Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Cognitive Dissonance in Health-Seeking Behavior of People in Indonesia to Prevent Covid-19 Firda Ayu Kusuma Dewi Subagyo; Irwansyah Irwansyah
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v8i1.18692

Abstract

During the Covid-19 pandemic, many people experience cognitive dissonance, including in the process of seeking health. In the Covid-19 pandemic, people have to deal with various kinds of information, thoughts, and beliefs about Covid-19. Having a relevant but inconsistent cognition can create psychological discomfort or dissonance. The feeling of discomfort has made people try to seek health. Indonesian people’s health-seeking behavior is unique because of certain beliefs, information, perceptions, cultures, and unique environments in Indonesia. So, this study aims to analyze the cognitive dissonance process that occurs in Indonesian people's health-seeking behavior in the Covid-19 pandemic. This study is a literature study. We use secondary data of literary works, scientific journals, books, articles in the mass media, and statistical data as study objects. The results of this study indicate that the cognitive dissonance theory can be applied to answer the health-seeking behavior of Indonesian people in the Covid-19 pandemic. Many people in Indonesia choose traditional medicine to prevent Covid-19 because it is believed to be a natural treatment, has empirical evidence, and is easy to do independently. Many people in Indonesia choose traditional medicine because it is influenced by hereditary beliefs, culture, and also the variety of information they hold.
RESISTANSI PENGEMUDI OJEK ONLINE TERHADAP CELAH HUKUM KETENAGAKERJAAN M. Ibnu Farhan; Irwansyah Irwansyah
Jurnal Kebijakan Publik Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jkp.v14i1.8212

Abstract

Hubungan industrial antara perusahaan aplikasi dan pengemudi ojek online di Indonesia dirumuskan secara kontraktual sebagai kemitraan. Pendefinisian pengemudi sebagai “mitra” alih-alih “pekerja” dalam kemitraan dimanfaatkan oleh perusahaan untuk menghindari kewajiban memberikan hak dasar dan jaminan sosial pekerja. Ketimpangan relasi terlihat dari otoritas penuh perusahaan untuk mengatur tarif dasar, mengontrol pembagian keuntungan, hingga memutus kemitraan secara sepihak. Dalam merespons kondisi kerja eksploitatif tersebut, sejumlah pengemudi justru mempraktikkan “kemitraan ganda”, yaitu bermitra dengan lebih dari satu perusahaan secara bersamaan. Sebagai analisis politik produksi, riset ini menelaah praktik kemitraan ganda dengan menggunakan teori gamifikasi kerja yang menjelaskan bahwa pekerja dirancang untuk abai terhadap realitas kondisi kerja melalui internalisasi persepsi terhadap kerja yang menyenangkan serta memberikan nilai tambah. Berdasarkan data yang diperoleh melalui studi pustaka dan wawancara terhadap pengemudi di Kota Depok, tulisan ini berargumentasi bahwa praktik kemitraan ganda merupakan upaya resistansi individualistis dari pengemudi untuk menyiasati kerentanan kerja akibat celah regulasi kemitraan dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial-ekonomi. Rendahnya kompetensi yang dibutuhkan untuk bekerja sebagai pengemudi dan bonus insentif yang disediakan oleh sistem kerja ojek online melalui gamifikasi menjadi alasan kuat bagi pengemudi untuk bertahan dengan profesinya. Tulisan ini menggarisbawahi pentingnya peran negara dalam mengatasi masalah kerentanan kerja pengemudi ojek online melalui harmonisasi hukum ketenagakerjaan di Indonesia.