This Author published in this journals
All Journal Jurnal InterAct
Diyah Hayu Rahmitasari
School of Communication FIABIKOM Atma Jaya Indonesia Catholic University

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Objectification of The Marginal in Political Ads during Indonesian Presidential Election Campaign 2014 Birgitta B Puspita; Diyah Hayu Rahmitasari
Jurnal InterAct Vol 5, No 1 (2016): Jurnal InterAct
Publisher : Atma Jaya Indonesia Catholic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.077 KB) | DOI: 10.36388/ia.v5i1.768

Abstract

Sebagaimana pemilihan umum – pemilihan umum sebelumnya, pemilihan umum presiden yang digelar pada bulan 9 Juli 2014 silam juga diwarnai oleh fenomena iklan politik. Iklan politik, terutama di media cetak, selalu menjadi andalan bagi para aktor politik untuk merebut perhatian dan kepercayaan pemilih. Sayangnya, usaha-usaha untuk menarik perhatian pemilih melalui iklan seringkali menggunakan tanda-tanda yang sarat akan stereotype atas kaum marginal dan menempatkan kaum marginal sebagai objek. Iklan politik menampilkan kaum marginal melalui teks, baik verbal maupun visual yang beraneka ragam, yang muaranya tak lebih dari pemuasaan atas narsisme politik calon yang bersangkutan. Dengan menggunakan pendekatan semiotik untuk menganalisis iklan-iklan politik di surat kabar nasional edisi 5 Juni – 5 Juli 2014, penelitian ini menunjukkan bukti bahwa kaum marginal masih direpresentasikan secara stereotipikal dalam iklan politik pemilu presiden 2014. Memang ada beberapa iklan yang tidak menampilkan objektifikasi tersebut, namun iklan - iklan politik yang menempatkan kaum marginal sebagai objek masih tampak mendominasi. Iklan-iklan politik tersebut semakin melanggengkan stereotype yang ada di masyarakat sehingga membuat posisi kaum marginal justru kian termarginalkan. Konsekuensinya, ketika masyarakat berkomunikasi dengan atau tentang kaum marginal, mereka tidak bisa menghindari kecenderungan untuk tidak melakukan stereotyping dan objektifikasi karena mereka melihat representasi di media sebagai kenyataan yang sebenarnya.