Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN INSTITUSI LOKAL DALAM MENANGGULANGI KEMISKINAN DI PERKOTAAN Abun - Mawardi; Agus - Suryono; Sumartono - -
Wacana Journal of Social and Humanity Studies Vol. 12 No. 1 (2009)
Publisher : Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.819 KB)

Abstract

ABSTRAK   Semakin pesatnya pertumbuhan kota dan derasnya arus urbanisasi dan dampak daripada krisis ekonomi beberapatahun terakhir ini,membuat kemiskinan di perkotaan semakin meningkat. Hal ini diantisipasi oleh pemerintah dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang dimaksudkan untuk menanggulangi kemiskinan, saperti JPS (Jaring Pengaman Nasional), KUT (Kredit Usaha Tani) dan Proyek-proyek lain yang dikendalikan dan dilaksanakan oleh para birokrat, namun fakta di lapangan hasilnya kurang memuaskan. Berdasarkan pengalaman-pengalaman terdahulu, maka P2KP (Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan) menggunakan instusi lokal sebagai pelaksana proyek, yaitu BKM yang dibentuk dari dan oleh masyarakat sendiri, sehingga pendekatan yang dipergunakan berbeda dari proyek terdahulu yang menggunakan pendekatan bersifat top down, sedangkan pada P2KP menggunakan pendekatan botton up. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian ini berfokus pada BKM sebagai institusi local, mulai dari proses pembentukan, program-program BKM didalam mengimplementasikan P2KP dan pelaksanaan di lapangan. Bentuk-bentuk program penanggulangan adalah bantuan dana bergulir , program-program pelatihan dan dana hibah, yaitu dana yang digunakan untuk membangun sarana dan prasarana, manfaat P2KP adalah memberdayakan masyaraakat miskin dengan peminjaman modal usaha bantuan pembangunan sarana/prasarana dan dana untuk pelatihan. Selain hal tersebut terbentuknya BKM sebagai institusi local yang membantu menanggulangi kemiskinan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berupa  pengamatan  dan wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait sebagai data primer disertai data sekunder berupa dokumen-dokumen dan penelitian terdahulu, sedangkan  hasil  dari  penelitian  ini  menyimpulkan bahwa BKM terbentuk dari bawah berdasarakan ketokohan bukan berdasarkan profesionalisme dan P2KP akan lebih berhasil dengan melibatkan masyarakat, dalam pelaksanaan P2KP terdapat hambatan berupa masyarakat yang tidak bisa membuat proposal pengajuan pinjaman atau permohonan bantuan  yang lain, sementara manfaat P2KP sudah bisa dirasakan oleh masyarakat terutama program dana bantuan bergulir dan dana hibah untuk pembangunan sarana prasarana.   Kata kunci: Institusi lokal, kemiskinan, perkotaan     ABSTRACT   The increasingly rapid urban growth and fast urbanization flow as well as the impacts of the economic crisis in the last few years cause poverty in the urban areas to grow more and more. This can be anticipated by the government by issuing various policies which are intended to handle poverty, such as JPS (Social Safety Net), KUT (Credits for Farm Operations), and other projects controlled and carried out by the bureaucrats. However, in reality the results are less satisfactorily. Based on the previous experiences, P2KP (The Handling Project of Poverty in the Urban Areas) makes use of a local institution as the project executioner, that is BKM, which is composed of and by the communities themselves. Thus, this study uses an approach different from the approach used in the previous project. The later employs a top-down approach, while the former employs a bottom-up approach. In regard to the fact, the study gives a stress on BKM as a local institution, starting from the establishing process, its programs in implementing P2KP, and the execution in the field. The handling programs are in the form of continuing funding support, training programs, and hibah funding support, that is funding provided to build ways and means. P2KP has an advantage in empowering the poor by providing some credit for their working capitals, building ways and means, and providing some funding for training programs. Moreover, establishing BKM as a local institution will help handle poverty. This study used a qualitative method in the form of observations and direct interviews with the concerned stakeholders. The result will be called ‘primary data’, while documents and the results of the previous studies will be called ‘secondary data’. Based on the study, it is conclusive that BKM is established from the bottom according to personage rather than professionalism and that P2KP will be more successful by involving the communities. Although there is an obstacle in respect that members of the communities are not able to write credit proposals or other support requests, the communities have experienced the advantage of  P2KP, especially in the form of continuing and hibah funding for building ways and means.   Keywords:  Local institution, urban poverty.
PEMBERDAYAAN INSTITUSI LOKAL DAN IMPLIKASINYA BAGI MASYARAKAT (Studi Implementasi Kebijakan Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia Melalui Pendidikan Dan Pelatihan Di Desa Kundur, Kundur, Kabupaten Karimun) DJOKO EDY IMHAR; Suwondo - -; Sumartono - -
Wacana Journal of Social and Humanity Studies Vol. 12 No. 1 (2009)
Publisher : Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.929 KB)

Abstract

ABSTRAK Dalam era desentralisasi saat ini, pemerintah daerah, tidak terkecuali Karimun sebagai kabupaten baru yang secara hukum resmi dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 tanggal 4 Oktober 1999, mau tidak mau, suka tidak suka harus memberdayakan institusi lokal. Salah satu alasan utama mengapa daerah harus merajut atau membangun kembali institusi lokal adalah agar masyarakat tidak terjerumus kedalam kerantanan, keterpurukan, ketidak-berdayaan dan perpecahan. Pemberdayaan institusi lokal dalam pengertiannya sebagai organisasi, maka biasanya dilakukan melalui pendidikan non formal yang diarahkan untuk meningkatkan partisipasi, rasa percaya diri ataupun kemandirian masyarakat lokal dengan tujuan utamanya adalah menjadikan institusi-institusi lokal sebagai penghantar barang dan jasa serta pelayanan, sekaligus membawanya sedekat mungkin kepada masyarakat yang menjadi tujuannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis dan menginterpretasikan mengenai: 1). Implementasi kebijakan peningkatan kualitas sumberdaya manusia dalam pemberdayaan institusi lokal, yang meliputi: pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah melalui pendidikan dan pelatihan, pemberdayaan yang dilakukan oleh pihak swasta melalui pendidikan dan pelatihan, dan pemberdayaan diri anggota institusi lokal melalui pendidikan dan pelatihan yaitu menyangkut kesadaran individu, kelompok, maupun kesadaran pemimpin; 2). Implikasinya bagi masyarakat, yang meliputi: rasa kepemilikan, jalinan kerjasama antar anggota maupun antar anggota dengan pemimpin, dan keterbukaan dan responsifitas terhadap perubahan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik: wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif yang terdiri dari: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta verifkasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Implementasi Kebijakan peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan dan pelatihan: (a). Pemberdayaan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Karimun adalah melalui pendidikan pelatihan tenaga pengajar (Da’i dan Mubaliqh) dan ketenaga-kerjaan, kebijakan tersebut cenderung bersifat “top down”, metoda pemberdayaan yang digunakan adalah pendekatan individu; (b). Pemberdayaan yang dilakukan oleh pihak swasta adalah pendidikan dan pelatihan ketenaga-kerjaan, bersifat sentralistis, tidak mampu merespon kondisi dan potensi kelompok sasaran, dan diskriminatif; c). Pemberdayaan diri anggota institusi lokal, baik menyangkut kesadaran individu, kelompok maupun kesadaran pemimpin sangat baik, adanya proses pembelajaran kelompok disebabkan masih kentalnya nilai-nilai tradisional, kecilnya kesenjangan sosial ekonomi, dan kekhawatiran akan sanksi sosial; 2). Implikasi pemberdayaan bagi masyarakat: pemberdayaan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Karimun dan PT. Tambang Timah Tbk. Kundur belum atau tidak menunjukkan adanya implikasi yang diharapkan, kuatnya rasa kepemilikan, jalinan kerjasama antar anggota maupun antar anggota dengan pemimpin, dan keterbukaan dan responsifitas terhadap perubahan justru lebih merupakan implikasi dari pemberdayaan diri anggota institusi lokal dan nilai kerjasama, saling menghargai, musyawarah mufakat yang masih mengakar didalam institusi lokal yang bersangkutan. Kata kunci: Instituti lokal, pemberdayaan abstract In decentralization eras, local government of the Karimun regency, as a new regency that is legally established based on the Undang-Undang No 53 1999 dated on October 4th, 1999; inevitably has to utilize local institution. One of the major reasons why local area has to redevelop local institution is in order to avoid the society from susceptibilities, stumble, inability, and disintegration. Local institution empowerment in terms of organization, is usually implemented through non-formal education to increase society’s participation, self-confidence, and independence; which aims at establishing local institution becoming goods and services mediation, and also bringing as close as possible to the target society. This study uses qualitative approach to describe, analyze, and interpret : 1) implementation of human resource quality improvement policy in empowering local institution, consists of: empowering by government through education and training, empowering by private sector through education and training, and empowering by members of local institution themselves through education and training related with individual, group, and leader consciousness; 2) its implication to society, dealing with sense of ownership, working together among the members and between member and leader, and openness and responsiveness to existing changes. Data collecting is done through these techniques: interview, observation, and documentation. Data analysis used is interactive model consists of: data collecting, data reduction, data presentation, and verification. Research findings show that: 1) there are implementations of human resource quality improvement through education and training: (a) empowering done by the government of Karimun Regency through education and training of teachers (called Dari’’i and Mubaligh) and work force, this policy is tend to be ‘top down’, and empowering method used is individual approach; (b) empowering done by private sector through education and training of work force, it is centralistic, unable to response the condition and the potency of target group, and discriminative; (c) Empowering the members of local institution itself, including individual, group, and leader consciousness, the existing of group learning process due to traditional norms, the declining of socioeconomic gaps, and the anxiety of social sanction; 2) implication of society empowering: empowering done by the government of Karimun Regency and PT. Tambang Timah Tbk. Kundur has not shown significant implications expected, the strength of ownership, cooperation among members and the leaders, and openness and responsiveness to the existing changes, is the implication of empowering the member of local institution itself And cooperation, respective ness, and discussion that are still set in the local institution itself. Keywords: local institution, empowerment.
PEMBANGUNAN DAERAH DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN (Studi Kasus Implementasi Proyek Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani Dan Nelayan Kecil (P4K) di Kabupaten Jombang) Affandi - -; Sumartono - -; Solichin Abdul Wahab
Wacana Journal of Social and Humanity Studies Vol. 12 No. 1 (2009)
Publisher : Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.483 KB)

Abstract

ABSTRAK   Pentingnya program pemberdayaan dalam rangka menanggulangi kemiskian, salah satunya Program P4K adalah agar lingkaran setan kemiskinan dapat diputus sehingga kemakmuran dan implementasi pembangunan menampakkan hasil yang nyata. Dalam pembangunan di Indonesia, penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan telah dijadikan titik sentral, dimana program tersebut dijalankan secara serentak dan terkoordinir di daerah-daerah yang dikenal dengan kegiatan Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil (P4K). Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana implementasi kebijakan pembangunan Pemerintah Daerah (Program P4K) dilaksanakan dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan bagaimana pembangunan dalam memberdayakan petani dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan petani serta upaya-upaya dan hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi Pemerintah dalam melaksanakan Program P4 dalam rangka penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Jombang. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan dan menganalisis implementasi kebijakan pembangunan (Program P4K) dalam rangka penanggulangan kemiskinan; (2) mendeskripsikan dan menganalisis pembangunan dalam memberdayakan petani sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan petani, serta mengetahui upaya-upaya dan hambatan-hambatan pelaksanaan Program P4K dalam rangka penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Jombang. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, hasil penelitian ini disimpulkan bahwa, Program P4K sebagai upaya pemberdayaan kaum miskin pedesaan dengan pemberian bantuan modal, banyak dimanfaatkan oleh masyarakat desa untuk membuka usaha baru dan industri kecil lokal. Keberhasilan Program P4K di Kabupaten Jombang memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Program P4K banyak diikuti kaum perempuan petani, sehingga kemampuan petani dalam memanfaatkan dan menyerap dana bantuan P4K sangat tinggi ditunjukkan banyak KPK yang antri untuk memperoleh bantuan atau peningkatan dana bantuan. Orientasi pembangunan dengan tujuan memberdayaakan masyarakat berhasil dengan mempertimbangkan aspek-aspek penting dalam masyarakat. Keberhasilan Program P4K di Kabupaten Jombang tidak lepas dari partisipasi dan komitmen yang tinggi Pemerintah dan Masyarakat untuk melakukan pembinaan terus menerus dan berkelanjutan, di samping aspirasi dan inisiatif masyarakat diutamakan dalam pelaksanaan Program P4K. Inisiatif petani dalam memanfaatkan Program P4K sangat tinggi dengan terbentuknya kelompok-kelompok yang mandiri.   Kata kunci: Kemiskinan, pembangunan daerah ABSTRACT   The importance of empowerment programs in poverty alleviation, as P4K program, is to cut satanic circle of poverty, so prosperous and development implementation can give real result. In Indonesian development, poverty alleviation and empowerment have been the central points, where these programs were implemented simultaneously and coordinated at local areas that known as the Farmer and Fisherman Income Improvement Project (P4K). The research problem is how implementation of the Local Government development policy (P4K) program is implemented in alleviating poverty and how the development in empowering farmer can enhance farmer’s understanding and knowledge, and what efforts and obstacles that faced by local government when implement the program in coping poverty at Jombang Regency. Goals of this research are: (1) to describe and analyze  implementation of  development policy (P4K program) in alleviating poverty, (2) to describe and analyze the development in empowering  farmer so can improve  farmer’s understanding and knowledge and to know efforts and obstacles that faced by local government when  implement the program in alleviating poverty in Jombang Regency. Using qualitative approach, this research conclude that, P4K program as efforts to empower village poor people with giving capital aid, used by villager to establish new business and local industry. The success at Jombang Regency has its own  characteristic, that is, the  program was  participated by women farmer, so farmer’s ability in use and absorbing  P4K aid fund is very high, indicated  by the  queue of KPKs to receive aid fund. Development orientation that aimed at empowering of society is success with consider the society important aspects. Success of the P4K at Jombang Regency are related with the high participation and   commitment of local government and society to establish ongoing and continue founding, beside society aspiration and initiative that given priority in that implementation. Farmer’s initiatives in use P4K program is very high with established of stand alone group.   Keywords: Poverty, local development