; c) annually rate of flow Cikapundung river is rise with gradient 0,5685; d) this pattern point a,b,c are caused by using of land that tend convert non-constructed area become constructed area; e) Each type of landuse have same influence on river rate of flow.
IDENTIFIKASI AKUIFER AIR TANAH DI KEC. MANGKUBUMI, KOTA TASIKMALAYA DENGAN METODE GEOLISTRIK Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 6 No. 2 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.979 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v6i2.337

Abstract

Along with increase in population and economic growth in Tasikmalaya Residence cause the need of water is increased too. The majority these need take from groundwater resources. Occurrence groundwater resources depends on many factor like landform (landscapes), geology, precipitation, land use, etc. Resistivity geoelectric survey can detect groundwater resources occurrence. This survey can detect geometry and distribution of groundwater reservoir (aquifer). Generally, underground condition of Mangkubumi area consist of 3 layers of lithology i.e. soil layer, sandstone and clayey sandstone and locally there are lens of pebbly sandstones. Sandstones have good potential as aquifer. Sandstone layer is evenlydistributed in Mangkubumi area at depth between 50 cm &ndash; 15 m. For shallowgroundwater resources exploitation should be directed at south east and south west part of Mangkubumi area; while for deep groundwater resources exploitation can directed anywhere at depth more than 100 m.
KAJIAN ATAS HASIL-HASIL PENELITIAN KAWASAN KONSERVASI DAERAH RESAPAN AIR DI CEKUNGAN BANDUNG Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.706 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v6i3.354

Abstract

Development of city and population in Bandung Basin cause the need ofclean water is increasing too. The increasement of groundwater abstraction andthe decreasement of recharge area will disturb the natural water balance in the Bandung Basin. Therefore, recharge area of the Bandung Basin must be protected and conserved. The efforts to protected this area is done with make some regulation and policy to protect and conserved the recharge area and mapping (delineation) recharge area. Generally the regulation is good enough, but this isn&rsquo;t detail; and monitoring and inforcement in field is still very weak. From the results of the research that were done, the recharge area in Bandung basin is in the northen and southern part of Bandung Basin with elevation more than 750 m. Detil mapping and delineation of recharge area with scale 1 : 100.000 or 1 : 5.000 must be done as soon as possible.
PEMODELAN VULNERABILITAS AIR TANAH DANGKAL DI PANTAI SELATAN KABUPATEN BANTUL - YOGYAKARTA Mardi Wibowo
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.956 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v7i2.376

Abstract

Groundwater quality, espicially shallow groundwater is very vulnerable topollution from residence, urban, agriculture, and industrial activity. All ofthe activity, to result waste and pollutant potentially, that can degradegroundwater quality, like as in southern coast of Bantul Resisence-Yogyakarta. So, it&rsquo;s need modeling of vulnerability of shallow groundwaterin unconfined aquifer. Based on natural condition of southern coast ofBantul Residence, parameters are used in development this model aredepth of groundwater level, surface geological condition, soil condition, andaquifer media.Based on this model, vulnerability of southern coast in Bantul Residence, is: abaut 27,86 km (47,52%) is classified in vulnerable class, 16,23 km (27,69%) is very vulnerable, 5,49 km (9,37% is, poor vulnerable and 9,04 km (15,42%) is not vulnerable. Generally, groundwater vulnerability is degrade toward land.