Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

DEPRIVASI RELATIF: RASA KEADILAN DAN KONDISI PSIKOLOGIS BURUH PABRIK Faturochman MA
Jurnal Psikologi Vol 25, No 2 (1998)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.811 KB) | DOI: 10.22146/jpsi.7500

Abstract

Indonesian labours are categorized as the poor people or absolutelydeprived. In the recent time, they are not only absolutely poor but also relatively deprived. The most observable indicator of relative deprivation of labour is the protest to the company or their employers. This article elaborates relative deprivation among labours by identifying negative and injustice feelings. The study finds that frustration, bored, sad, and angry are strong indicators of relative deprivation. Furthermore, the study find that relative deprivation amonglabours is attributed to wage-related factors created by the company.
DAMPAK SOSIAL PSIKOLOGIS PERKOSAAN Ekandari Sulistyaningsih; Faturochman MA
Buletin Psikologi Vol 10, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.461 KB) | DOI: 10.22146/bpsi.7448

Abstract

Selama beberapa tahun terakhir ini bangsa Indonesia banyak menghadapi masalah kekerasan, baik yang bersifat masal maupun yang dilakukan secara individual. Masyarakat mulai merasa resah dengan adanya berbagai kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Kondisi seperti ini membuat perempuan dan anak-anak menjadi lebih rentan untuk menjadi korban kekerasan. Perempuan yang berada di daerah aman juga dapat menjadi korban kekerasan, dengan kata lain masalah kekerasan terhadap perempuan ini merupakan masalah yang universal (Kompas, 1995;Muladi, 1997; Triningtyasasih, 2000).
KEPERCAYAAN SANTRI PADA KIAI Loubna Zakiah; Faturochman MA
Buletin Psikologi Vol 12, No 1 (2004)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.717 KB) | DOI: 10.22146/bpsi.7467

Abstract

Pesantren adalah fenomena sosio kultural yang menarik. Pada tataran historis, pesantren merupakan sistem pendidikan tertua khas Indonesia, yang eksistensinya telah teruji oleh sejarah dan berlangsung hingga kini. Banyak hal yang menarik dalampesantren dengan tradisinya yang unik hingga saat ini. Salah satunya adalah anggapan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional. Di sisi lain, pola khas pesantren sebagai lembaga pendidikan juga mencerminkan pengaruh asing, dan mungkin juga punya akar asing. Pesantren menyerupai madrasah India dan Timur Tengah. Sementara hampir sebagian besar kiai pengasuhnya menyelesaikan tahap akhir pendidikannya di pusat-pusat pengajaran Islam prestisius di tanah Arab.
Nasionalisme Anggraeni Kusumawardani; Faturochman MA
Buletin Psikologi Vol 12, No 2 (2004)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.588 KB) | DOI: 10.22146/bpsi.7469

Abstract

Permasalahan nasionalisme di Indonesia beberapa tahun terakhir menjadi fokus perhatian para sejarawan yang peduli dengan eksistensi negara Republik Indonesia. Kartodirjo (2001), seorang sejarawan senior dari UGM, mengungkapkan keprihatinannya terhadap pertikaian antar elit politik di Indonesia. Kartodirjo menilai bahwaetos nasionalisme para elit politik di Indonesia telah menipis, karenanya Kartodirjo menghimbau agar para elit polittik segera mawas diri dengan mempelajari kembali sejarah pergerakan nasional melalui biografi tokoh-tokoh pergerakan nasional.
SEMIOTIKA UNTUK ANALISIS GENDER PADA IKLAN TELEVISI Naomi Srie Kusumastutie; Faturochman MA
Buletin Psikologi Vol 12, No 2 (2004)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.358 KB) | DOI: 10.22146/bpsi.7473

Abstract

Salah satu persoalan gender yang justru mengekalkan ketimpangan gender adalah tayangan iklan di televisi. Iklan sebagai cara untuk memasarkan produk pada satu sisi berusaha ‘tampil beda’ agar menarik tetapi pada sisi lain mengekalkan stereotip danketimpangan gender. Bila usaha tampil menarik dari iklan terbukti dan diakui, iklan yang bias gender pada umumnya tidak disadari dan disangkal. Banyak cara untuk memahami persoalan gender yang terus berkembang akhir akhir ini. Kunci untuk ini adalah berpikir kritis. Semiotika pada dasarnya adalah cara untuk meilhat dengan detil dan kritis terhadap sesuatu yang tersurat. Dengan kesadaran gender, semiotika dapat menjadi salah satu metode untuk mengungkap persoalan ketimpangan gender yang terdapat pada sebagian besar tayangan iklan.