Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Transformasi Awig-Awig Dalam Pengelolaan Hutan Adat (Studi Kasus pada Komunitas Wetu Telu di Daerah Bayan, Lombok Utara) Edi Muhamad Jayadi; Soemarno Soemarno
The Indonesian Green Technology Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.602 KB)

Abstract

Awig-awig merupakan aturan adat yang diterapkan dalam pengelolaan hutan adat oleh Komunitas Wetu Telu (KWT), masyarakat adat yang bermukim di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, NTB. Dalam sejarah perkembangannya, awig-awig mengalami transformasi, yang berdampak terhadap kelestarian hutan adat di daerah Bayan. Berdasarkan hal ini, maka akan dilakukan analisis transformasi kearifan lokal KWT dalam pengelolaan hutan adat Bayan menggunakan model interaktif. Lokasi penelitian di desa Bayan dan desa Karang Bajo (kec. Bayan), yang terpilih secara purposive sampling. Variabel yang diamati adalah: 1) aturan-aturan yang tercantum dalam awig-awig, 2) transformasi yang terjadi pada struktur dan fungsi awig-awig, 3) penyebab terjadinya transformasi awig-awig, 4) dampak transformasi awig-awig terhadap kelestarian hutan adat di Bayan. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan model Miles dan Huberman. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan: 1) Aturan-aturan yang tercantum dalam awig-awig mengatur tiga hal, yaitu: larangan, sanksi, dan prosesi sidang adat, 2) Di dalam Perdes, aturan awig-awig ditambah menjadi lima, yaitu: hal-hal yang dilarang, hal-hal yang diperbolehkan, hal-hal yang diharuskan, dan sanksi, serta mekanisme penerapan sanksi. Transformasi awig-awig melalui penguatan internal dan Perdes merupakan upaya untuk merespon perubahan sosial dan meningkatkan jaminan kepastian hukum masyarakat. 3). Faktor internal, yang terdiri atas: bertambahnya jumlah penduduk dan minimnya mata pencaharian, lemahnya penegakan hukum, dan adanya pemekaran wilayah; dan faktor eksternal, yang terdiri atas: kebijakan pemerintah, perubahan sosial budaya, dan pasar bebas (pemodal asing), merupakan penyebab terjadinya transformasi awig-awig, 4) Berpindahnya pengelolaan hutan adat dari pemerintahan adat ke Kepala Desa di era Orde Baru, telah melemahkan kontrol lembaga adat terhadap hutan adat. Dampaknya adalah beralihfungsinya hutan adat sebagai akibat dari eksploitasi berlebihan yang dilakukan oleh aparat desa yang dibekengi oleh aparat keamanan. Kata Kunci:  Analisis transformasi kearifan lokal, pengelolaan hutan adat, Komunitas Wetu Telu
Potensi Bakteri Genus Pseudomonas Pendegradasi LAS di Ekosistem Sungai Tercemar Deterjen Sekitar Kampus Universitas Brawijaya Sanita Suriani; Suharjono Suharjono; Soemarno Soemarno
Indonesian Journal of Environment and Sustainable Development Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Graduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.297 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri anggota Genus Pseudomonas pendegradasi LAS di ekosistem sungai tercemar deterjen yang ada di sekitar kampus UB.  Sampel sedimen diambil di anak Sungai Brantas yang ada di sekitar Kampus UB pada bulan Agustus 2012 sampai November 2012. Sampel-sampel  yang diambil dari lokasi penelitian yaitu sampel air dan sedimen diukur konsentrasi residu LAS dengan menggunakan metode MBAS , dan selanjutnya dilakukan isolasi bakteri dari sampel sedimen yang diambil. Selanjutnya isolat-isolat yang berhasil di isolasi di uji kemampuan degradasinya dengan menginkubasikan isolat-isolat tersebut dalam media mineral sederhana yang mengandung 15 mg/L LAS.  Hasil penelitian  menunjukkan bahwa ekosistem sungai di sekitar kampus UB memiliki konsentrasi LAS diatas ambang batas (0,5 mg/L) yaitu untuk sedimen berkisar antara 1,93 mg/kg – 2,93 mg/kg dan untuk sampel air berkisar antara 1,7 mg/L – 2.9 mg/L selama bulan Agustus 2012 sampai November 2012. Lima isolat bakteri anggota Genus Pseudomonas yang memiliki potensi mendegradasi LAS berhasil diisolasi. Semua isolat bakteri mampu mendegradasi LAS sampai pada hari ke 28. Kelima isolat bakteri dalam waktu 28 hari secara berturut-turut P 2.1, P 3.2, C 2.3, C 2.1 dan C 2.2 mampu mendegradasi LAS sebesar 74,29 %, 70,03 %, 69,24 %, 66,63 %, dan 65,31 %.  Isolat P 2.1 memiliki kemapuan degradasi LAS paling baik di antara lima isolat yang ada. Isolat yang kemampuan degradasinya paling lemah adalah isolat C 2.2. Kata kunci: Linear Alkilbenzen Sulfonat (LAS), Genus Pseudomonas, biodegradasi