Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PEMETAAN STRUKTUR LUAR KAMPUNG KOTA TANJUNG GEDONG Fermanto Lianto; Rudy Trisno; Mieke Choandi; Denny Husin
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v3i2.8820

Abstract

Kampung Tanjung Gedong is located at Tanjung Gedong lane. It is situated at the back of the educational area in Grogol, West of Jakarta. This kampung area is surrounded by the city’s facilities, like the University of Tarumanagara, the University of Trisakti, the Sumber Waras Hospital, other residential and commercial areas. In terms of the urban fabric, this kampung is characterized by irregularity and informality. Its streets are varied in size, meandering in shapes and forming a semi-labyrinth environment. Its inhabitants are students, laborers, street vendors, traders, etc. Despite having moderate spatial quality, Kampung Tanjung Gedong requires an improvement to be able to adapt to its context. One of the most effective solutions is to improve the condition by providing its inhabitants with education. Related to architecture, a community engagement project is planned to transfer knowledge by using mapping as training. It is intended to stimulate a better understanding of its inhabitants regarding the potency of the space. The activity includes documentation, both as actualization and archive. The methods are manual and digital mappings, it is a combination of hand and digital sketching by using manual tools and digital instruments. The mapping process is supported by Autodesk cad and camera as the tools. Drawing in this sense is utilized as a media for discussion and presentation. The finding is a cross-checking method, re-examination as a process to re-check existing location against archive and photography. The result is a series of manual, digital, and graphic mappings of kampung Gedong’s surface structureABSTRAK:Kampung Tanjung Gedong terletak di jalan Tanjung Gedong, berlokasi di belakang kawasan pendidikan Grogol Jakarta Barat. Dikeliling parsel-parsel kawasan pendidikan, seperti: Universitas Tarumanagara, Universitas Trisakti, Rumah Sakit Sumber Waras dan area komersial di sekitarnya; kampung Tanjung Gedong merupakan area pendukung yang menyediakan kebutuhan kawasan sekitar. Kampung ini karakteristik tidak beraturan, dengan kondisi rumah yang tidak selalu tertata. Kondisi jalan bervariasi dengan gang-gang yang berkelak-kelok. Pekerjaan penghuninya bervariasi dari: pekerja, mahasiswa, pedagang informal dan sebagainya. Meski hidup rukun dan damai, kondisi lingkungan dan ruang hidup mereka perlu terus ditingkatkan agar dapat beradaptasi dengan kemajuan jaman, salah satunya dengan transfer keilmuan tentang keruangan melalui pemetaan yang dapat memberikan pemahaman atas potensi ruang dan lingkungan tempat tinggal mereka. Selain itu, pemetaan berguna sebagai dokumentasi sebagai aktualisasi peta eksisting karena transformasi struktur kampung yang cepat. Pemetaan dilakukan dengan metode manual, yakni: sketsa menggunakan pola dan metode tracing dan digital menggunakan autodesk cad. Gambar adalah bahasa komunikasi pada sebuah lokasi sampel, sebuah hasil observasi, diskusi dan dokumentasi. Tujuannya kegiatan dalah memanfaatkan proses menggambar menjadi sarana pelatihan, sementara hasil akhir sebagai visualisasi yang berguna sebagai dokumentais. Temuannya adalah kedua metode saling melengkapi sebagai alat pertukaran informasi, dan memungkinkan pemeriksaan kembali (cross-checking) pada proses pemetaan. Hasil akhir berupa peta manual, pola pemetaan, peta digital dan peta grafis untuk mempresentasikan keruangan kampung.
PENGEMBANGAN TEKTONIKA FASHION ARCHITECTURE MANTEL Denny Husin; Fermanto Lianto
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.228 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.8101

Abstract

Market competition and the demands of the Indonesian fashion world, encourage the tailors of Kampung Baru to involve educational institutions to provide new academic and technical insights on fashion architecture in order to increase the usability and product image that results. Therefore a study was arranged to stimulate the participation of new village tailors to produce fashion architecture tectonics on coat designs. This knowledge can open up a new horizon of tailors in seeing clothing as a form of space. Using research techniques in community engagement activities has the potential to insert experiments in daily activities of the community by increasing the knowledge and skills of tailors. This research is a qualitative research with an action research approach, developing knowledge based on specific problems in the form of the ability of new village tailors who are stagnant in the replication of conventional techniques. The moulage technique in fashion is combined with the collage technique in the field of architecture to produce a three-dimensional volume on the coat that is the mainstay of the collection. The two techniques are combined with loosely bounded details, combining hand and machine creations so that clothing can respond to body movements. The end result is a fashion with volumetric character, built on integrated layers while showing flexibility and fluidity when the wearer moves. Architectural knowledge in this study is not implemented as conventional science but is a modification of the spatial in the form of clothing. Although the final prototype is in physical form of clothing; the concepts, methods and development of tectonics combine two sciences, namely fashion architecture. The strength of the tailor is focused on the seams of the layers of clothing that make up the spatial volume and detail of the design so that it is recognized as a characteristicABSTRAK:Kompetisi pasar dan tuntutan dunia mode Indonesia, mendorong penjahit Kampung Baru untuk melibatkan institusi pendidikan untuk memberikan wawasan akademik dan teknik baru pada fashion architecture agar dapat meningkatkan nilai guna dan citra produk yang hasilkan. Maka dari itu sebuah penelitian disusun untuk menstimulasi partisipasi penjahit kampung baru untuk menghasilkan tektonika fashion architecture pada desain mantel. Pengetahuan ini dapat membuka cakrawala baru kelompok penjahit dalam melihat pakaian sebagai salah satu bentuk keruangan. Menggunakan teknik penelitian dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat berpotensi menyisipkan percobaan pada kegiatan harian masyarakat dengan meningkatkan wawasan dan keterampilan penjahit. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan action research, mengembangkan pengetahuan berdasarkan masalah spesifik berupa kemampuan penjahit kampung baru yang stagnan pada replikasi teknik konvensional. Teknik moulage pada fashion dikombinasikan dengan teknik collage di bidang arsitektur untuk menghasilkan volume tiga dimensional pada mantel yang menjadi andalan koleksi. Kedua teknik disatukan dengan detail loosely bounded, mengkombinasikan kreasi tangan dan mesin agar pakaian dapat merespon pergerakan tubuh. Hasil akhir berupa fashion yang berkarakter volumetrik, dibangun atas layer-layer yang terintegrasi sementara menunjukkan fleksibilitas dan fluiditas saat pemakainya bergerak. Pengetahuan arsitektur pada penelitian ini tidak diimplementasikan sebagai ilmu konvensional namun modifikasi keruangan dalam bentuk pakaian. Meskipun prototipe akhir berbentuk fisik pakaian; konsep, metode, dan pengembangan tektonika mengkombinasi dua keilmuan yakni fashion architecture. Kekuatan penjahit difokuskan pada jahitan terhadap lapisan pakaian yang membentuk volume keruangan dan detail pada desain sehingga dikenali sebagai ciri khas.
PEMBUATAN JAKET DENGAN FABRIKASI ARSITEKTURAL UNTUK INDUSTRI KECIL DI JALAN DAMAI Fermanto Lianto; Denny Husin; Yuanda Saputra
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.698 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v2i2.7237

Abstract

Fenomena tersingkirnya industri kecil dibidang fashion terjadi karena kompetisi global dari busana yang kian kompleks, menempatkan mereka yang berdaya ekonomi lemah dan kemampuan intelektual rendah menghadapi isu tidak bergeraknya sebuah usaha kecil akibat terhimpit oleh keadaan. Masalahnya kemampuan penjahit terbatas pada menghasilkan produk dengan kualitas rendah dan minim kreativitas sangat sulit berkompetisi dengan pemain besar busana. Metode kualitatif digunakan untuk menganalisis keadaan mitra dengan mengangkat kemampuan sederhana yang mereka miliki, untuk diinterpretasikan dan dikembangkan kompleksitasnya. Melalui alat percobaan arsitektural, kemampuan bidang pakaian dikombinasikan secara manual dan digital dengan teknik adjusting pattern dan folding architecture. Minat dan bakat mitra dalam membuat seragam wanita berupa lipit dinilai berpotensi meskipun sesungguhnya merupakan kemampuan dasar teknik pleated. Dengan bantuan peranti lunak, mitra diperkenalkan dengan mesin (lasercutting) dan pengembangan digital (photoshop dan autodesk) sehingga dapat mengelaborasi hasil lipitan menjadi fabrikasi arsitektural berupa jaket. Sebagai temuan, adjusting pattern dan folding architecture dapat dikembangkan melalui kemampuan mitra melipit, baik sebagai tekstur dan detail jaket arsitektural dan menghasilkan kebaruan pola karena memungkinkan modifikasi dengan peranti lunak komputer.  Melalui pengetahuan arsitektural efisiensi, presisi dan kreativitas mengisi celah kebutuhan industri yakni; 1) Kebutuhan mitra untuk menambah wawasan mengembangkan teknik lipit dan penyesuaian pola pada pakaian seragam sehingga melihat peluang usaha baru; 2) Industri tekstil untuk menghasilkan variasi pola arsitektural yang lebih kompleks tanpa harus membuat eksperimentasi sendiri; 3) Arsitek dan dosen untuk menggunakan keilmuan pada disiplin ilmu dan industri lain.
KONSEP RUMAH SUSUN MIKRO DI KAMPUNG TANAH MERAH, JAKARTA UTARA Hendry Vincent Wijaya; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22214

Abstract

There are many urbanisation phenomenon in Indonesia, especially in Jakarta, that create issues of population density which have led to the emergence of large-scale settlements in big cities in the form of ‘kampung’. The aim of this project is to provide a solution to the problem of overcrowding and alternative settlements in the village in the form of micro- architecture. Kampung Tanah Merah, Koja, North Jakarta was chosen, because it has a population density, one of the highest in Jakarta. The qualitative method used by the author in this study, by observing the daily phenomena of residents. Urban acupuncture is used as a design method in this study by looking at the daily lives and behavior of local residents. Urban acupuncture methods use small-scale interventions to transform a larger urban context. The results of this study are in the form of micro housings, and other village supporting facilities. Micro housings are used by using modular units with container materials. In addition to the fulfillment of housing, the building will also be equipped with fulfillment for work and recreation, through facilities such as promenade, open space, warteg corner area and UMKM stalls. From this program, the building can support the village community to support life, work, and recreation so that the 'life, work, and fun' aspects are fulfilled in the village area. This project can answer the problems that exist in the area, so it is hoped that it can revive Kampung Tanah Merah and its surroundings. Keywords: housing; tanah merah village; micro; flats Abstrak Fenomena urbanisasi banyak terjadi di Indonesia, terutama di Jakarta, membuat isu kepadatan penduduk yang menyebabkan munculnya permasalahan pemukiman kumuh di kota-kota besar dalam wujud perkampungan. Tujuan dari proyek ini adalah untuk memberikan alternatif solusi terhadap masalah kepadatan penduduk dan pemukiman kumuh di kampung dalam bentuk mikro arsitektur. Kampung Tanah Merah, Koja, Jakarta Utara dipilih, karena memiliki tingkat kepadatan penduduk, salah satu yang tertinggi di Jakarta. Metode kualitatif digunakan penulis dalam penelitian ini, dengan mengamati fenomena keseharian warga. Urban acupuncture dipakai sebagai metode perancangan dalam penelitian ini dengan melihat keseharian dan perilaku warga sekitar. Metode urban acupuncture menggunakan intervensi skala kecil untuk mengubah konteks perkotaan yang lebih besar. Hasil pada penelitian ini adalah berupa hunian mikro, dan fasilitas penunjang kampung lainnya. Kebaruan hunian mikro yang dipakai menggunakan unit-unit modular dengan material peti kemas. Selain pemenuhan terhadap hunian, bangunan juga akan dilengkapi dengan pemenuhan akan pekerjaan, dan rekreasi, melalui fasilitas seperti promenade, open space, area warteg corner dan warung UMKM. Dari program tersebut, bangunan dapat mendukung masyarakat kampung untuk menunjang kehidupan, pekerjaan, dan rekreasi sehingga terpenuhinya aspek ‘life, work, n fun’ pada area kampung. Proyek ini dapat menjawab permasalahan yang ada pada kawasan, sehingga diharapkan dapat menghidupkan kembali Kampung Tanah Merah dan sekitarnya.
Kampung Taman’s Corridor Structure Investigation: A Territorial Analysis by Using a Snapshot Method Fermanto Lianto; Rudy Trisno; Denny Husin; Clinton Tedyardi
Journal of Regional and City Planning Vol. 33 No. 1 (2022)
Publisher : The Directorate for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2022.33.1.4

Abstract

Communality is prime in kampungs; the phenomenon of collective activities in kampungs is reflected in their structure, especially in the network of corridors, i.e., the in-between spaces that are the topic of this research. This research explored territorial analysis by converting photographs into architectural mapping diagrams and photo-collages using the snapshot method. The diagrams were produced to highlight the collective structure and the actual processes of communality. The physical structure was investigated as a medium to accommodate everyday activities in Kampung Taman, Yogyakarta, presenting a territorial analysis with respect to: a) implementation/execution, including activities, expressions, spaces, and joint structures; b) circulation; and c) dynamic phenomena occurring in Kampung Taman. The investigation illustrates a territorial implementation involving the physical structure of Kampung Taman’s corridor network and the user’s interpretation of space when conducting communal activities. This involves sharing social, communal, and public spaces. The territorial activities that affect the Kampung’s physical structure were tracked. The novelty is the discovery of spatial patterns that suggest organic development of the corridor network, as illustrated by a compilation of diagrams composed of strong examples captured directly on-site from Augustus 2018 to November 2020.
PENERAPAN DESAIN ARSITEKTUR EMPATI SEBAGAI UPAYA MEREDEFINISI REHABILITASI PECANDU NARKOBA Richard Giovanni; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24292

Abstract

Drug use is not entirely negative, what is dangerous about drugs is uncontrolled use, and one of the consequences is addiction, but not all addicts want to continue to use drugs. This project is a place for drug addicts who desire to recover regardless of their addiction, empathy is essential. If you look at the current condition of rehabilitation, not all can access rehabilitation facilities because the price is high so that not a few end up in prison. Inside rehabilitation feel like they are being punished and isolated because of the programs and physical facilities they provide, not much different from being in prison. This project tries to solve this by design with understanding addicts need to recover, not locking them up but preparing them to return to society and aftercare. But in reality, rehabilitation is only effective if the addict wants to quit, so this project used dis-programming content by combining drug rehabilitation and regulation, which looks contradictory but makes it easier to monitor drug use and its distribution. Applying the concept of a different form of panopticon with dispersed and natural surveillance so it doesn't create feelings of pressure, transparency but still has privacy. Located in West Jakarta, so as not to alienate drug addicts and make this building a new community vessel for recovering addicts, watching over others and engaging in activities to socialize with the community again. Keywords: addiction;  community; dis-program; empathic ; panopticons Abstrak Penggunaan narkoba tidak sepenuhnya negatif, yang berbahaya dari narkoba yaitu penyebaran dan pemakaian tidak terkontrol salah satu akibatnya adalah adiksi, namun tidak semua pecandu narkoba ingin terus ketergantungan. Proyek ini menjadi tempat bagi pecandu narkoba yang ingin sembuh terlepas dari adiksinya, empati menjadi faktor penting. Jika dilihat pada kondisi rehabilitasi yang ada saat ini, tidak semua dapat mengakses rehabilitasi karena harganya yang tinggi sehingga tidak sedikit yang berakhir di penjara, di dalam rehabilitasi pun akan merasa seperti dihukum dan terisolasi karena program dan juga fasilitas fisik yang tidak jauh berbeda dengan di penjara. Hal tersebut yang berusaha diselesaikan dengan desain yang dapat memahami kebutuhan pecandu tidak mengurung tetapi mempersiapkan mereka kembali ke masyarakat. Kenyataannya rehabilitasi hanya efektif jika pecandu sudah ingin berhenti, pada proyek ini konten dis-programming digunakan dengan menggabungkan rehabilitasi dan regulasi narkoba, terlihat bertolak belakang tetapi sebenarnya memudahkan pengawasan penggunaan narkoba dan penyebarannya. Mengusung konsep bentuk panopticons yang berbeda dengan pengawasan yang tersebar dan alami sehingga tidak memunculkan perasaan tertekan, transparansi tapi masih memiliki privasi. Terletak di Jakarta Barat, agar tidak mengasingkan para pecandu narkoba serta menjadikan bangunan ini untuk menjadi wadah komunitas baru bagi para pecandu yang sembuh mengawasi sesama dan terlibat aktivitas untuk bersosialisasi dengan masyarakat kembali.
PERANCANGAN GALERI TIDUR INTERAKTIF DI JAKARTA PUSAT Brianna Wijaya Utama; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24293

Abstract

In the last few decades, architecture has tended to be apathetic since aesthetics and function have been given more attention which has put the context of life aside. Architecture and empathy must go hand in hand so architects need to understand the spaces they design from the perspective of their users. Sleep disorders are problems in the quality and quantity of sleep that can cause stress and daytime sleepiness. Sleep disorders have a reciprocal relationship with mental health where sleep disorders can cause or be caused by mental illness. Since sleep disorder is a common thing in Indonesia, it leads to the normalization of sleep disorders which can cause a long-term negative impact on mental and physical health, lifestyle, work performance, social and economy. This design aims to provide a space that can increase awareness of sleep disorders as well as special therapy programs for sleep disorders through healing architecture. The benefit of this design is to provide a healing space for people with sleep disorders that focuses on the reception of the human senses on spatial quality. The design method used in this design is the everyday architectural method. The results of this design are interactive sleep gallery program, sleep-related research program, and special therapy programs for sleep disorders. Therapeutic programs are implemented so that people with sleep disorders can recover from sleep disorders in the long term by improving healthy lifestyle and creating good daily habits. Keywords: architecture; empathy; healing; mental; sleep Abstrak Beberapa dekade terakhir, arsitektur cenderung bersifat apatis karena estetika dan fungsi lebih diperhatikan yang membuat konteks kehidupan dikesampingkan. Arsitektur dan empati harus berjalan beriringan sehingga arsitek perlu memahami ruang yang mereka rancang dari perspektif penggunanya. Gangguan tidur adalah masalah dalam kualitas dan kuantitas tidur yang dapat menyebabkan stres dan kantuk di siang. Gangguan tidur memiliki hubungan timbal balik dengan kesehatan mental dimana gangguan tidur dapat menyebabkan atau disebabkan oleh penyakit mental. Umumnya gangguan tidur di Indonesia menyebabkan adanya normalisasi gangguan tidur yang dapat berdampak negatif secara jangka panjang pada kesehatan mental dan fisik, gaya hidup, performa bekerja, sosial, hingga ekonomi. Perancangan ini bertujuan untuk menyediakan ruang yang dapat meningkatkan kesadaran akan gangguan tidur serta program terapi khusus untuk gangguan tidur melalui healing architecture. Manfaat dari perancangan ini adalah untuk menyediakan ruang penyembuhan bagi penderita gangguan tidur yang berfokus pada resepsi indera manusia terhadap kualitas spasial. Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan ini adalah metode arsitektur keseharian. Hasil dari perancancangan ini berupa program galeri tidur interaktif, program penelitian terkait tidur, serta program terapi khusus gangguan tidur. Program yang bersifat terapi diterapkan agar penderita gangguan tidur dapat memulihkan gangguan tidur secara jangka panjang dengan memperbaiki pola gaya hidup dan menciptakan kebiasaan sehari-hari yang baik.  
REVITALISASI ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI ARSITEKTUR Teresa Josephine; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24294

Abstract

The University of Indonesia (UI) is one of the favorite state universities where prospective students compete to be a part of the university. The university screens and selects students with potential and meet its standards. This makes student competition at UI quite tough which causes most of the students to experience stress symptoms that damage their mental health condition. UI, which is a leading state university, has caused many prospective students from other regions to migrate and get positions at this university. UI facilitates the needs of its overseas students with student dormitory facilities which are usually intended for middle to lower-middle-class overseas students. The phenomenon of the presence of overseas students in the UI area requires the presence of a proper hostel as an accommodation. The issue of research on dormitory design in this study is the high-stress resolution in students related to the daily space that is run. The purpose of this study is to offer a dormitory design that prioritizes design steps in the form of systems, programs, and types as well as units that prioritize the psychology of UI migrant students. The research method used is a qualitative method that includes psychological factors related to the formation of space in architecture. The findings from this study are that the existence of a dormitory as a space for students' daily activities has unfavorable conditions that trigger stress for UI overseas students caused by intense academic competition. Therefore, this design is based on architectural psychology standards while still considering affordable design outputs for dormitories. This is achieved by applying floor elevation, increasing the number of open spaces as communal, and focusing the design on one view orientation as a stress release. Keywords:  architecture; dormitory; psychology; revitalization; student Abstrak Universitas Indonesia (UI) merupakan salah satu universitas negeri favorit di mana para calon mahasiswanya berlomba-lomba untuk dapat menjadi salah satu bagian dari universitas tersebut. Universitas ini menyaring dan memilih para mahasiswa yang berpotensi dan memenuhi standarnya. Hal ini membuat persaingan mahasiswa pada UI  dapat dikatakan cukup berat yang menyebabkan sebagian besar mahasiswanya mengalami gejala stres yang merusak kondisi kesehatan mental mereka. UI yang menjadi universitas negeri unggulan menyebabkan banyaknya calon mahasiswa dari daerah lain untuk merantau dan mendapatkan posisi di dalam universitas ini. UI memfasilitasi kebutuhan mahasiswa perantaunya dengan fasilitas asrama mahasiswa yang biasanya diperuntukan bagi mahasiswa perantau menengah ke bawah. Fenomena kehadiran mahasiswa perantau di kawasan UI ini membutuhkan kehadiran asrama yang layak sebagai sebuah akomodasi. Isu penelitian desain asrama pada penelitian ini adalah penyelesaian stres yang tinggi pada mahasiswa terkait dengan ruang keseharian yang dijalankan. Tujuan penelitian ini menawarkan sebuah desain asrama yang memprioritaskan langkah-langkah desain berupa sistem, program, dan tipe serta unit yang mengedepankan psikologis mahasiswa perantau UI. Metode penelitian yang dipakai adalah metode kualitatif yang menyertakan faktor-faktor psikologis terkait dengan pembentukan ruang dalam arsitektur. Temuan dari penelitian ini adalah adanya asrama sebagai ruang berkegiatan sehari-hari mahasiswa memiliki kondisi yang kurang mendukung sehingga memicu munculnya stres para mahasiswa perantau UI yang disebabkan oleh persaingan akademik yang ketat. Oleh karena itu, perancangan ini didasarkan pada standar-standar psikologi arsitektur dengan tetap mempertimbangkan keluaran desain yang terjangkau bagi asrama. Hal ini dicapai dengan menerapkan permainan elevasi lantai, memperbanyak ruang-ruang terbuka sebagai komunal, dan memusatkan desain pada satu orientasi view sebagai stress release.
Spatial Analysis and Development Dynamics of Kampung Kamal Muara via Coastal Mapping Denny Husin
Advances in Civil Engineering and Sustainable Architecture Vol. 7 No. 2 (2025): Advances in Civil Engineering and Sustainable Architecture
Publisher : Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/acesa.v7i2.14640

Abstract

This research aims to conduct a spatial mapping analysis for Kamal Muara Fisherman Kampung to understand the development dynamic of its housing fabric. It focuses on identifying and exploring the potential for spatial hybridity, a key factor in the transformation of the kampung’s physical layout. The study identifies a critical issue in the current spatial aggregation, which lacks optimal development and coherence, thereby emphasizing its character for strategic planning and design intervention. A qualitative interpretive methodology is employed, utilizing a typo-morphological approach. The primary research instrument involves digital mapping techniques. The mapping process consists of three main stages: (1) map extraction, (2) morphological analysis, and (3) typological synthesis. The expected outcome of this research is the formulation of a spatial algorithm for model development, with a particular emphasis on generating a prototype for residential units that could serve as the structural core of the kampung’s spatial network.
A TYPOLOGICAL INVESTIGATION OF THE Y.B. MANGUNWIJAYA’S URBAN CHURCH Rudy Trisno; Fermanto Lianto; Denny Husin
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol. 47 No. 1 (2020): JULY 2020
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.166 KB) | DOI: 10.9744/dimensi.47.1.1-10

Abstract

As the iconic buildings in Yogyakarta, the Mangunwijaya’s churches contribute a great influence on the city. His wisdom is not only written in his books, but also has been implemented through his architectural projects, revealing a specific composition of a spiritual language. A qualitative study is used to reveal Mangunwijaya’s architectural principles, by using the tracing method to highlight the structural elements of his urban churches. A typological investigation is accompanied by retracing Mangunwijaya’s drawing, where its spatial composition and form are emphasized through points and lines. Hence, by eliminating decorative elements, the most fundamental components of the churches can be raised, consisting: 1) The roof as the most dominant element, a volume that suggests the openness of the building; 2) Landscape defines a mutual symbiosis between indoor and outdoor, stimulating communication and gesture; 3) A typological composition that respects a Roman-Catholic church’s principles while revealing a local identity.