Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Usulan perbaikan kualitas benang drawnyarn dengan metode six sigma di PT. Indonesia Toray Synthetics Maria Ulfah; Puji Lestari
Journal Industrial Servicess Vol 5, No 1 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jiss.v5i1.6794

Abstract

PT Indonesia Toray Synthetics merupakan perusahaan yang didirikan pada tahun 1971 sebagai pionir dalam memproduksi serat sintetis di Indonesia dengan menggunakan teknologi dari Toray Jepang. Salah satu produk yang diamatiyaituproduksipadaPolyester Filament Yarn yang dalam proses produksinya banyak terdapat produk cacat. Oleh karena itu, untuk mengurangi tingkat kecacatan yang dihasilkan perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas dengan menggunakan metode Six Sigma. Tujuan pada penelitian ini yaitu menentukan nilai DPMO dan nilai Sigma, menentukan jenis cacat yang paling dominan, menentukan faktor-faktor yang menyebabkan cacat produk, dan mengusulkan perbaikan untuk mengurangi produk cacat benang Drawn Yarn di PT Indonesia Toray Synthetics. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai DPMO 1.435,666 dan nilai sigma 4,58. Berdasarkan diagram Pareto menunjukkan jenis cacat produk benang tipe 50-24-A yang paling dominan yaitu jenis cacat zure kecil, yogore dan bad form. Usulan perbaikan untuk mengurangi jenis cacat zure kecil yaitu melakukan inspeksi terhadap mesin secara rutin, memberikan pelatihan atau pendidikan kepada operator agar lebih berhati-hati dalam product handling, dan dilakukan inspeksi terhadap wet chip secara rutin. Untuk jenis cacat yogore, usulan perbaikannya yaitu memberikan pelatihan atau pendidikan kepada operator agar lebih berhati-hati dalam doffing, mengadakan pengecekan atau inspeksi lebih rutin terhadap mesin, dan memperbanyak ventilasi dan pencahayaan. Usulan perbaikan untuk jenis cacat bad form adalah memberikan pelatihan atau pendidikan kepada operator agar lebih berhati-hati dalam product handling, membuat jadwal maintenance dengan jadwal yang lebih rutin, dan melakukan inspeksi terhadap wet chip secara rutin.