Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH POLA BAYANGAN TERHADAP SUHU PERMUKAAAN RUANG LUAR DI PERUMAHAN TAMAN CIPTO CIREBON EKA WIDIYANANTO
Teodolita ( Media Komunikasi Ilmiah di Bidang Teknik ) Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v14i1.145

Abstract

Pengetahuan yang mendalam terhadap kondisi ruang luar seperti pengaruh radiasimatahari, sifat bahan berupa daya serap dan konduktivitas pada daerah yang terbayangimaupun tersinari terhadap suhu permukaan ruang luar akan bermanfaat pada saatperencanaan lahan terutama untuk kawasan perumahan. Lokasi penelitian terletak diPerumahan Taman Cipto yaitu perumahan yang terletak di pusat kota Cirebon. Metodepenelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif sedangkan pendekatanpenelitian adalah causal-comparative atau membandingkan dan mencari hubungan antaravariable yang ada yaitu pola bayangan yang terjadi terhadap suhu permukaan. Dari hasilpenelitian dapat diambil kesimpulan bahwa suhu permukaan pada daerah yang terbayangibangunan lebih kecil dari suhu permukaan di daerah yang terbayangi pohon, hal inidikarenakan pola bayangan bangunan lebih masif atau padat jika dibanding dengan polabayangan pohon yang menyebar dan juga dipengaruhi oleh variable radiasi matahari,bilangan serap, lamanya waktu penyinaran serta konduktivitas bahan.Kata kunci : pola bayangan, suhu permukaan, radiasi matahari, sifat bahan
IDENTIFIKASI FAKTOR LINGKUNGAN KENYAMANAN THERMAL PADA RUANG RUANG DALAM KANTOR MARKETING DI JATIWANGI SQUARE Selbiana Yunita; Eka Widiyananto
Jurnal Arsitektur Vol. 15 No. 2 (2023): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kantor Marketing Jatiwangi Square merupakan tempat pemasaran yang berlokasi di kawasan Jatiwangi Square. Jatiwangi Square adalah kawasan komersial terpadu pertama yang menggabungkan fungsi komersial dan hunian, kawasan tersebut berdiri di lahan seluas 10.6 Ha terdiri dari perumahan, pertokoan, pusat perbelanjaan dan hotel serta kavling komersial siap bangun. Kabupaten Majalengka berada di iklim tropis lembab dan memiliki karakteristik suhu udara dan kelembaban udara yang tinggi, serta kecepatan angin yang rendah sehingga dalam perencanaan dan perancangan arsitektur haruslah adaftif terhadap karakteristik iklim tropis lembab tersebut agar kenyamanan termal dapat tercapai. Kenyamanan termal adalah suatu kepuasan pikiran yang manusia terhadap kondisi temperature di lingkungan sekitarnya. Tolak ukur kenyamana termal ialah keseimbangan antara suhu udara dan suhu tubuh manusia. Faktr-faktor yang mempengaruhi kenyamanann termal yaitu temperature udara, kecepatan angin, serta faktor manusia yaitu pakaian dan metabolisme. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kondisi kenyamanan termal penghuni pada kantor marketing. Penelitian dilakukan pada permukaan ruang dalam kantor marketing Jatiwangi Square selama 8 jam. Hasil penelitian ditemukan tingkat kenyamanan termal berada pada kondisi agak dan panas selama siang hari pada ruang depan serta pada ruang meeting jika tidak menggunakan Ac.
PENGARUH KELEMBABAN RUANG TERHADAP KERUSAKAN PLAFOND : Studi Kasus : Ruang Kerja Bidang Penataan Ruang Pada Gedung Dinas PUTR Kabupaten Cirebon Revina Ulfa Giardita; Eka Widiyananto
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lingkungan kantor yang kondusif dapat berdapat baik pada produktifitas karyawan. Salah satu cara Untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif terebut adalah dengan menciptakan ruang kerja yang nyaman. Namun, memiliki ruang kerja yang nyaman bukanlah sesuatu yang mudah. Salah satu yang mendasari kenyamanan ruang kerja adalah faktor lingkungan kenyamanan termal pada ruang kerja tersebut. Faktor lingkungan yang mempengaruhi kondisi kenyamanan seseorang terebut diantaranya suhu udara, kelembaban, aliran udara atau angin. Bangunan Bidang Tata Ruang pada Dinas PUTR Kabupaten Cirebon terbagi menjadi 2 fungsi ruangan yaitu ruangan yang berfungsi sebagai penerima tamu dan pemberian informasi yang berukuran 3 x 3 m dan dan ruang kantor utama. Kondisi ruangan yang terasa panas,kelembaban yang tinggi dan tidak adanya pergerakan angin memunculkan kerusakan pada area plafond ruangan yang ditandai dengan munculnya jamur pada plafond tersebut menjadi latar belakang penelitian ini. Metoda penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan mengukur faktor lingkungan kenyamanan termal pada ruangan tersebut. Penelitian menunjukan bahwa pada area dengan kelembaban tinggi dan tidak adanya ventilasi muncul jamur pada plafond yang jika dibiarkan maka akan merusak plafond tersebut dan keruntuhan plafond dapat membahayakan penghuni ruangan.
DAMPAK FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP KENYAMANAN TERMAL PADA RUANG AULA LANTAI 4 SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI CIREBON Adam Wais Alqorni; Eka Widiyananto
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aula merupakan ruangan yang multifungsi dapat digunakan untuk berbagai kegiatan mahasiswa di kampus,aula pada kampus Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon ditempatkan pada lantai tertinggi bangunan sehingga terik matahari akan terpapar terlebih dahulu pada lantai atas gedung kampus, kondisi ini akan mempengaruhi perolehan panas pada ruangan tersebut. Salah satu faktor penting yang memengaruhi produktivitas dan agar sebuah ruangan dapat digunakan dengan nyaman adalah Kenyamanan Termal. Faktor kenyamanan termal yang diukur dalam penelitian adalah faktor lingkungan yaitu, suhu udara, kecepatan angin, dan kelembaban udara. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi faktor lingkungan tersebut dan dampaknya terhadap kenyamanan termal berdasarkan kriteria kenyamanan menurut SNI 03- 6572 2001. Metode kuantitatif dekritif menjadi metode dalam penelitian ini, dengan mengukur variabel penelitian di lapangan selama dua (2) hari. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan dibandingkan dengan kisaran kenyamanan termal menurut SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi termal ruangan umumnya tidak memenuhi standar SNI. Suhu udara rata-rata berada pada kisaran 31,10°C, lebih tinggi dari batas maksimum kenyamanan. Kelembaban udara terukur berada pada kisaran 60–75%, melebihi standar kenyamanan yang dianjurkan. Rata-ratakecepatan angin pada sebagian besar waktu pengukuran adalah 0,01 m/s, menunjukkan aliran udara yang kurang optimal untuk memberikan efek pendinginan. Analisis menyimpulkan bahwa suhu udara merupakan faktor yang paling dominan menyebabkan ketidaknyamanan, diikuti oleh kelembaban udara, sementara kecepatan angin berperan sebagai faktor pendukung yang dapat meningkatkan kenyamanan apabila dioptimalkan.Secara keseluruhan, kondisi termal ruangandikategorikan tidak nyaman berdasarkan SNI 03-6572 2001. Kenyamanan dapat dilakukan melalui peningkatan ventilasi alami, penggunaan kipas atau sistem ventilasi mekanis dan pengurangan beban panas ruangan.