Tulisan ini menyoroti beberapa aspek perubahan struktural di empat negara"”negara Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand) dengan konsentrasi pada proses industrialisasi dan urbanisasi. Disebabkan beberapa kesamaan dalam karakteristik ekonomi mereka, negara-negara tersebut nampaknya menghadapi masalah pembangunan ekonomi yang hampir serupa pula. Mereka adalah eksportir tradisional hasil"”hasil pertanian dan pertambangan ke pasar yang sama (Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropa Barat). Negara-negara tersebut juga memiliki pengalaman yang sama dalam mengubah strategi industrialisasi mereka dari substitusi"”impor ke orientasi"”ekspor melalui penggunaan tenaga kerja murah (Hara, 1984).Ke empat negara tersebut adalah anggota pokok ASEAN yang dimaksudkan untuk menggalang kerjasama ekonomi, sosial"”budaya dan politik. Singapura dan Brunei tidak dibahas, berhubung karakteristik ke dua negara tersebut amat berbeda dengan ke empat anggota ASEAN lainnya. Meskipun ASEAN dapat menjadi wadah untuk menjalin kerjasama dalam menghadapai pasar internasional maupun untuk meningkatkan situasi ekonomi dalam negeri, disebabkan falsafah pembangunan ekonomi yang nasionalistik yang memandang pembangunan ekonomi sebagai kunci untuk membangun bangsa (lihat Hara, 1984), kerjasama semacam itu belum terlaksana secara baik. Kepentingan nasional adalah lebih utama daripada kepentingan regional yang pada gilirannya menghasilkan pola"”pola kerjasama yang longgar, meskipUn ini juga dianggap berperan dalam menunjang Viabilitas ASEAN (Wong, 1985). Kerjasama ekonomi dalam ASEAN dipengaruhi oleh interaksi antara kerjasama dan persaingan. Bagaimana hal ini mempengaruhi industrialisasi dan urbanisasi di empatnegara tersebut adalah sebuah pertanyaan yang perlu untuk dieksplorasi jawabannya.Dalam kaitannya dengan perubahan struktur pembagian kerja internasional, ke empat negara tersebut telah membuat penyesuaian"”penyesuaian yang esensial untuk menangkap peran yang lebih besar sebagai pengekspor barang"”barang industri tingkat bawah. ini telah mempengaruhi struktur ekonomi subnasional, termasuk urbanisasi mereka (Lo dan Salih, 1987). Di samping peningkatan dalam tingkat urbanisasi dengan pertumbuhan tahunan sekitar 3,7 persen pada periode 1980"”1985, negara"”negara tersebut telah mengalami peningkatan tingkat primasi perkotaan (Pernia, 1988) dengan kekecualian Malaysia di mana primasi adalah isyu yang tidak relevan (Lo dan Salih, 1987).Tulisan ini membahas situasi dan prospek"”prospek industrialisasi dan urbanisasi di empatnegara Asia Tenggara dengan memberi perhatian khusus pada konsekuensi-konsekuensi di bidang ketenagakerjaan. Harapan yang terkandung adalah agar dapat diperoleh perspektif yang lebih luas untuk mengkaji keterkaitan isyu-isyu substansial dalam konteks regional, sehingga dapat memberikan arahan untuk memantapkan kerjasama ekonomi di antara negara-negara anggota ASEAN.