Agus Maulana
Universitas Dr Sutomo Jl. Semolowaru No.84, Surabaya 60118

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Total Productive Maintenance (TPM) Pada Pabrik Gula Rafinasi di Indonesia (Studi Kasus: PT. XYZ) Sigit Priyono; Machfud Machfud; Agus Maulana
Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) Vol. 5 No. 2 (2019): JABM Vol. 5 No. 2, Mei 2019
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/jabm.5.2.265

Abstract

This article aimed to analyze the application of Total Productive Maintenance (TPM) at one of the biggest sugar refinery companies in Indonesia, which encounters decline in productivity within these 4 years. Total Productive Maintenance (TPM) is a system for improving the factory productivity. The implementation of TPM pillars was evaluated through overall equipment effectiveness (OEE), visual management, lost time injury (LTI), and time accident rate (TAR) methods. The results of the analysis indicated that the accomplishment of 5S program implementation as the TPM foundation was around 65% for the total area, and 61% for production area, while the target was 85% for compliance score. Implementation of planned maintenance had not attained the standard target in terms of availability and performance rate parameters. Autonomous maintenance was the unimplemented pillar in the company. This research concluded that PT. XYZ has not implemented TPM effectively in its operational. The recommendation for PT. XYZ is to implement the autonomous pillar and scheduled part replacement to solve issues at the factory, and to focus on critical work areas; i.e. dryer-cooler station, areas with the highest breakdown duration and mean time to repair (MTTR), and the lowest mean time between failures (MTBF).Keywords: critical work area, OEE, productivity, sugar refinery, TPMAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Total Productive Maintenance (TPM) di salah satu perusahaan gula rafinasi terbesar di Indonesia yang sedang mengalami penurunan produktivitas dalam kurun waktu empat tahun terakhir. TPM merupakan sistem yang bermanfaat dalam peningkatan produktivitas pabrik. Evaluasi penerapan pilar-pilar TPM dilakukan melalui metode analisis overall equipment effectiveness (OEE), manajemen visual, lost time injury (LTI) dan time accident rate (TAR). Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa penerapan program 5S sebagai pondasi TPM berkisar di nilai 65% untuk total area dan 61% untuk area produksi, sementara target yang ditetapkan adalah 85% untuk skor kepatuhannya. Hasil lainnya adalah implementasi pilar planned maintenance belum mencapai target sesuai standar, baik dari segi parameter availability dan performance rate. Pilar yang belum diterapkan di perusahaan ini adalah autonomous maintenance. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah PT XYZ belum secara efektif menerapkan TPM dalam operasional pabriknya. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlunya implementasi pilar autonomous maintenance dan penggantian komponen mesin secara terjadwal untuk memecahkan masalah yang ada di pabrik dan khususnya dapat difokuskan di area kerja kritis, yaitu dryer-cooler, area dengan durasi breakdown tertinggi, mean time to repair (MTTR) tertinggi, dan mean time between failure (MTBF) terendah.Kata kunci: area kerja kritis, OEE, pabrik gula rafinasi, produktivitas, TPM
Rancang Bangun Model Strategi Operasional Implementasi Lean Manufacturing Berkesinambungan Untuk Peningkatan Produktivitas Industri Pengolahan Kayu di Indonesia Aminudin Soetara; Machfud Machfud; M. Joko Affandi; Agus Maulana
Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) Vol. 5 No. 2 (2019): JABM Vol. 5 No. 2, Mei 2019
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/jabm.5.2.187

Abstract

The purposes of this research were to identify factors affecting the success and failure in implementing the continuous lean manufacturing (LM) of woodworking industry in Indonesia. This research applied Soft System Methodology (SSM) to construct PAM conceptual model (Purposeful Activity Model) through continuous implementations of Lean Manufacturing (LM) in Indonesia’s woodworking industry. The Purposeful Activity Model (PAM) has been compared with real world and verified by experts, practitioners and academicians. The results of Analytical Hierarchy Process (AHP) had determined the important roles of owners, and middle and top management. The commitment of middle and top management is required for the continuous implementation of Lean Manufacturing. The main strategic program includes employees’ lean basic training on its concept, philosophy, culture and basic techniques; in addition, the implementation of Lean Manufacturing should be in sequence to provide strong foundation to assure LM continuation. The results of Strategic Assumption Surfacing and Testing (SAST) indicated that there are 5 strategic assumptions which are required to assure successful LM implementation; i.e. the company’s maturity and readiness on lean foundation, supports from owners and executives to implement LM, harmonious working environment, the company’s good financial health condition, and being in an industrial environment running an excellent and proper Lean Manufacturing activities and systems.Keywords: AHP, lean culture, lean manufacturing, SAST, SSMAbstrak: Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan dan keberhasilan dalam implementasi lean manufacturing (LM) yang berkesinambungan pada industri pengolahan kayu di Indonesia. Studi ini menerapkan SSM (Soft System Methodology) yang menghasilkan model konseptual PAM (Purposeful Activity Model) implementasi LM berkesinambungan di industri perkayuan Indonesia. Model konseptual PAM telah dilakukan pembandingan dengan dunia nyata dan verifikasi dengan pakar, praktisi dan akademisi. Hasil AHP (Analytical Hierarchy Process) menunjukkan pemilik, manajemen puncak dan menengah sebagai aktor utama yang berperan, serta komitmen manajemen puncak dan menengah menjadi faktor utama yang berpengaruh dalam implementasi LM berkesinambungan. Strategi utama, yaitu (1) memberikan pelatihan kepada seluruh karyawan untuk mengikuti pelatihan dasar lean, konsep dan filosofi lean, budaya lean, dan teknik-teknik dasar LM serta (2) penerapan LM dasar secara bertahap sebagai pondasi yang kuat agar implementasi LM berjalan secara berkesinambungan. Berdasarkan hasil SAST (Strategic Assumption Surfacing and Testing) terdapat lima asumsi startegik sebagai prasyarat keberhasilan implementasi LM, yaitu Perusahaan telah memiliki tingkat kematangan atau kesiapan pondasi lean; Adanya dukungan pemilik perusahaan untuk mengimplementasikan LM; Kondisi kerja yang harmonis; Kondisi perusahaan yang sehat dari aspek finansial; Berada di lingkungan industri yang telah menjalankan excellent manufacturing atau sistem manufaktur yang baik dan benar.Kata kunci: AHP, lean culture, lean manufacturing, SAST, SSM