Fenny Aulia Sugiana
1. Research Center For Biotechnology, Indonesian Institute Of Sciences 2. Department Of Biochemistry, Bogor Agricultural University. Jl. Raya Darmaga, Kampus IPB, Bogor 16680, West Java, Indonesia. Tel : +62-51-8423 267

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Low cost and comprehensive pork detection in processed food products with a different food matrix Fenny Aulia Sugiana; Henni Widyowati; Muhammad Ali Warisman; Suryani Suryani; Desriani Desriani
Indonesian Journal of Biotechnology Vol 23, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.968 KB) | DOI: 10.22146/ijbiotech.32372

Abstract

The adulteration of processed beef-based meat products with pork is a sensitive issue in Indonesia. In this study, we developed a detection method for the low cost identification of pork in processed meat products. We used the cost-efficient Taq DNA polymerase, DreamTaq Green PCR master mix (2x), and duplex PCR method to recognize pork simultaneously with 18S rRNA detection. A positive control containing a pork gene inserted into pGEM®-T easy was prepared, along with a negative control. The results of the duplex PCR were used to assess its specificity, detection limit, and its ability to recognize pork in processed meat products with a different food matrix. 18S rRNA detection was for confirming DNA integrity of DNA extracted from the processed food, while the positive control confirmed that the reagents were working well and the negative control confirmed a non-contamination problem. Following this, the duplex PCR was optimized and the optimum concentration primer for duplex PCR detection was found to be 3 µm for pork and 0.2 µm for 18S rRNA. As little as 3.125 ng of the DNA template could be used to detect whether a sample contained pork. Duplex PCR is a simple, fast, sensitive, specific, and low cost method of detecting pork in processed meat products.
Penguatan Kedaulatan Pangan melalui Edukasi dan Implementasi Pengendalian Hama Terpadu di Desa Sempu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur: Ceramah, Diskusi Interaktif, dan Pendampingan Digital Hermanu Triwidodo; Fenny Aulia Sugiana; Tri Budiarto; Lexi Majesty Pendong; Anis Bias Cintaning; Eva Monica; Dewi Rahmawati
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 1 (2026): JAMSI - Januari 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2316

Abstract

Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri adalah salah satu desa yang mayoritas penduduknya bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber penghidupan utama. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan petani, membentuk sikap dan perilaku yang mendukung penerapan pengendalian hama terpadu serta memanfaatkan platform Digitani sebagai sarana informasi dan panduan teknis. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan ceramah, diskusi interaktif, dan tanya jawab secara luring maupun daring. Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada tanggal 18 Juni–9 Agustus 2025 melibatkan 45 peserta yang terdiri dari masyarakat dan kelompok tani Desa Sempu. Hasil diskusi menunjukkan masalah utama yang dihadapi, yaitu serangan penyakit dan hama pada komoditas unggulan, yakni nanas, cabai, dan tomat. Selain itu, penggunaan pestisida tanpa panduan teknis, ketiadaan rotasi bahan aktif, serta ketidakakuratan identifikasi organisme pengganggu tanaman. Melalui program penyuluhan pengabdian ini, petani memperoleh pengetahuan tentang identifikasi hama dan penyakit, penggunaan pestisida yang tepat, pemanfaatan agens hayati, dan teknologi digital untuk konsultasi pertanian. Output yang diperoleh, yaitu adanya peningkatan minimal 50% pengetahuan, kemandirian petani, dan produktivitas pertanian masyarakat di Desa Sempu yang mendukung ketahanan pangan lokal. Hal tersebut dapat dilihat dari terbentuknya kebiasaan baru untuk rotasi bahan aktif, melakukan konsultasi berbasis Digitani, dan berkurangnya aplikasi pestisida kombinasi yang berisiko.