Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Gambaran Pelaksanaan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Tiga Puskesmas di Karesidenan Surakarta Anjang Kusuma Netra; Aji Danarko; Habiba Nur Laili; Fauziyyah Boenyamin; Muh Zaki Wisnumurti; Muhammad Afif Murad; Monica Bella E; Rizkika Albanjar S; Han Yang; Deonesya Maria R.S; Fathu Thaariq Baihaqy; Muhammad Irsa Madjid; Azzahra Khoirunnisa; Ghina Harisa A; Joshua Jota Romadhona; Kiara Hanna Quinncilla; Safrilia Syifa DA
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 8, No 1 (2019): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Cakupan pemberian ASI di Indonesia pada tahun 2016 diketahui bahwa jumlah persentase bayi mendapat ASI eksklusif sampai usia 6 bulan sebesar 29,5% dan bayi yang mendapat ASI usia 0-5 bulan sebesar 54,0%. Masih rendahnya pencapaian program pemberian ASI eksklusif dapat terjadi karena beberapa hambatan, diantaranya rendahnya pengetahuan mengenai ASI ekslusif. Tujuan peneltian ini untuk mengetahui gambaran pelaksanaan ASI eksklusif pada bayi di empat puskesmas di wilayah kerja Karesidenan Surakarta. Metode: Data diperoleh dari data primer empat puskesmas di Karesidenan Surakarta, di antaranya Puskesmas Jumapolo, Puskesmas Banyuanyar, dan Puskesmas Sibela. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Hasil: Dalam penelitian ini puskesmas Banyuanyar tidak mencapai target ASI eksklusif. Hal ini didukung juga dengan tidak tercapainya target pada upaya inisiaisi menyusu dini, yakni 39,1% dari target 48%. Dua puskesmas lain telah mencapai target dan hasilnya setara dengan ketercapaian ASI ekslusif. . Kesimpulan: Dalam penelitian ini didapatkan kesesuaian antara ketercapaian target ASI eksklusif dan inisiasi menysu dini. Hal ini didukung beberapa penelitian yang menyatakan terdapat hubungan yang setara antara ASI eksklusif dan inisiasi menyusu dini (IMD). Kata Kunci: ASI eksklusif, IMD
Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Wilayah Kerja Dua Puskesmas di Karesidenan Surakarta Anjang Kusuma Netra; Aji Danarko; Habiba Nur Laili; Fauziyyah Boenyamin; Muh Zaki Wisnumurti; Muhammad Afif Murad; Monica Bella E; Rizkika Albanjar S; Han Yang; Deonesya Maria R.S; Fathu Thaariq Baihaqy; Muhammad Irsa Madjid; Azzahra Khoirunnisa
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 8, No 1 (2019): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama. Tingginya angka kejadian BBLR dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan, karena bayi yang lahir dengan BBLR juga dapat menyebabkan peningkatan risiko kecacatan permanen, gangguan kognitif dan masalah kesehatan kronis lainnya dikemudian hari. Identifikasi faktor risiko BBLR adalah penting dalam menengahi konsekuensi kesehatan BBLR setelah lahir dan juga dalam mengurangi angka kejadian BBLR. Tujuan peneltian ini untuk mengetahui kejadian BBLR di wilayah kerja dua puskesmas di Karesidenan Surakarta. Metode: Data diperoleh dari data primer empat puskesmas di Karesidenan Surakarta, di antaranya, Puskesmas Banyuanyar dan Puskesmas Sibela. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan kesesuaian hasil antara kejadian KEK pada ibu hamil di wilayah puskesmas Banyuanyar, yang juga kejadian BBLR yang melampaui target. Sedangkan, pada Puskesmas Sibela, tidak didapatkan kesesuaian hasil antara kejadian KEK pada ibu hamil dan kejadian BBLR. Kesimpulan: Puskesmas Banyuanyar belum mencapai target yang diharapkan, sehingga diharapkam pihak puskesmas dapat mengevaluasi dan melaksanakan inovasi program guna meminimalisasi kejadian BBLR. Kata Kunci: BBLR, KEK
Gambaran Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tingkat Rumah Tangga di Wilayah Kerja Puskesmas Karesidenan Surakarta Anjang Kusuma Netra; Aji Danarko; Gita Santhika Putri D; Laila Putri Nurafsyah; Helena Christina Yolanda; Gustitiara An Nisaa; Maria Angela Sasono; Ghina Harisa A; Joshua Jota Romadhona; Kiara Hanna Quinncilla; Safrilia Syifa DA; Han Yang; Deonesya Maria R.S; Fathu Thaariq Baihaqy; Muhammad Irsa Madjid; Azzahra Khoirunnisa; Habiba Nur Laili; Fauziyyah Boenyamin; Muh Zaki Wisnumurti; Muhammad Afif Murad; Monica Bella E; Rizkika Albanjar S
Nexus Kedokteran Komunitas Vol 8, No 1 (2019): Nexus Kedokteran Komunitas
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Program PHBS di Rumah Tangga adalah suatu upaya untuk memberdayakan anggota di taraf rumah tangga agar tahu, berkenan dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat dan berperan aktif dalam pergerakanpergerakan kesehatan di lingkungan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat tingat rumah tangga di empat wilayah kerja puskesmas di Karesidenan Surakarta. Metode: Data diperoleh dari data primer empat puskesmas di Karesidenan Surakarta, di antaranya Puskesmas Jumantono, Puskesmas Banyuanyar, Puskesmas Jaten I, dan Puskesmas Sibela. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Hasil: Dalam penelitian ini puskesmas Banyunayar dan Jaten I belum mencapai target perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga. Ketidak tercapaian ini diduga berdampak pada kejadian diare pada balita. Data yang didapatkan hanya berupa persentase temuan kejadian diare pada balita. Data yang dimiliki masih kurang dapat memenuhi dan melengkapi penelitian ini. Diharapkan Pihak Puskesmas Banyuanyar dan Jaten I membuat inovasi dan program demi terlaksana perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga. Kesimpulan: Dalam penelitian ini puskesmas Banyunayar dan Jaten I belum mencapai target perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga. Hal ini juga diduga berdampak pada persentase temuan kasus diare pada balita di empat puskesmas yang tidak mencapai target. Kata Kunci: PHBS, rumah tangga
Vitamin D Receptor Gene Polymorphisms in Multiple Sclerosis Susceptibility: Updated Systematic Review and Meta-Analysis Han Yang; Baarid Luqman Hamidi; Esti Nur Ekasari; Krisandi Hartanto; Rudi Ilhamsyah
Magna Neurologica Vol. 4 No. 1 (2026): January
Publisher : Department of Neurology Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/magnaneurologica.v4i1.2417

Abstract

Background: The relationship between Vitamin D Receptor (VDR) gene polymorphisms and the risk of developing Multiple Sclerosis (MS) has been explored in numerous studies. However, the results were inconclusive. Therefore, this study aimed to investigate the relationship between VDR gene polymorphisms and susceptibility to MS. Objective: This study aimed to systematically evaluate the association between Vitamin D Receptor (VDR) gene polymorphisms and susceptibility to Multiple Sclerosis (MS) through a meta-analysis of existing studies. Methods: This study is a meta-analysis conducted in accordance with the PRISMA guideline. The literature search was conducted using the PubMed and Google Scholar databases from January 2014 to December 2024. Studies included in this meta-analysis were assessed using the Newcastle-Ottawa Scale (NOS). The association between VDR polymorphisms and the risk of MS was evaluated using pooled odds ratios (ORs) and 95% confidence intervals (CIs). Results: Six studies (868 cases/982 controls) were included. The TaqI polymorphism showed that TT vs TC + CC was associated with reduced risk of MS (OR 95% CI = 0.43 [0.21 - 0.86], p = 0.02), while CC vs TT + TC was associated with an increased risk of MS (OR 95% CI = 1.89 [1.51 - 2.36], p < 0.00001). T vs C was associated with reduced risk of MS (OR 95% CI = 0.69 [0.49 - 0.98], p = 0.04) while C vs T was associated with an increased risk of MS (OR 95% CI = 1.45 [1.02 – 2.05], p < 0.04). Conclusion: In summary, our meta-analysis revealed a significant association between VDR gene polymorphism and MS susceptibility in certain genetic models of the VDR gene.