Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dimensi gender dalam novel-novel Indonesia Periode 1920-2000-an berdasarkan kajian kritik sastra feminis Muyassaroh Muyassaroh
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 2 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v7i2.16558

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang didasari oleh fenomena bahwa ideologi gender yang berlaku pada masyarakat dapat mewarnai karya sastra yang dihasilkan. Sebagai kreasi imajinatif, muatan ideologi gender yang diemban novel tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat saat karya itu diciptakan. Begitu pula, novel-novel Indonesia periode 1920—2000 merepresentasikan ideologi gender yang berkembang saat itu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  gambaran tokoh perempuan dalam novel-novel Indonesia periode 1920—2000 sebagai akibat adanya ideologi gender. Untuk mendeskripsikan hal tersebut, digunakan pendekatan kritik sastra feminis. Kritik sastra feminis ini berupaya membongkar ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan, sehingga mengakibatkan diskriminasi dan kekerasan pada perempuan yang terdapat dalam karya sastra. Ketimpangan gender yang terjadi disebabkan oleh dikotomi peran perempuan. Pada periode sebelum kemerdekaan, peran perempuan dibatasi pada sektor domestik, sedangkan sektor publik mulai didiami perempuan sesudah kemerdekaan. Sumber data penelitian ini adalah sebelas novel Indonesia yang diterbitkan pada periode 1920—2000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan yang digambarkan dalam novel-novel periode 1920—2000 berkutat pada kategori sektor domestik dan publik. Akan tetapi, kedua sektor yang didiami tokoh-tokoh perempuan mengalami perkembangan pesat. Eksistensi perempuan pada ranah pubik semakin kuat seiring dengan perubahan zaman. Sebaliknya, domestifikasi posisi dan peran perempuan semakin berkurang karena mereka mengaktualisasikan diri dalam masyarakat, bidang ekonomi dan pendidikan, serta menentukan pilihan.
DOMINASI IDEOLOGI FAMILIASME TERHADAP DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL-NOVEL INDONESIA DENGAN PENDEKATAN KRITIK SASTRA FEMINIS Muyassaroh Muyassaroh
Salingka Vol 18, No 2 (2021): SALINGKA, Edisi Desember 2021
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis diskriminasi yang dialami perempuan sebagai akibat adanya praktik ideologi familialisme di tengah masyarakat yang diceritakan dalam novel-novel Indonesia. Ideologi familialisme adalah ideologi yang menempatkan perempuan hanyalah sebagai istri dan ibu yang baik. Keberadaan ideologi ini menjadikan perempuan semakin terpinggir karena mengharuskan perempuan tunduk berada dalam rumah. Oleh karena itu, muncul gerakan feminisme yang berusaha melepaskan berbagai kontrol laki-laki dan menuntut kesetaraan gender. Sumber data penelitian ini adalah sebelas novel Indonesia yang terbit pada tahun 1920—2000. Metode dan teknik analisis yang digunakan, yaitu deskriptif kualitatif sehingga hasil penelitian adalah penjelasan berupa kata-kata bukan angka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ideologi familialisme yang menjadi penyebab terpinggirkannya perempuan dalam novel-novel Indonesia periode 1920—2000-an, meliputi perjodohan, poligami, kepatuhan mutlak istri pada suami, dan bergantung pada laki-laki.This study aims to analyze the discrimination experienced by women as a result of the practice of familial ideology in society told in Indonesian novels. The ideology of familialism is an ideology that places women only as good wives and mothers. The existence of this ideology makes women even more marginalized because it requires women to being in the house. Therefore, a feminist movement emerged, trying to release male controls and the demand of gender equality. The data sources of this research are eleven Indonesian novels published in 1920-2000. The method and analysis technique used are descriptive qualitative so that the results of the research are explanations in the form of words and not numbers. The results showed that the ideology of familialism become the cause of the marginalization of women in Indonesian novels for the period 1920-2000, including matchmaking, polygamy, absolute compliance of wives to husbands, and dependence on men.
Pemartabatan Bahasa Indonesia Melalui Pemakaian Kalimat Bahasa Indonesia Standar Mahasiswa dan Dosen IAIN Tulungagung Muyassaroh Muyassaroh
Belajar Bahasa Vol 5, No 1 (2020): BELAJAR BAHASA: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indones
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bb.v5i1.3031

Abstract

Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara membawa konsekuensi logis. Setiap penggunanya harus mampu menggunakan secara cermat dan tepat. Kecermatan menuangkan gagasan tersebut hanya dapat dilakukan kalau struktur bahasa (termasuk kaidah pembentukan istilah) sudah canggih dan mantap. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar (standar atau baku). Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi tuntutan bagi masyarakat akademik, seperti dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Hal ini karena mereka menjadi tolok ukur keberhasilan pemakaian bahasa standar atau baku. Akan tetapi, berdasarkan hasil analisis data ditemukan banyak kesalahan  dalam karya ilmiah dosen dan mahasiswa IAIN Tulungagung, mulai dari kesalahan ejaan, kesalahan kata, dan kesalahan kalimat. Kesalahan ejaan merupakan kesalahan paling dominan dengan persentase 48%. Selanjutnya, diikuti kesalahan kalimat dengan persentase 29% dan yang terakhir kesalahan kata dengan persentase 23%. Kesalahan ejaan ini mendominasi disebabkan oleh minimnya pengajaran ejaan apalagi tidak adanya pembahasan khusus materi tersebut. Akibatnya, penguasaan kompetensi ini juga kurang. Padahal untuk mewujudkan bahasa Indonesia yang bermartabat dibutuhkan perilaku berbahasa untuk menguasai kaidah bahasa sebaik mungkin. Kesalahan berbahasa yang terjadi di masyarakat akademik IAIN Tulungagung sebagai akibat sikap bahasa yang belum tumbuh. Oleh karena itu, pembinaan terus menerus harus dilakukan agar bahasa Indonesia bisa bermartabat di negeri sendiri khususnya di kalangan intelektual IAIN Tulungagung.