Sarifudin
Universitas Mataram

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Efisiensi Dan Nilai Tambah Produk Agroindustri Olahan Kerupuk Kulit Sapi (Studi Kasus Di Seganteng Kota Mataram) Suprianto; Sarifudin
Journal of Economics and Business Vol 6 No 2 (2020): Ekonobis, September 2020
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/ekonobis.v6i2.51

Abstract

Penelitian ini mengambil judul “Analisis Efisiensi dan Nilai Tambah Olahan Produk Agroindustri Kerupuk Sapi (Studi Kasus di Seganteng Kota Mataram). Penelitian ini dilakukan dengan mengambil 6 unit usaha yaitu usaha pengolahan kerupuk sapi di Seganteng Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram yang ditentukan dengan sengaja. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis tingkat biaya dan pengeluaran produksi, efisiensi biaya dan nilai tambah atau Value Added Ratio (RNT). Secara keseluruhan dari 6 unit usaha agroindustri pembuatan kerupuk, sedangkan tingkat rasio usaha (R / C Ratio) rata-rata nilainya diatas 1 atau R / C. Rasionya> 1 yang dimaksud dengan kedua usaha pengolahan kerupuk kulit (R / C Ratio = 2,43) artinya usaha ini menguntungkan untuk dilaksanakan, dengan pendapatan rata-rata yang diperoleh industri kerupuk kulit dalam sekali proses produksi sebesar Rp. 7.163.263. Nilai tambah usaha pengolahan kerupuk kulit sebesar Rp 7.663.263 dan nilai tambah per kg dalam proses produksinya sebesar (7.633.263: 141 kg) Rp58.844,33 yang artinya setiap 1 kg kulit sapi yang diolah menjadi kerupuk kulit sapi dapat diberikan nilai tambah 58.844. 33. Rasio pertambahan nilai (RNT) sebesar 63% artinya nilai tambah tinggi karena RNT> 50%. Sarana Usaha Agroindustri Pembuatan kerupuk kulit sapi memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan.Untuk lebih meningkatkan nilai tambah usaha agroindustri pengolahan (usaha kerupuk kulit sapi) perlu lebih meningkatkan biaya operasional seperti penggunaan bahan bakar, penggunaan listrik, pembelian bahan penolong. Selain itu perlu adanya inovasi baru dalam menciptakan produk baru yang lebih menarik bagi daya beli konsumen.