Hoiril Sabariman
Brawijaya University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN BERKELANJUTAN: PERAN KLĔBUN BABINE’ DALAM MENGINTEGRASIKAN PEMBANGUNAN LINGKUNGAN, EKONOMI DAN SOSIAL DI PROVINSI JAWA TIMUR Hoiril Sabariman; Anik Susanti; Noer Azizah
Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender Vol 20, No 2 (2021): Marwah
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/marwah.v20i2.10993

Abstract

AbstractThe women's empowerment program in rural Madura is hampered by the demarcation line drawn up by Patriarchic culture. The emergence of a female village head in Madura is called “Klèbun Babine’”as a form of empowerment that pays more attention to women. This article tries to explain the role of the “Kalebun Babine'” in empowering women, then what are the “Kalebun Babine’” programs' in empowering women in rural areas. Kualitatif descriptif is using to methodology reaserch. Informant in definite base purposive sampling. Data collect by direct observations and interviews were carried out in the village  Ponteh. The data shows that the Ponteh community saw the role of the “Klèbun Babine’” in empowerment was very visible. “Klèbun Babine’” conducts empowerment activities on its own, often even incurs personal expenses. Some “Klèbun Babine’” programs in empowering women in rural areas, first; is the women's group savings and loan (SPKP) activity. Second, health activities for women. third, optimization of the PKK program. fourth, postponement of marriage age for adolescent girls. The five trainings are to maintain a clean and healthy environment. The scientific contribution of this article is, optimizing the role of the “Klèbun Babine’” as a model of empowering women in rural Madura. Keywords: Empowerment, Women, Klèbun Babine’, Rural AbstrakSelama ini program pemberdayaan perempuan di perdesaan Madura terhambat oleh garis demarkasi yang dibuat oleh budaya Patriarki. Perempuan sebatas peran rumah tangga, tanpa harus terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif, pendidikan, politik dan kesehatan. Munculnya kepala desa perempuan dalam bahasa Madura disebut Klèbun Babine’ memberikan harapan baru terhadap kaum perempuan di perdesaan. Salah satu bentuk nyata berupa pemberdayaan yang lebih memperhatikan kaum perempuan. Artikel ini menjelaskan peran Klèbun Babine’ dalam pemberdayaan perempuan, kemudian apa saja program Klèbun Babine’ dalam pemberdayaan perempuan di perdesaan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Informan ditentukan berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. Data didapat dari pengamatan langsung dan wawancara dilakukan di Desa Ponteh. Data menunjukkan, masyarakat di Desa Ponteh melihat peran Klèbun Babine’  dalam pemberdayaan perempuan sangat baik. Klèbun Babine’ melakukan sendiri kegiatan pemberdayaan, bahkan sering mengeluarkan biaya pribadi untuk kegitan tersebut. Beberapa program Klèbun Babine’ dalam pemberdayaan perempuan di pedesaan, pertama; kegiatan simpan pinjam kelompok perempuan (SPKP). Kedua, kegiatan kesehatan bagi kaum perempuan. Ketiga, optimalisasi program Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Keempat, penundaan usia nikah bagi remaja perempuan. Kelima, pelatihan menjaga lingkungan bersih dan sehat. Kontribusi keilmuan artikel ini adalah menjelaskan lebih lanjut tentang peran Klèbun Babine’ sebagai model pemberdayaan perempuan di perdesaan Madura. Kata kunci: Pemberdayaan, Perempuan, Klèbun Babine’, Pedesaan
FARMER SURVIVAL MECHANISM DURING THE PANDEMIC: A CASE STUDY OF THE TENGGER TRIBAL COMMUNITY, EAST JAVA Anik Susanti; Hoiril Sabariman
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i1.2483

Abstract

The Covid-19 pandemic has had a multidimensional impact on the community, especially the vulnerable, namely smallholder farmers in Indonesia. Currently, the challenges farmers face are not limited to land ownership, seasonality, erosion, price factors, marketing networks, and the quality of agricultural products. However, it is also disturbed to meet basic needs, resulting in decreased welfare. This study aims to uncover and analyze the mechanism of farmer survival and welfare improvement carried out by Tengger Tribe smallholders in the Bromo mountains, Probolinggo Regency. The case study method was used to explain the mechanism of improving the welfare of smallholder farmers. The research informants were determined based on specific considerations and criteria: six farmers based on land area ownership and crop type—data collection with observations, interviews, and field notes. The findings of this study show that there are several survival mechanisms during a pandemic. First, smallholder farmers with narrow land do not always depend on agricultural products but also diversify their jobs such as entrepreneurship, improving social marketing networks, and supporting services for tourism activities in Gunung Bromo. Second, the mechanism for enhancing welfare carried out by smallholder farmers is intensification by increasing production and reducing consumption. Farmers deploy production factors such as labor, capital, intercropping planting methods, and the use of manure. Meanwhile, reducing the consumption of smallholder farmers in the Tengger Tribe limits the most basic types of food goods to reduce shopping in the market to only a few types of essential goods. Through these rational choices,  smallholder farmers in the  Tengger Tribe were able to survive the storm of the  Covid-19 Pandemic.Pandemi Covid-19 memiliki dampak multidimensional bagi masyarakat, khususnya kaum rentan yaitu petani gurem di Indonesia. Saat ini tantangan yang dihadapi petani tidak sebatas pada faktor kepemilikan lahan, musim, erosi, faktor harga, jaringan pemasaran dan kualitas hasil pertanian. Namun, guna memenuhi kebutuhan dasar juga mengalami gangguan, sehingga kesejahteraan yang menurun. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap dan menganalisis mekanisme survival petani dan  peningkatan kesejahteraan yang dilakukan oleh petani gurem Suku Tengger di pegunungan Bromo Kabupaten Probolinggo. Metode studi kasus dipilih untuk menjelaskan mekasime peningkatan kesejahteraan petani gurem. Informan penelitian ditentukan berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu yaitu enam petani yang didasakan kepemilikan luas lahan dan jenis tanaman. Pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan catatan lapangan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa mekanisme survival di masa pandemi. Pertama, petani gurem dengan lahan sempit tidak selalu menggantungkan pada hasil pertanian, tetapi juga melakukan diversifikasi pekerjaan seperti wirausaha, meningkatkan jaringan sosial pemasaran, serta jasa pendukung kegiatan pariwisata di Gunung Bromo. Kedua, mekanisme peningkatan kesejahteraan yang dilakukan petani gurem adalah intensifikasi dengan cara memperbesar produksi dan mengurangi konsumsi. Petani mengerahkan faktor produksi seperti, tenaga kerja, modal, metode tanam tumpang sari, dan penggunaan pupuk kandang. Sementara itu, cara mengurangi konsumsi petani gurem di Suku Tengger membatasi jenis-jenis barang makanan yang paling pokok, sehingga mampu menekan belanja di pasar sampai pada beberapa jenis barang esensial saja. Melalui pilihan-pilihan rasional ini, petani gurem di Suku Tengger mampu bertahan dari badai Pandemi Covid-19.