Muhammad Najib Azca
Gadjah Mada University, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

A Tale of Two Royal Cities: The Narratives of Islamists' Intolerance in Yogyakarta and Solo Muhammad Najib Azca; Hakimul Ikhwan; Mohammad Zaki Arrobi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 57, No 1 (2019)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2019.571.25-50

Abstract

The article discusses the narratives of “Islamist” intolerance in two cities of Yogyakarta and Solo in the post-Suharto era. It aims to elucidate the multiplicity of intolerance acts and the complexity of underpinning factors to intolerance. It argues that Islamist intolerance has manifested in various forms, ranging from the ideological, instrumental, and symbolic form. However, these categorizations of ideological, instrumental, and symbolic are not clear-cut and permanent one, but there is always some possible overlap between them. There is also the possibility that the form of intolerance can change in different times and occasions. This study is based on fieldwork research taken during 2014-2016 in both cities. Methodologically, this research-based article used Extended Cased Method (ECM). The data was collected by employing indepth interview and participant observation with secondary sources such as local media and government documents.[Tulisan ini membahas narasi Islam intoleran di dua kota, Solo dan Yogyakarta, pasca rezim Soeharto. Selain itu juga menjelaskan sejumlah aksi intoleran dan kompleksitas faktor-faktor yang berkelindan dalam peristiwa tersebut. Tulisan ini mengajukan argumen bahwa Islam intoleran mempunyairagam bentuk, mulai dari ideologis, instrumentalis hingga simbolis. Meskipun demikian, kategori tersebut tidak bersifat kaku dan permanen, tetapi terkadang bersifat saling overlap satu sama lainnya. Ada kemungkinan juga bentuk intoleran berubah seiring dengan perubahan waktu dan kondisi. Kajian ini berdasarkan pada studi lapangan di dua kota pada rentang waktu 2014-2016. Secara metodologi kajian ini menggunakan pendekatan Extended Cased Method (ECM). Data dikumpulkan melalui serangkaian wawancara mendalam dan observasi partisipatif dengan didukung data sekunder dari arsip daerah dan sejumlah media surat kabar lokal.]
Governing Jihad: Islamic Militias, State Security Forces, and Religious Policing in Post-Conflict Poso, Indonesia Muhammad Najib Azca; Moh. Zaki Arrobi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 64, No 1 (2026)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2026.641.63-88

Abstract

This article examines the complex entanglements between state security forces and Islamic non-state actors in the dynamics of security and insecurity in post-conflict Poso, Indonesia. Drawing on and expanding the notion of “security blurs” proposed by Diphoorn and Grassiani, we investigate how Islamic religious discourses, authorities, and practices are inextricably woven into the fabric of security governance in this post-conflict context. The article reveals that policing against religious terrorism in Poso fundamentally involves engagements and collaborations with diverse Islamic non-state security actors, ranging from former jihadist combatants and ex-convicted terrorists to local Islamic religious leaders and community networks. This study argues that the entanglement of Islamic religious actors with state security forces simultaneously produces both security and insecurity. This form of “religious policing”—shaped significantly by Islamic norms, discourses, and actors—challenges the prevailing assumption in modern policing scholarship that security governance must necessarily be secular and impartial.[Artikel ini mengkaji keterkaitan kompleks antara aparat keamanan negara dan aktor-aktor Islam non-negara dalam dinamika keamanan dan ketidakamanan di Poso, Indonesia, pasca-konflik. Dengan mengacu pada sekaligus mengembangkan konsep “security blurs” yang dikemukakan oleh Diphoorn dan Grassiani, kami menyelidiki bagaimana wacana, otoritas, dan praktik keagamaan Islam terjalin erat dalam struktur tata kelola keamanan dalam konteks pasca-konflik ini. Artikel ini mengungkapkan bahwa penegakan hukum terhadap terorisme bermotif agama di Poso pada dasarnya melibatkan interaksi dan kolaborasi dengan berbagai aktor keamanan non-negara Islam, mulai dari mantan kombatan jihad, mantan terpidana teroris, hingga pemimpin agama Islam lokal dan jaringan masyarakat. Studi ini berpendapat bahwa keterkaitan antara aktor-aktor agama Islam dengan pasukan keamanan negara secara bersamaan menghasilkan keamanan dan ketidakamanan. Bentuk religious policing (penegakan hukum berbasis agama) yang secara signifikan dibentuk oleh norma, wacana, dan aktor Islam ini menantang asumsi yang berlaku dalam kajian penegakan hukum modern bahwa tata kelola keamanan harus bersifat sekuler dan imparsial.]