Rita Wardhani
PPDGS Ilmu Penyakit Mulut Universitas Padjadjaran

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pendekatan Psikologis pada Penatalaksanaan Burning Mouth Syndrome Akibat Konsumsi Pil Kontrasepsi Rita Wardhani; Tenny Setiani Dewi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.34142

Abstract

Burning Mouth Syndrome (BMS) merupakan suatu kumpulan gejala dengan karakteristik rasa panas dan sakit pada satu atau beberapa struktur mulut dengan mukosa normal tanpa adanya gejala klinis yang ditemukan. Faktor penyebab BMS ini diketahui ada tiga yaitu faktor lokal, sistemik, dan psikogenik, ketiga faktor ini dapat digali melalui anamnesis. Seorang wanita, 54 tahun, dikonsulkan dari RS.Swasta, dengan keluhan rasa panas dan perih pada lidah dan mulut. Berdasarkan anamnesis diketahui pasien merasa takut terjadi kanker mulut dan takut hamil sehingga menggunakan pil kontrasepsi  tanpa konsultasi dengan dokter. Pemeriksaan ekstra oral terdapat  bibir kering dan pemeriksaan intra oral ditemukan depapilasi lidah pada 1/3 anterior dorsum lidah,eritema, dan sakit. Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan klinis pasien didiagnosa dengan BMS diduga akibat penggunaan pil kontrasepsi. Terapi dari Ilmu Penyakit Mulut (IPM) diberikan obat kumur Sodium Chlorite, Vitamin B12, dan Asam Folat,  edukasi tentang penggunaan obat, dan dikonsulkan ke Bagian Obsetri dan Ginekologi dan diinstruksikan untuk menghentikan pil kontrasepsi. Setelah dilakukan terapi di IPM selama 6 minggu pasien merasakan perbaikan pada rongga mulutnya. Insidensi BMS sering terjadi pada wanita dengan populasi usia premenopause dan menopause. Depresi dan kecemasan merupakan permasalahan yang sering timbul pada pasien BMS yang mengalami menopause, pada kondisi pasien dengan kecemasan tinggi penting bagi dokter gigi untuk memberikan informasi dan edukasi serta dukungan terhadap pasien. Konsultasi yang baik dapat menimbulkan pengertian yang lebih dalam  sehingga pasien dapat mengeliminasi rasa cemasnya. Keberhasilan pendekatan psikologis dan medis akan membantu dalam penatalaksanaan yang tepat pada pasien BMS.