Sebagaimana pemilihan umum – pemilihan umum sebelumnya, pemilihan umum presiden yang digelar pada bulan 9 Juli 2014 silam juga diwarnai oleh fenomena iklan politik. Iklan politik, terutama di media cetak, selalu menjadi andalan bagi para aktor politik untuk merebut perhatian dan kepercayaan pemilih. Sayangnya, usaha-usaha untuk menarik perhatian pemilih melalui iklan seringkali menggunakan tanda-tanda yang sarat akan stereotype atas kaum marginal dan menempatkan kaum marginal sebagai objek. Iklan politik menampilkan kaum marginal melalui teks, baik verbal maupun visual yang beraneka ragam, yang muaranya tak lebih dari pemuasaan atas narsisme politik calon yang bersangkutan. Dengan menggunakan pendekatan semiotik untuk menganalisis iklan-iklan politik di surat kabar nasional edisi 5 Juni – 5 Juli 2014, penelitian ini menunjukkan bukti bahwa kaum marginal masih direpresentasikan secara stereotipikal dalam iklan politik pemilu presiden 2014. Memang ada beberapa iklan yang tidak menampilkan objektifikasi tersebut, namun iklan - iklan politik yang menempatkan kaum marginal sebagai objek masih tampak mendominasi. Iklan-iklan politik tersebut semakin melanggengkan stereotype yang ada di masyarakat sehingga membuat posisi kaum marginal justru kian termarginalkan. Konsekuensinya, ketika masyarakat berkomunikasi dengan atau tentang kaum marginal, mereka tidak bisa menghindari kecenderungan untuk tidak melakukan stereotyping dan objektifikasi karena mereka melihat representasi di media sebagai kenyataan yang sebenarnya.